Warga Lamreh Budidaya Jamur Tiram

Petani jamur tiram di Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya (Krueng Raya), Kabupaten Aceh Besar memperlihatkan jamur hasil budidaya kelompok masyarakat, Kamis (1/11). Sulaiman/Rakyat Aceh

KRUENG RAYA (RA) – Budidaya jamur tiram mulai digeluti oleh warga Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya (Krueng Raya), Kabupaten Aceh Besar. Hasil panen-pun sudah mulai di pasarkan ke sejumlah daerah, termasuk ke daerah tetangga seperti kota Banda Aceh.

Selain jamur tiram, warga juga memproduksi aneka produk olahan seperti kerupuk jamur dan pupuk. Budidaya jamur tiram dilakukan kelompok masyarakat Lamuri Jaya ini merupakan bahagian dari bantuan program CSR PT Pertamina, dalam hal ini dipercayakan kepada Rumah Zakat Aceh untuk menyalurkannya. PT Pertamina (Persero) MOR I Terminal BBM Krueng Raya bersama Rumah Zakat Aceh melakukan launching program budi daya jamur tiram ini, Kamis (1/11).

Kepala Cabang Rumah Zakat Aceh, Riadhi mengatakan, pihaknya diberikan amanah untuk menyalurkan CSR PT Pertamina kepada masyarakat Krueng Raya, khususnya untuk kelompok budi daya jamur tiram di gampong Lamreh. Sebagai pilot project pihaknya mendampingi satu kelompok yang terdiri dari 13 orang petani jamur tiram, dan berharap kedepan bisa terus berkembang.

Riadhi menyampaikan, tujuan dari program budidaya jamur tiram ini adalah untuk meningkatkan taraf derajat ekonomi masyarakat Desa Lamreh khususnya yang berada pada wilayah operasi Pertamina Ring I TBBM Krueng Raya serta memberikan peluang untuk meningkatkan produksi Jamur Tiram yang mulai menjadi komoditi pasar masyarakat.

Dalam proses budi daya jamur tiram tersebut, kata Riadhi, kelompok petani akan didampingi oleh ahlinya, sehingga diharapkan kedepan jamur tiram gampong Lamreh bisa diolah untuk berbagai makanan seperti keripik jamur, mie jamur, bahkan sate jamur sehingga bisa menjadi nilai tambah dari budi daya jamur tiram itu sendiri.

Riadhi menambahkan, selain menghasilkan bahan makanan dari jamur tiram, kelompok petani juga tidak meninggalkan limbah yang justru berdampak buruk bagi masyarakat setempat. Limbahnya kata Riadhi, juga bermanfaat bagi masyarakat seperti pupuk dan bahan bakar.

“Sedangkan limbah baglog Jamur Tiram didaur ulang menjadi bahan tepat guna bagi masyarakat dintaranya, sebagai pengganti kayu bakar, pupuk organik dan perhiasan dinding,” ujarnya.

Sementara itu Operation Head Pertamina TBBM Kreung Raya yang diwakili oleh Fachrizal juga berharap agar program yang sudah di launching itu bisa terus berlanjut, dan kedepan masih ada sejumlah program lain yang bisa dikembangkan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat.

Apalagi diakuinya, program budi daya jamur tiram di gampong Lamreh tersebut juga keinginan dari masyarakat setempat, apalagai ketersediaan lahan yang cukup memadai.

Menurutnya, budidaya jamur tiram sangat bagus prospeknya dan sangat menjanjikan. Apalagi permintaan pasar cukup tinggi sejak beberapa waktu terakhir. Untuk itulah, pihaknya ikut mensuport dan membantu secara teknis mulai dari hulu sampai ke hilir.
Harapan kedepan, dengan adanya usaha budidaya ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, produk olahan baru dengan bahan baku utama jamur juga diharapkan bisa muncul.

“Pertamina punya misi untuk membantu masyarakat sekitar. hari ini kita bantu juga untuk prosesnya dari hulu sampai ke hilir, sehingga harapan kita dnegan adanya usaha ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan harapan kami juga kedepan gampong ini bisa menjadi pemasok jamur tiram terbesar untuk Banda Aceh dan sekitarnya,” tambahnya.

Sementara itu Sekcam Krueng Raya Muliadi berharap kepada kelompok masyarakat yang telah dibantu oleh pihak Pertamina bersama Rumah Zakat agar terus mengembangkan usahanya sehingga kedepan gampong Lamreh akan dkenal sebagai penghasil jamur tiram berkualitas dan diterima oleh masyarakat konsumen. “Kita minta agar kelompok-kelompok petani jamur tiram ini terus melakukan inovasi dengan usahanya ini, dan terus berkelanjutan, jangan berhenti disini saja,” ujarnya.

Ketua kelompok Lamuri Jaya Burhanuddin mengatakan, jamur dihasilkan langsung di pasarkan ke sejumlah wilayah, baik Aceh Besar maupun kota Banda Aceh. “Setiap hari panen, sekali panen 5 Kg, harga jual per kg Rp 50 ribu. Saat ini kita sudah punya 10 ribu baglog, kalau panen semua bisa menghasilkan 5 ton,” kata Burhanuddin. (slm/rif)