Nazli Ismail, Peneliti Unsyiah: Sering Melanda Saat Gempa

Peta mikrozonasi kerentanan penurunan permukaan tanah akibat likuifaksi untuk wilayah Banda Aceh. (repro)

BANDA ACEH (RA) – Tanah bergerak (likuifaksi) yang terjadi di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tenggah, menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Nazli Ismail peneliti Geofisika Kebumian Usyiah, menyebutkan di Aceh sebenarnya sudah pernah terjadi.

Ia mencontohkan, saat gempa di Bener Meriah dan Takengon, gempa di Pidie Jaya.
Likuifaksi, merupakan tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan. Akan terjadi bila ada goncangan gempa.

“Kalau gempa tidak tahu kapan terjadi dan dimana. Namun di Aceh merupakan kawasan yang rawan terhadap terjadinya gempa,” sebutnya.

Sebagai manusia yang hidup di atas bumi yang rawan terhadap terjadi bencana alam, katanya wajib mengetahui cara agar selamat dari goncangan gempa. Caranya jangan hanya belajar terhadap cara evakuasi diri, juga harus diperhatikan struktur tanah bila mendirikan bagunan.

“Untuk di Banda Aceh, kita lihat masih wajar, namun ada beberapa tempat yang tidak mempedulikan struktur tanah, seperti pembagunan di kawasan Lampriet dan pesisir pantai. Di Lampriet dan pesisir pantai, di sana terdapat lapisan tanah pasir dan campuran pasir dan tanah, tidak cocok untuk didirikan vertikal hanya bisa horizontal,” sebutnya.

Bila sewaktu-waktu terjadi gempa kawasan tersebut akan rentan terhadap likuifaksi. Bila tidak perhatikan maka akan banyak korban.

“Kawasan kerentanan tertinggi terdapat di Kecamatan Kuta Alam, Syiah Kuala dan Banda Raya, bila dibangun bagunan seperti kawasan lain maka akan rentan, contohnya seperti kaki bebek dan ayam, bebekan berjalan di lumpur tapi ayam tidak bisa.

Makanya bila bangunannya tidak memperhatikan kondisi tanah makanya akan terjadi lumpur,” sebutnya.

Selain milik pribadi, bangunan pemerintah juga rentan. Maka ia berharap pemerintah tak mudah memberikan izin pembangunan.

“Itulah menjadi tugas kita bersama, jika membangun serta membeli rumah lihat struktur tanah, bila rawan jangan membeli, karena kita di sini lihat dari harganya jika murah beli terus, padahal bagunannya tidak sesuai dengan tanah di sana,” ujarnya. (ibi/mai)