Jaringan Sabu Malaysia Sasar Aceh

Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan BNNP Aceh, kunjungan kerja ke Narcotics Criminal Investigation Department (NCID) of Royal Malaysia Police, Special Branch of Royal Malaysia Police, Narcotics Anti Drugs Agency (NADA) dan Central Narcotics Bureau of Singapore (NCB). Foto: Dok

Badan Narkotika Nasional (BNN) –  Pusat dan BNNP Aceh, kunjungan kerja ke Narcotics Criminal Investigation Department (NCID) of Royal Malaysia Police, Special Branch of Royal Malaysia Police, Narcotics Anti Drugs Agency (NADA) dan Central Narcotics Bureau of Singapore (NCB), sejak 19 hingga 21 September lalu. Kami bersepakat, memberantas barang haram itu baik di Malaysia, Singapura dan Indonesia.

 

 

 

Ka BNNP Aceh, Brigjen Faisal Naser – Malaysia

Bandara Kuala Lumpur, Malaysia layani ratusan penerbangan setiap harinya. Wajar bila pengawasan sangat ketat. Bahkan lebih ketat dari bandara Changi di Singapura.
Rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Aceh termasuk ramai berkunjung ke negeri jiran tersebut. Selain untuk berwisata juga berobat. Saat kami melakukan pertemuan dengan badan narkotika setempat, ada beberapa cerita menarik tentang warga Aceh yang tinggal di Malaysia dan Singapura.
Seorang Direktur di Badan Narkotika Malaysia, menceritakan kalau orang Aceh paling cepat dapat kawan. Termasuk sangat berani dalam segala urusan. Orang Aceh pintar bicara dan bernegosiasi, serta pemberani sehingga semua urusan menjadi lancar.
“Kami sangat takut jika dengar narkoba karena hukumannya sangat berat. Tetapi bagi orang luar (Indonesia) ditembak pun tak takut,” ujar seorang direktur narkotika Malaysia sambil tertawa.

 

 

Dalam pertemuan ini juga dibahas pengungkapan kasus shabu dan ekstasi pada bulan 4 Agustus 2018 jaringan Juliar Mansyah Dumai dengan jumlah tersangka empat orang. Diantaranya Juliarmansyah, Darma putra, Siswanto, dan Ricky Salahudin. Barang bukti sejumlah 30 kg shabu melalui jalur penyelundupan dari Port Klang, Malaysia ke Kabupaten Rokan Hilir, Pekanbaru.

 

 

 

Modus operandinya menggunakan speed boat dari Port Klang ke Tanjung Balai menggunakan kapal kayu ke Panipahan. Indonesia mengharapkan kerja sama NCID dalam pengawasan perbatasan laut karena jalur laut sebagai jalur penyelundupkan narkoba dari Malaysia ke Indonesia ataupun sebaliknya.

 

 

Kemudian kasus penangkapan Chandra (WN Malaysia) pada bulan Mei 2018 di atas Kapal di pinggir pantai Penang dengan barang bukti sebanyak 92 Kg Shabu. Pengembangan kasus Chandra ditangkap Imran dan Junaidi pada bulan Juni 2018 di Condominium di Penang dengan barang bukti uang senilai Rp12 Miliar.

 

 

Indonesia sangat mengharapkan adanya informasI terkait dengan kasus ini, karena ditenggarai Chandra merupakan ketua sindikat peredaran narkoba di Indonesia dan Malaysia dan masih mengoperasikan jaringanya meski dalam penjara.

 

 

Satu lagi permintaan Indonesia, untuk sama-sama meningkatkan pengawasan Money Changer. Sebab digunakan sebagai sarana tindak pidana pencucian uang hasil kejahatan narkoba selain bank.

 

 

Di negeri jiran itu, kami juga bertemu dengan dua duta besar Indonesia untuk Malaysia dan Singapura. Merekalah yang menginformasikan tentang bagaimana perspektif negara tersebut terhadap bahaya narkoba.

 

 

 

Menurut saya, narkoba ini dampaknya sangat luas, bukan soal generasi muda saja. Kalau tertulis saja diberita, ini berdampak pada ekonomi mereka. Bisa anjlok nilai mata uangnya, ekonominya.

 

 

Presiden kita juga sudah menyatakan agar menembak mati bandar narkoba. Kenapa? sudah hampir 7 juta jiwa generasi kita yang terkena narkoba. Itu hasil riset baru-baru ini.
Di Aceh, peredaran narkoba juga cukup mengerikan. BNNP Aceh mencatat 73 ribu warga Tanah Rencong menjadi pecandu. Dari jumlah itu, 321 orang yang direhab.

 

 

Kenapa bisa seperti ini? Karena kita tidak punya panti rehab. Saat ini di Banda Aceh baru ada sekitar lima panti panti rehab bagi pecandu narkoba. Jumlah ini masih sangat sedikit dibanding jumlah pecandu. Saya berharap Pemerintah Provinsi Aceh membangun sebuah panti untuk merehab para pemakai narkoba.

 

 

Saat ini Aceh sudah menjadi tempat transit peredaran narkoba. Bahkan setelah masuk Tanah Rencong, barang haram tersebut dapat kembali di bawa hingga ke Australia.(mai)