Enam Pasien Pasung di Bireuen Dilepas – Dampak Konflik, Tsunami dan Napza

PAPARAN : Dokter RSJ Aceh dr Rina Hastuti, SpKJ tengah menyampaikan advokasi penanganan pasien ganguan jiwa, Rabu (12/9) pagi di Aula Dinas Kesehatan Bireuen. RAKYAT ACEH/RAHMAT HIDAYAT

BIREUEN (RA) – Enam pasien gangguan jiwa dipasung keluarganya di Bireuen, dibebaskan tim Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh, Rabu (12/9) kemarin. Hal serupa sebelumnya juga telah dilakukan di Nagan Raya dan Aceh Utara.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari rencana pembebasan 82 pasien gangguan jiwa yang terpasung di seluruh Aceh,” ujar Humas RSJ Aceh Azizurrahman, kepada wartawan di Bireuen, saat mengelar acara pelepasan pasien pasung dan advokasi paska rawatan di RSJ Aceh, pemateri dr Rina Hastuti, SpKJ dokter spesialis jiwa.

Dijelaskan juga bahwa dari data 82 orang pasien diserahkan ke RSJ tahun 2018, nantinya akan dibebaskan 51 orang di tahun 2018 untuk sisanya dibebaskan tahun depan. Dalam kedatangannya ke Bireuen, tim RSJ turut membawa dokter spesialis jiwa, agar nantinya tidak ada lagi pasien terpasung di wilayah Bireuen.

dr Rina Hastuti,SpKJ dalam pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan Bireuen dr Amir Addani,M.Kes, dokter dan kepala puskesmas, camat dan unsur terkait lainnya, Rabu (12/9) pagi di Aula Dinkes, memberikan advokasi kepada dokter dan petugas kesehatan lainnya yang bertugas di Bireun tentang penanganan pasien jiwa.

Selanjutnya pasien dibebaskan ini dibawa ke RSJ Aceh untuk diobati dan diharapkan dengan advokasi diberikan dokter spesialis jiwa nanti pasien yang sembuh dan dibawa kembali kekeluarga tidak akan di pasung lagi.

Lanjutnya lagi alasan keluarga memasung pasien karena tidak sangup menjaga dan sering menganggu lingkungan. Dari sisi kemanusian pemasungan pasien sangat dilarang menginggat pasien jiwa juga sama seperti manusia lain yang lagi di uji oleh Allah SWT dengan penyakitnya.

Sesuai data penjemputan pasien pasung di Bireuen yakni M Khadafi Bin Usman (35) dan Fatimah (58) Desa Blang Cirih, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, juga Safwan Bin Ibrahim (32) Desa Pulo Reudep Kecamatan Jangka.

Selanjutnya Irwansyah (42) Desa Lampoh Oe Jeunieb, Zulkifli (33) Desa Gampong Baroe Peudada dan Mulyadi (35) Desa Meunasah Barat, Kecamatan Simpang Mamplam, rinci Azizurrahman.

Sementara itu dalam advokasinya dr Rina Hastuti,SpKJ diantaranya menjelaskan bahwa, sesuai Undang-undang Nomor 18 tahun 2014, tentang kesehatan jiwa, mendapat perlindungan dari setiap bentuk penelantaran, kekerasan, eksploitasi, serta diskriminasi.

Disebutkan, berdasarkan hokum di Indonesia barang siapa yang memasung orang lain akan dikenakan dihukum penjara selama-lamanya delapan tahun. Bahkan jika sampai menyebabkan kematian akan dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

Dokter spesialis jiwa RSJ Aceh dr Rina Hastuti,SpKJ juga menyampaikan ganguan jiwa itu ada karena dampak ekses konflik Aceh, dan tsunami serta Napza. Kondisi jumlah tempat tidur di RSJ Aceh ada 354 dengan jumlah pasien rawat inap 369 orang (sensus harian) dan pasien yang dirawat inap dari Bireuen 12 orang. (rah/min)