Dua Nelayan Simeulue Ditemukan Selamat

CARI NELAYAN: Tim SAR Simeulue, menggunakan perahu karet untuk pencarian dua Nelayan yang hilang sejak tanggal 5 Oktober 2018 lalu. Jumat (12/10). Foto: Ahmadi/Rakyat Aceh.

SIMEULUE (RA) – Dua nelayan Simeulue, Sudirman (45) dan Mustafarudin (56), warga Desa Air Pinang, Kecamatan Simeulue Timur, yang dilaporkan hilang dilaut sejak 5 Oktober 2018 lalu, telah ditemukan selamat, Sabtu (13/10).

Kedua nelayan itu, ditemukan hari kesembilan, sekitar pukul 10:00 WIB, Sabtu (13/10) di perairan laut Batu Berlayar, Kecamatan Teupah Selatan, oleh tim Operasi Pencarian dibawah kendali SAR Pos Simeulue, dengan melibatkan Satgas SAR, TNI AL, BPBD, Tagana serta keluarga nelayan tersebut.

Sudirman dan Mustafarudin, langsung dievakuasi tim SAR, dengan menggunakan Kapal Angkatan Laut (KAL) Sinabang, kemudian setelah dilakukan pengechekan kondisi kesehatan, diserahkan oleh tim Operasi Pencarian kepada pihak keluarga kedua nelayan itu.

Setelah ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga nelayan itu, resmi menutup operasi pencarian. Hal itu dijelaskan Rahmad Kenedi, Koordinator Pos (Korpos) SAR Simeulue, kepada Rakyat Aceh, Sabtu (13/10).

“Operasi pencarian resmi ditutup, setelah ditemukan dan diserahkan kedua nelayan itu atas nama Sudirman dan Mustafarudin, kepada pihak keluarganya masing-masing,” katanya.

Sebelum ditemukan kedua nelayan itu, turun melaut sejak 5 Oktober 2018 lalu, dengan membawa perbekalan selama dua hari, namun hingga memasuki hari kedelapan, Sudirman dan Mustafarudin, tidak kunjung kembali kerumahnya dan hilang komunikasi dengan pihak keluarganya.

Kemudian dilaporkan hilang oleh pihak keluarganya kepada SAR Simeulue, Jumat (12/10) lalu. Hingga hari ke sembilan, kedua nelayan itu ditemukan, setelah memasuki hari kedua digelar operasi pencarian oleh Tim SAR, dan pasal putus komunikasi dan tidak pulang kedua nelayan itu, ternyata dihantam cuaca buruk, badai, hujan dan gelombang tinggi di perairan laut Pulau Lasia, Kecamatan Teupah Selatan.

Beruntung perahu bermesin robin tersebut, diselamatkan salah satu kapal ikan penangkap ikan jenis Bagan ikan dari luar daerah, yang juga berlindung dari hantaman cuaca buruk di perairan laut Pulau Lasia, sejak Minggu malam, 7 Oktober 2018 lalu, hal itu dijelaskan Sudirman.

“Kami memancing diantara perairan laut Pulau Lasia dan Pulau Bangkaru, sejak Sabtu dan pada Minggu malamnya atau malam Seninnya, kami dihantam badai, hujan dan ombak tinggi, sehingga kami tidak bisa berlindung ke Pulau Lasia, juga pada waktu itu tidak kelihatan lampu kapal ikan maupun cahaya yang ada didaratan,” katanya.

Setelah semalaman terkatung-katung di perairan laut antara Pulau Lasia dan Pulau Bangkaru, Aceh Singkil, pada Senin pagi, 7 Oktober 2018 dengan cuaca masih tidak bersahabat, kedua nelayan itu berhasil mendekati Pulau Lasia, namun tidak dapat mendarat dan salah satu kapal ikan jenis Bagan Cincin dari luar daerah itu, mengijinkan perahu nelayan tersebut untuk mengikat perahunya dan naik ke atas Bagan ikan.

Masih menurut dia, selain perahunya yang berlindung di perairan laut Pulau Lasia dari hantaman cuaca ekstrim, ada sekitar 5 unit Bagan Ikan serta 20 unit boat ikan. Setalah cuaca membaik, Sabtu (13/10), kedua nelayan itu pulang dan dalam perjalanan dikawasan perairan laut Batu Berlayar, bertemu dengan Tim SAR Simeulue. (ahi/bai)