INT.

TAKENGON (RA) – Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah, melaksanakan pertemuan sekaligus membentuk Komisi Penangulangan Aids Kabupaten (KPAK). Kegiatan tersebut dihadiri oleh unsur terkait untuk mengidentifikasi dini terkait dengan virus AIDS.

Menurut Kadis Kesehatan, dr Sukri Maha pertemuan tersebut dilakukan untuk membicarakan lebih lanjut terkait dengan penyakit AIDS dan HIV yang kian tahun semakin merajalela perkembanganya di Indoensia. Sedangkan untuk tingkat Kabupaten Aceh Tengah, sejauh ini hanya 36 kasus yang melapor dan tengah menjalani pengobatan.

Untuk penyakit AIDS dan HIV perlu pengendalian, sehingga bagi masyarakat yang mengetahui agar cepat memberitahu dan melakukan pengobatan di puskesmas-puskesmas terdekat. “Tidak perlu malu untuk berobat jika terkena AIDS. Walau sejauh ini belum ada obatnya, namun pencegahan perlu dilakukan,” kata Sukri Maha, Kamis (6/12).

Untuk kasus yang ada di Aceh Tengah, menurut data dinas kesehatan, semua pasien yang terkena AIDS semua berasal dari luar daerah. Mereka awalnya bekerja dan menetap di Jakarta. “Pasien AIDS semua sebelumnya bertempat tinggal di Jakarta. Lalu pulang ke Aceh Tengah dan mendapatkan perawatan,” kata Sukri, sambil menyebut kasus begitu biasanya disebut kasus Inpor.

Sukri mengharapkan semua elemen masyarakat menyatukan langkah, agar kasus penyakit AIDS tidak menjadi momok bagi kita semua. Dan semaksimal mungkin bisa kita hindari proses terjangkitnya.

Menurut Sukri, lagi diduga akan ada 46 ribu kasus baru terkait AIDS dan HIV di seluruh Indonesia. Dan 36 persen yang menderita kasus AIDS dan HIV adalah dari kalangan swasta.

Pemerintah Aceh Tengah sangat mendukung kegiatan tersebut. Dan agar pihak terkait agar turun kelapangan mensosialisasikan betapa bahayanya AIDS dan HIV. “kita dukung kegiatan tersebut dan sebaiknya terus lakukan sosialisasi ke masyarakat,” ajak Asisten I, Mursid mewakili Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. (jur/bai)