Inline Skate Banda Aceh Berprestasi Nasional

Para atlet Inline Skate Banda Aceh yang meraih prestasi pada kejuaran sepatu roda antar klub di Medan, Minggu (7/10) lalu. (istimewa)

Tak Punya Lapangan Berlatih dan Sering Diusir

BANDA ACEH (RA) – Usaha tak akan mengingkari hasil. Mungkin ini yang cocok dipadankan dengan jerih payah atlet-atlet sepatu roda Banda Aceh. Kini bahkan mereka telah merambah hingga ke tingkat nasional.

Walau hingga kini tak mendapatkan perhatian dari pemerintahan atau instansi di Aceh, namun para atlet yang tergabung di klub Inline Skate Banda Aceh tetap optimis dengan hobi mereka yang kini telah menunjukan hasil.

“Walau tak punya lapangan latihan hingga terpaksa berlatih di jalanan, bahkan malah tak jarang diusir, anak-anak tetap teguh dengan hobi yang mereka senangi ini,” ujar Ramlan Aswaluddin, ketua Inline Skate Banda Aceh kepada Rakyat Aceh beberapa waktu lalu.

Ramlan yang akrab disapa anak didiknya dengan panggilan Om Alan ini kemudian menyebutkan, walau baru dua tahun tapi prestasi anak didiknya sudah bisa dibanggakan dengan mendapat medali pada kejuaraan nasional yang digelar di Malang pada Juli lalu.

Pada kejurnas di Malang yang diikuti ratusan klub sepatu roda se Indonesia tersebut, anak didik Om Alan berhasil membawa pulang medali perak pada kualifikasi umur D jarak 1000 meter yakni atas nama Athian Zuhri dan medali perunggu kelas Freestyle Speed Slalom yang diraih M Talhah.

Bahkan pada kejuaraan antar klub sepatu roda yang digelar di Medan pada 7 Oktober lalu, atlet yang dibawanya semua mendapat medali. Atlet Inline Skate Banda Aceh berhasil memboyong 6 Emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Prestasi ini sangat mengejutkan baginya juga orang tua para atlet. Walau tempat latihan yang sering berpindah, karena tak adanya lapangan latihan standar, atletnya bisa menyumbangkan hal yang membanggakan Aceh.

“Bagaimana kami tidak bangga. Lapangan latihan tak ada, malah sering diusir. Tanpa perhatian dari pemerintah atau dinas terkait. Bertanding dengan sponsor swadaya orang tua atlet sendiri, kami bisa memperoleh hasil yang membanggakan,” kata Om Alan dengan senyum lebar.

Dia kemudian menceritakan awal terbentuknya Inline Skate Banda Aceh dua tahun lalu bermula hanya sekedar membuat wadah anak-anak yang menyukai inline skate bisa berkumpul dan bersenang bersama.

Beberapa mahasiswa yang lebih punya keterampilan lebih kemudian diajak untuk membantu secara sukarela menjadi pelatih, tanpa bayaran. Dari hanya beberapa orang kini anggotanya sudah puluhan atlet. Para atlet menjadi lebih bersemangat untuk berlatih karenanya.

Tapi lapangan latihan standar yang tak dimiliki Banda Aceh menjadi kendala. Akibatnya mereka harus memaksakan diri untuk berlatih di tempat yang sama sekali tak direkomendasikan dan tak layak.

“Kami pernah berlatih di kawasan Stadion H Dimurthala, Lampinueng, PKA, dan Lapangan Blang Padang. Lokasi-lokasi itu tak standar untuk tempat latihan. Namun sedihnya, kami malah diusir dari lokasi yang tak standar itu. Karena itu lah kadang-kadang anak-anak kita latihan di jalanan,” ucapnya lirih.

Tak ada lokasi latihan, terkadang mereka tetap ngotot, walau kemudian diusir kembali. Namun sekarang ini mereka telah punya lokasi latihan yakni di kawasan Stadion Harapn Bangda, Lhong Raya,

“Walau pun Stadion Lhong Raya juga tak standar, kita saat ini bisa sedikit lega ada tempat berkumpul untuk latihan. Untuk refreshing, terkadang anak-anak bergerombol di jalanan menuju Pelabuhan Ulle Lheu,” ujarnya lagi.

Tingginya semangat berlatih para atlet namun tak diimbangi dengan tempat latihan yang standar menjadi menjadi pemikiran dirinya dan para pelatih. Persoalan ini kemudian ditambah dengan tak adanya perhatian dari pemerintah setempat dan intansi terkait yang seharusnya menyokong penuh mereka.

“Kami hanya perlu lokasi yang standar untuk anak-anak berlatih. Beberapa kali kita telah menyurati pemerintah dan pihak terkait, tapi tak ada tanggapan. Saya yakin, jika kita punya tempat latihan standar dan kemudian perhatian pemerintah untuk menyelenggarakan even perlombaan, prestasi anak-anak kita akan semakin bersinar. Lihat saja sekarang, walau tak ada tempat latihan, prestasi mereka bisa sampai nasional,” pungkas Om Alan yang punya mimpi untuk membuat Kejurnas Sepatu Roda di Banda Aceh jika punya tempat khusus bersepatu roda sendiri yang standar. (ra/min)