Perjuangan Husaini Merawat Anak Lumpuh

Abi Syukran kiri mendampingi keluarga Husaini bersama Anak- anaknya di desa Alue Buloh Sa, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, Kamis, (6/9). Maulana Rakyat Aceh

“Untuk saat ini saya tidak ada lagi uang. Dulunya meteran listrik rumah mertua sempat saya jual untuk biaya pengobatan. Tak apa – apa kami hidup dalam gelap asalkan anak kami sembuh,” ucap Husaini dengan mata berkaca.

Maulana Amri – Aceh Timur

Jasril Muna, 14 tahun dan Muhammad Danil 11 tahun, lemas di atas kursi roda. Mereka adik-abang yang sedang didera penyakit lumpuh asal Alue Buloh Sa, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.

Dengan kondisi fisiknya yang lemah, mereka hanya bisa pasrah menerima takdir. Nyaris mustahil baginya untuk bisa bersekolah seperti anak-anak lain di desanya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, semua aktivitas harus bergantung pada bantuan orang tuanya.

Anak dari pasangan Husaini Nurhadi, sejak usia 8 tahun diduga sudah menderita kelumpuhan. Tangan dan kakinya tidak dapat berfungsi layaknya orang normal. Bahkan, gangguan pada fisiknya itu juga telah mempengaruhi organ lainnya. Tak jarang keduanya sering jatuh di sekolah karena kondisi otot lemah.

Husaini dan Nur Hadi membangun rumah tangga pada 11 tahun silam, dari buah perkawinannya mereka dikaruniai empat orang anak. Tiga anak laki-laki dan satu perempuan.

Bersama empat si buah hatinya itu, Husaini bersandar hidup di rumah mertuanya di Desa Alue Buloh Sa. Akibat keterbatasan ekonomi dan ditambah lagi kebutuhan obat untuk anaknya, membuat dirinya terpaksa tinggal bersama rumah panggung kayu milik mertuanya.

Husaini sang Ayah , bercerita bahwa penyakit yang diderita anaknya bukan bawaan sejak lahir. Namun saat memasuki usia 9 hingga 10 tahun, gejala sakit mulai dirasakan.

Jasril Muna anak tertua, mengalami lumpuh sejak usianya sekitar 10 tahun. Bahkan, kala itu Ia sempat mengenyam pendidikan hingga kelas tiga pada sekolah dasar. Namun apalah daya, penyakit yang dideritanya membuat Jasril tidak bisa melanjutkan pendidikan.

Begitu pula dengan Muhammad Danil juga sempat tumbuh normal seperti anak kebanyakan. Namun ia juga tiba-tiba kesulitan berjalan dan beraktivitas. Padahal, sebelumnya, kedua itu sehat dan gemuk.

Sedangkan anak yang nomor tiga Ismuhar yang usianya 8 tahun kini juga telah mulai gejala penyakit yang sama dengan abang -abangnya. Tak jarang juga dia harus dipapah guru di sekolahnya.

“Gejala awalnya hampir sama. Ketika memasuki usia rata-rata 9 sampai 10 tahun, mereka sering jatuh kemudian tiba-tiba kesulitan menggerakkan anggota tubuh, terutama bagian kaki untuk berjalan, ini tinggal adiknya yang nomor tiga sudah mulai gejala,” tutur Husaini, Kamis (6/8).

Husaini mengaku berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengobati kedua sibuah hatinya. Mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan tradisional, tetapi tidak membuahkan hasil. Bahkan Tim Medis menyarankan anaknya untuk dirujuk ke RSU Adam Malik Medan.

“Sudah sering saya membawa mereka berobat ke Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh, dan juga rumah sakit lain Di Lhokseumawe. Tapi mereka menyuruh kami untuk kerumah sakit Medan, dengan dalih mereka tidak mengetahui diagnosa penyakit apa,” imbuh Husaini didampingi istrinya, Nurhaidah.

Meskipun demikian, Husaini masih sangat mengharapkan kedua hatinya mendapatkan kesembuhan, namun apa daya kesulitan ekonomi yang menderanya selama ini menjadi hambatan terbesar bagi keluarganya. (mai)