Cara Jogja Kemas Wisata Budaya

Suasana pembukaan Wayang Jogja Night Carnival #3. FOR RAKYAT ACEH

SUASANA Kota Yogjakarta nampak berbeda pada Minggu 7 Oktober 2018, tampilannya pada malam hari semakin cantik dengan  hiasan sorotan lampu aneka warna hingga video mapping di Tugu Pal Putih. Masyarakat dan wisatawan, nampak tumpah ruah pada  sisi kiri dan kanan. Jalanan yang siang harinya begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan, kini telah dipenuhi lautan  manusia, kehadiran mereka adalah untuk menyaksikan Wayang Jogja Night Carnival #3.

SULAIMAN MUHAMMAD – YOGJAKARTA

DALAM rangka peringatan hari jadi 262 Kota Yogjakarta, Sulaiman Muhammad (wartawan Rakyat Aceh) berkesempatan untuk  menghadiri undangan khusus Pemerintah Kota Yogjakarta. Kegiatan ini juga dihadiri jurnalis se – Indonesia dan negara –  negara sahabat.

Beragam event dihelat untuk memperingati hari jadi Kota Yogjakarta, rangkaian mulai dilaksanakan sejak 1 Oktober sampai 31 Oktober 2018. Salah satunya adalah Wayang Jogja Night Carnival #3 yang dilaksanakan pada Minggu (7/10/2018). Kegiatan ini  berlangsung sejak pukul 18.00-21.00 WIB. Rute yang ditempuh yakni Jalan Jenderal Sudirman, Tugu Paal Putih, dan berakhir di Jalan Margoutomo.

Event tahunan ini dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY) Sri Sultan HB X dan Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, ditandai dengan pemukulan gong. Kegiatan yang di pusatkan di Tugu Yogjakarta ini adalah puncak peringatan hari jadi 262 Kota Yogjakarta.

Antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi, termasuk para wisatawan domestik dan mancanegara, mereka terlihat membaur bersama warga setempat untuk menyaksikan karnaval kesenian yang mengusung tema pewayangan. Karnaval diikuti 1.400 peserta dari 14 kecamatan di Kota Jogyakarta. Konsep diusung adalah street art, yakni seni pertunjukkan ditampilkan di jalanan.

Para wisatawan, nampak kagum dengan parade kostum, dan koreografi beragam disajikan peserta pawai. Rangkaian pembukaan parade menghadirkan Narasinga, atau perwujudan berkepala singa yang merupakan penjelmaan Dewa Wisnu.

Ibu kota dan pusat pemerintahan DIY ini menjadi salah satu daerah di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan, baik itu domestik maupun mancanegara. Pada tahun lalu saja, ada 3,5 juta pelancong padati berbagai destinasi wisata.

Banyaknya pelancong yang datang, tentu tidak terlepas dari upaya keras dilakukan pemerintah setempat. Sepanjang tahun,  Pemerintah Yogjakarta menggelar berbagai even untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kota Yogyakarta. Jadi, wisatawan  yang datang ke daerah tidak hanya mengunjungi berbagai objek wisata, wisatawan juga disuguhkan dengan ragam atraksi  budaya.

Kini, kota yang secara geografis terletak di lembah tiga sungai, yaitu Sungai Winongo, Sungai Code dan Sungai Gajahwong  genap berusia 262 tahun. Daerah ini sejak lama terkenal sebagai sebuah daerah yang kaya akan wisata budayanya. Beragam inovasi-pun dilakukan untuk terus memberikan warna baru bagi dunia parisata, tujuannya adalah untuk dapat menarik minat  wisatawan berkunjung.

Meski begitu, kearifan lokal masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai budaya, hal ini dibuktikan  dengan ribuan masyarakat yang berasal dari 14 kecamatan ikut serta dalam kirab akbar  para tokoh pewayangan. Alunan musik  tradisional  dibalut dengan kesenian era milenial menjadikan pertunjukan kolosal ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya itu, aksi flasmop juga ditampilkan pada sela-sela pertunjukan membuat para penikmat acara terus bersemangat ,  tidak terkecuali para tamu undangan.

