BkkbN Aceh Dekatkan Akses Pelayanan Lansia

Temu Kelanjutusiaan tahun 2018 dengan mengangkat tema "Melalui Keluarga Mari Wujudkan Lansia Tangguh Yang Sejahtera, Mandiri dan Bermartabat" yang digelar di Banda Aceh. Rakyat Aceh

BANDA ACEH (RA) – Temu Kelanjutusiaan tahun 2018 dengan mengangkat tema “Melalui Keluarga Mari Wujudkan Lansia Tangguh Yang Sejahtera, Mandiri dan Bermartabat” yang digelar di Banda Aceh pada 20 Agustus lalu telah berakhir.

Guna cepat tercapainya program tersebut kepada masyarakat, BkkbN Aceh mendekatkan akses pelayanan dengan inovasi.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BkkbN Aceh, Drs Sahidal Kastri MPd di Banda Aceh, Senin (27/8). Pada kesempatan itu Sahidal juga menyebutkan jumlah penduduk Lanjut Usia (Lansia) di Indonesia akan semakin meningkat. Untuk itu dia berharap pemerintah daerah agar menjadikan Aceh sebagai daerah yang ramah terhadap Lansia.

“BkkbN di dalam Program Pembangunan Keluarga ada subtansi program bagi keluarga yang memiliki Lansia yaitu, Bina Keluarga Lansia atau BKL. Kita berharap pemerintah daerah dan masyarakat mendukung dan mensukseskan program ini, agar Lansia di Aceh tangguh, sejahtera, mandiri, dan bermartat,” kata Sahidal.

Dokumentasi Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 (data Bappenas, BPS dan UNFPA) yang diluncurkan Presiden RI pada 29 Januari 2014 lalu, Sahidal menyebutkan, jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas sebesar 18,2 juta jiwa.

Diprediksi 2030 jumlah Lansia sudah melebihi dua kali lipat yaitu sekitar 40,1 juta jiwa. Pada masa itu proprosi Lansia di Indonesia sudah mencapai 10 persen dari total populasi di Indonesia.

Sejalan dengan itu, lanjut Sahidal, jumlah penduduk yang memasuki Lansia mencapai angka 16,13 persen dan disusul dengan jumlah Lansia yang mencapai 8,43 persen dari total jumlah penduduk Indonesia (sumber BPS).

“Jumlah penduduk Lansia yang meningkat dapat memberi dampak positif dan negatif. Positif, apabila Lansia berada dalam keadaan sehat, aktif, dan produktif. Negatif, sebaliknya, Lansia akan menjadi beban apabila mengalami berbagai masalah kesehatan, ekonomi, sosial dan lingkungan,” jelasnya.

Deputi KS-PK (Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga) BkkbN, Dr dr M Yani MKes PKK, didampingi Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan, Dra Widati MM mengatakan, persoalannya dengan penduduk usia lanjut, pada Lansia disamping jasa-jasanya kepada keluarga, 40 persen dalam kondisi cukup sehat dan sisanya Lansia, memiliki penyakit, minimal bawa satu penyakit.

Sebut Yani, terkait penyakit sendi atau rematik. Radang pada kulit, Darah Manis (DM), jantung, dan jenis penyakit lainnya. Biar saat Lansia tetap sehat, Yani menyarankan agar sejak usia muda menjalani pola hidup sehat. Menjaga pola makan yang sehat, tidak merokok dan berolahraga.

“Sebagian dari Lansia, membutuhkan orang lain. BkkbN bersama kementerian terkait, Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan, mempunyai program Lansia yang tujuannya menjadikan Lansia di Indonesia tangguh, sejahtera, mandiri, dan bermartabat.

“Sosok manusia produktif di usia itu berada dalam kondisi yang sehat. Aceh harus menjadi contoh daerah yang ramah terhadap Lansia. BkkbN dalam hal ini tidak bisa bekerja sendiri, selain dukungan mitra kerja, juga dari pemerintah daerah dan masyarakatnya.

Sebab Bina Keluarga Lansia, yang kita kuatkan adalah keluarga yang memiliki Lansia. Para keluarga inilah yang dibina, selain para Lansianya,” katanya. (ril/bai)