Illiza: Kehidupan Islami Harus Dijaga

Tokoh perempuan Aceh, Illiza Saaduddin sebagai pemateri dalam acara Seminar And Talkshow Hijrah Cinta Di Banda Aceh, Ahad (28/10). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Illiza Saaduddin sebagai tokoh perempuan Aceh tampil sebagai pemateri dalam acara Seminar And Talkshow Hijrah Cinta di Banda Aceh, Minggu (28/10).

Ia tampil bersama Natta Reza dan Wardah Maulina yang merukan penulis Buku Cinta tak Biasa, serta Alvin dan Larisaa Chou yang merupakan Pasangan Nikah Muda.

Seminar yang dihadari oleh ratusan pemuda dan pemudi Aceh, menceritakan tentang mudarat pacaran, serta menjauhi diri dari perbuatan yang dilarang dalam islam.

Sebagai tokoh Aceh yang pernah memimpin kota Banda Aceh ini, kepada peserta yang hadir, Illiza menyampaikan sejumlah hal tentang pelaksanaan syariat islam di Aceh. Yang memberikan Nampak positif bagi kehidupan warga kota Banda Aceh.

Katanya, di Banda Aceh sekarang terjauhi dari maksiat, banyak anak-anak muda Aceh yang taat pada agamanya.

“Semangat hijrah guna meningkatkan seluruh aspek kehidupan manusia, apalagi saat ini kita hidup di lingkungan islam, mari kita tingkatkan keislaman dalam jiwa, kita pelihara dari waktu ke waktu secara konsisten, betapa pun banyak ujian dan tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini,” kata Illiza di hadapan peserta.

Tetapi, lanjutnya, dalam menjalani kehidupan, selalu mencari karunia dari Rabbmu. Yakni dalam kehidupan, perjalanan dan lain sebagainya, agar terjauh dari maksiat di dunia ini. “Mari kita menghijrahkan masyarakatnya kepada kehidupan yang lebih sejahtera dan maju, untuk meraih masa depan cerah,” imbuhnya.

Apalagi saat ini, kata Illiza memasuki era tahun politik di 2019, memprediksi akan terjadinya polarisasi dukungan kepada calon presiden dan wakil presiden serta partai politik peserta pemilu. Ia mengingatkan agar jangan sampai perbedaan pilihan menjadikan masyarakat Indonesia terpecah belah.

Dia berpesan kepada seluruh anak muda, jangan mengubah tatanan dan paradigma yang sudah terpatri khususnya di Provinsi Aceh dan mengajak semua berusaha semaksimal mungkin, menjadikan Aceh ke arah yang lebih baik lagi dan Rahmatan lil alamin.

Sementara itu pemateri lainya, menyampaikan betapa beratnya kehidupan yang mereka jalani di kota besar di Indonesia, berbeda jauh dari pronvisi Aceh. Seperti yang dikatakan oleh Natta Reza, kehidupan mereka di sana bebas dan tidak ada aturan islam seperti di Aceh. (ibi/rif)