Pembangunan PLTA Peusangan Capai 63 Persen

Proyek PLTA Peusangan

TAKENGON (RA) – Realisasi pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Peusangan di Angkup Desa Wih Porak, Silih Nara, Takengon, sudah mencapai 63 persen.

Puluhan jurnalis tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh berkesempatan melihat secara langsung proses pembangunan pembangkit Jumat (7/9/2019). Kegiatan media tour ini difasilitasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera.

General Manager PT PLN UIP Pembangkit Sumatera, Weddy B Sudirman dan GM PLN Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi turut mendampingi para jurnalis. Para awak media diberikan kesempatan masuk dalam terowongan pembangunan proyek PLTA Peusangan hingga kedalaman 700 mater di bawah tanah.

Saat memberikan pemaparan di base camp, Weddy menyampaikan bahwa proyek PLTA Peusangan 1&2 memang sudah cukup lama dimulai, atau sejak tahun 1998, namun sempat terhenti akibat
banyak faktor, salah satunya konflik Aceh.

Pasca damai atau tahun 2011 proyek tersebut dilanjutkan, namun lagi – lagi terhambat lantaran gempa melanda kawasan tersebut pada tahun 2013 sehingga mengubah kontur tanah. Kondisi itu mengakibatkan PLN harus melakukan
perencanaan ulang.

Saat ini, pembangunan mega proyek PLTA yang terdiri dari dua unit pembangkit, yakni pembangkit 1 dan 2 sudah banyak kemajuan. Progresnya sudah mencapai 63 persen.

Kalau dilihat dari atas, pembangunn proyek memang tidak nampak, karena pembangunan fokus dilakukan di bawah tanah.” Ada anggapan ini proyek mangkrak. Ini sama sekali tidak benar, makanya kami ajak kawan – kawan jurnalis untuk melihat secara langsung di lokasi. Pembangunan di bawah tanah inilah yang membuat sedikit terhambat,” kata dia.

Disebutkan, nantinya energi listrik dihasilkan dari PLTA Peusangan adalah 88 megawat. Listrik dihasilkan akan disalurkan ke GI Takengon dan Bireuen untuk masuk ke sistem intetkoneksi Sumatera. Kebutuhan listrik Aceh Tengah adalah 12 megawat.

Pembangunan PLTA Peusangan diakuinya memang sedikit agak rumit, butuh area yang luas dan terkadang sering bergesekan dengan masyarakat. Namun persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Proyek ini didanai dengan dana pinjaman dari Jepang dan Pemerintah Pusat, kontraktor pelaksana adalah Hyundai bekerjasama dengan kontraktor lokal yaitu PP.

“PLTA Peusangan direncanakan akan beroperasi pada 2021. Masih panjang dan butuh stamina lebih PLN. Mohon dukungam agar PLN dapat menyelesaikannya tepat waktu,” pintanya.

Sementara itu GM PLN Wilayah Aceh menyampaikan beban puncak Aceh saat ini adalah 400 megawat. Sebanyak 100 Mw masih disuplai dari Medan, Sumatera Utara.

Kedepan, dengan rampunya PLTA Peusangan, Arun dan Krueng Raya, maka akan semakin meningkatkan keandalan sistem kelistrikan Aceh.

Pertumbuhan listrik Aceh cukup bagus, dari tahun lalu hanya tiga persen, Sampai Aguatus 2018 sudah berada diangka 8 persen. Pertumbuhannya bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi Aceh yang menurut data Bank Indonesia (BI) adalah 5 persen.

Lebih lanjut Jefri mengharapkan, dengan semakin banyaknya pembangkit dan listrik dihasilkan, maka diharapkan dapat diikuti dengan pertumbuhan industri sehingga pertumbuhan ekonomi Aceh kian baik. (slm)