Buntut OTT DAK Aceh Barat Polisi Segera Periksa Kadis Pendidikan

Kapolres Aceh Barat, AKBP H. Raden Bobby Aria Prakasa memegang barang bukti uang tunai hasil OTT, di Meulaboh, Kamis (23/8). DENI SARTIKA/RAKYAT ACEH

MEULABOH (RA) – Kapolres Aceh Barat AKBP H. Raden Bobby Aria Prakasa, mengaku bertambah semangat melakukan pemeriksaan kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT), praktik pungli Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2018 di Dinas Pendidikan setempat.

Apalagi pihaknya mengamankan barang bukti Rp157 juta hasil operasi tersebut. Menurutnya, uang tersebut merupakan hasil kutipan tersangka dari 21 sekolah.

Saat menjalankan aksinya, tersangka mengutip Rp1 juta hingga Rp2 juta setiap sekolah. Sementara pelaku pengutipan merupakan seorang pegawai honorer atas perintah pimpinan.

Lima pelaku yang telah ditetapkan tersangka diantaranya, MN (Kasi Sarpras Dinas Pendidikan Aceh Barat), RS (operator bidang Sarpras Dinas Pendidikan Aceh Barat), MB (kontraktor), ZS (Kepala SD Ranto Panyang II Meureubo) dan AL (Kepala SKB Kabupaten Aceh Barat).

Selain uang polisi juga amankan bukti dua lembar catatan SD dan SMP yang akan memberikan kucuran dana pungli DAK tersebut. selanjutnya, juga dokumen perjanjian bantuan lampiran, SP2D dan bukti kuitansi penerimaan uang Rp20 juta dari tersangka MB kepada ZL.

Kapolres Aceh Barat menyatakan, keberhasilan mengungkap dugaan praktik pungli ini, berdasarkan hasil dari laporan masyarakat, yang mencium adanya tindak pidana korupsi yang besumber dari DAK bidang pendidikan Tahun 2018.

Tindakan penangkapan berawal dari RS, saat hendak melakukan pengutipan uang di masing-masing kepala sekolah selaku penerima dana alokasi khusus bidang pendidikan.

Saat melakukan penangkapan, sambung Bobby, RS bersama dengan beberapa pihak sekolah serta seorang diantaranya merupakan tersangka. Namun hasil pemeriksaan, RS membeberkan ada keterlibatan pihak lain yang sudah menyerahkan uang tunai, yaitu ZL dan AL. “Makanya berbuntut panjang sampai mengamankan keduanya,” ujarnya, Kamis (23/8).

Hasil pemeriksaan awal, menjelaskan jika pemberian uang kepada RS diduga untuk biaya penggadaan kontrak dokumen dengan maksud kelancaran administrasi dalam mengelola pekerjaan, yang mendahului sebelum adanya pencairan DAK fisik bidang pendidikan.
“Karena pekerjaan tersebut dilakukan sebelum adanya uang masuk di rekening sekolah penerima,” urai Bobby.

Ia merincikan, dari jumlah uang tunai sebesar Rp157 berasal dari empat tersangka. Dari tangan MB diamankan uang sebesar Rp127 juta, ZL Rp20 juta, RS Rp2 juta, AL Rp3 juta. Sedangkan MN, diamankan dua lembar catatan SD dan SMP yang akan memberikan dan DAK kepada RS.

Seluruh tersangka telah ditahan di Mapolres Aceh Barat untuk mempermuda proses pemeriksaan. Mereka terjerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman pidana antara 1 hingga 5 tahun kurungan penjara.

Pengembangan kasus ini tidak terhenti pada lima tersangka tersebut, tapi sambung Bobby, masih tetap berlanjut dengan Pemeriksaan Kabid Program Dinas Pendidikan sebagai saksi. Sementara Kadis Pendidikan Aceh Barat, belum berhasil panggil, akibat mendadak masuk ke rumah sakit.

”Rencananya akan dikirim surat undangan pemanggilan Kadis Pendidikannya, Senin (27/8) mendatang,” tutup Bobby. (den/mai)