Ridwan Tolak Hukuman Mati

Petugas membantu Ridwan (22), terdakwa kasus pembunuhan keluarga Tjie Sun alias Asun di Gampong Mulia, Banda Aceh, menolak tuntutan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Banda Aceh, Senin (22/10). IHSAN MAULANA/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Ridwan (22) terdakwa kasus pembunuhan Keluarga Tjie Sun alias Asun di Gampong Mulia, Banda Aceh, menolak tuntutan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Banda Aceh. Sebelumnya, JPU menyatakan terdakwa terbukti bersalah. Ia melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, sebagaimana pasal 340 KUHP.

“Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun,” kata JPU, Mursyid pada sidang sebelumnya, Senin (15/10).

Dalam sidang dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoi) yang berlangsung di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Kuasa Hukum terdakwa, Kadri Sufi dalam bacaan pledoinya menilai tuntutan JPU terlalu berat. Hasil telaah pihaknya, tersangka tidak melakukan pembunuhan berencana melainkan spontanitas.

Bahwa dalam persidangan telah terungkap, namun semata-mata keterangan terdakwa, bahwa timbulnya niat melakukan pembunuhan terhadap korban Tjie Sun alias Asun semata-mata karena korban, Asun memaki-maki korban. Sehingga terdakwa emosi.

Sedangkan niat untuk membunuh Minarni (istri) dan Calliestos NG (anak) timbul seketika.
“Karena kalap dan khawatir apa yang dilakukan terhadap Asin akan terungkap,” sebut Kadri, Senin (22/10).

Ia menyebutkan, tidak cukup unsur yang tersirat dalam dakwaan primer untuk diterapkan terhadap terdakwa. Bahwa dakwaaan yang tepat untuk diterapkan subsidair melanggar pasal 338 KUHP.

“Kalau mereka menuntut mati, kami tidak sependapat. Menurut versi kami tidak terbukti. Pada prinsipnya kami yakin yang terbukti adalah pasal 338,” sebut Kadri.
Jaksa Mursyid dan Ibsaini, dalam replik tetap pada tuntutannya, pasal 340. Sebaliknya, pihak terdakwa tetap pada pembelaannya pasal 338.

Menanggapi hasil tersebut, hakim mengatakan pihaknya akan bermusyawarah terlebih dahulu sebelum sidang dengan agenda putusan dilanjutkan, Rabu (24/10).

“Untuk bermusyawarah kami mohon waktu sampai hari Rabu tanggal 24 Oktober 2018. Terdakwa tetap ditahan,” sebut Hakim Ketua, Totok Yunjarto. (mag-81/mai)