Kontribusi Besar Tapi Petani Sawit Kok Terus-terusan Jatuh

Kelapa Sawit / Net

Harianrakyataceh.com – Ratusan utusan dari Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) yang berasal dari 20 kabupaten yang tersebar di 14 provinsi berkumpul di Jakarta. Tujuannya, membahas nasib petani kelapa sawit yang terus-terusan mengalami kesulitan

Ketua Umum SPKS, Mansuetus Darto menyampaikan, rembug ini menekankan persoalan para petani kelapa sawit yang harus dicarikan solusinya.

Rembug Nasional Petani Sawit ini akan digelar di Redtop Hotel & Convention Center, Jakarta Pusat pada Rabu lusa (28/11).

“Selama ini, peran dan konstribusi para petani kelapa sawit sangat besar bagi bangsa dan negara ini, namun kok hampir setiap tahun petani kelapa sawit mengalami kesulitan, penuh persoalan dan seolah tak akan pernah ada solusi. Nah, ini yang akan kita bahas dalam rembug nasional ini,” tutur Mansuetus Darto dalam keterangannya, Senin (26/11).

Dia melanjutkan, dalam catatan SPKS, Petani Sawit Mandiri atau Petani Sawit Swadaya, berkontribusi besar dalam produksi minyak sawit nasional.

Dari total luasan perkebunan kelapa nasional sekitar 14,3 juta hektar, sebanyak 43 persen atau sekitar 6,1 juta ha dikelola oleh petani sawit plasma -mitra perusahaan dan petani sawit swadaya.

Dari total luasan perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani tersebut, SPKS mencatat, sebanyak 75 persen atau sejumlah 4,29 juta hektar dikelola oleh petani sawit swadaya dengan total produksi crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah mencapai 15 juta ton per tahun.

Kendati berperan penting dalam perekonomian Tanah Air, lanjut Darto, namun kehadiran petani swadaya ini belum tertata dengan baik dalam perkebunan kelapa sawit nasional.

“Terlebih petani sawit swadaya kerap menghadapi banyak persoalan seperti kesulitan menjual Tandan Buah Segar atau TBS, hasilnya harga jual TBS petani sawit swadaya kerap dihargai rendah,” tuturnya.

Selain rendahnya harga, petani sawit juga dihadapkan dengan belum banyaknya petani yang memiliki legalitas, kurangnya pendampingan dari pemerintah terkait budidaya kelapa sawit dan kesulitan mengakses dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit (BPDP-Sawit).

“Sampai saat ini, sudah ada sebanyak 120 petani kelapa sawit sebagai utusan yang akan mengikuti rembug,” ujar Darto. [wid]