Dalam sambutanya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamingkubuono X mengatakan Kota Yogyakarta telah berkembang sebagai poros  kesenian dan kebudayaan , hal ini merupakan potensi yang dapat dipromosikan ke mancanegara, setiap tahunya jumlah  wisatawan domestik maupun macanegara selalu bertambah. Dengan adanya pagelaran seni yang sudah dilaksanakan yang ketiga  kalinya ini, maka Jogja akan semakin maju. Dalam kesempatan itu, Sultan juga meminta seluruh elemen masyarakat menjaga

Kota Yogyakarta dan mewujudkannya sebagai  kota yang layak huni, bukan hanya untuk pensiunan saja tapi juga seluruh  masyarakat di dalamnya.

Semantara itu Walikota Yogyakarta Hariyadi Suyuti dalam sambutanya mengatakan bukan Oktober merupakan bulan untuk  mempromosikan potensi parawisata Kota Yogyakarta, banyak pagelaran yang dilaksanakan  namun puncak klimaks dari seluruh  kegiatan adalah Wayang Jogja Nigth Carnaval.

Suksesnya acara ini, kata walikota, tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang diberdayakan, mereka telah mempersiapkan  sejak dari bulan Maret dan pementasan ini, pantas untuk diapresiasi. Lanjut walikota, kota ini tengah menggali potensi lain yaitu mengembangkan kopi, hingga nanti tercipta slogan “ jika  mencari kopi terbaik datanglah ke Malioboro” upaya ini telah dilakukan dengan membagikan beberapa bubuk kopi ke seluruh  pedagang pada jalan Malioboro.

Sementara itu kepala bidang (Kabid) pemasaran dan bisnis Dinas Parawisata Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan. Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun sejak 2016 tersebut diselenggarakan dalam konsep “street art” dengan rute simpang  tiga Jembatan Gondolayu di Jalan Sudirman, menuju ke Tugu Yogyakarta dan finish di Jalan Margo Utomo. “Rute yang dilalui  tidak terlalu panjang sehingga perkiraan 60.000 penonton sudah cukup maksimal sesuai kapasitas lokasi,” kata Yetty.

Panitia menyiapkan tiga panggung di sepanjang rute. Peserta karnaval yang berasal dari perwakilan setiap kecamatan di Kota Yogyakarta akan menampilkan koreografi sesuai dengan tema wayang yang diangkat. Di Yogyakarta terdapat 14 kecamatan. Tiga panggung yang akan menjadi titik “display” peserta karnaval berada di depan gedung bekas Indosat di Jalan Jenderal Sudirman, di depan Tugu Pal Putih dan di depan kantor KR di Jalan Margo Utomo.

Dalam penyelenggaraan Wayang Jogja Night Carnival#3, tema atau tokoh wayang yang akan ditampilkan berbeda dengan tokoh  wayang tahun  sebelumnya. Setiap kecamatan membawakan tema wayang yang berbeda-beda, di antaranya Kotagede dengan Rama  Sinta, Danurejan dengan  Srikandi, Gondomanan dengan Kunti, Mantrijeron menampilkan Sugriwa- Subali- Anjani, Gondokusuman menampilkan Kresna, Pakualaman menampilkan Narasoma, Wirobrajan menampikkan Suwida, Kraton menampilkan Larasati,

Gedongtengen menampilkan  Palguna Palgunadi, Mergangsan menampikkan  Kumbokarno, Umbulharjo menampilkan Anoman, Tegalrejo  menampikan Semar, Jetis menampilkan Togo Semar Bathara Guru.

Tema atau cerita wayang tersebut kemudian digambarkan oleh setiap peserta karnaval melalui kostum, properti hingga  koreografi yang dipentaskan di sepanjang rute karnaval. Terlihat pada awal kegiatan karnaval akan diawali dengan kendaraan  hias Narasinga. Narasinga adalah penjelmaan Dewa Wisnu dalam bentuk manusia berkepala singa dengan banyak tangan dan merupakan simbol dewa  pelindung. (ra)