Jembatan Rubuh, Dua Desa Gelap Gulita

Jembatan Rubuh, Dua Desa Gelap Gulita

MEULABOH (RA) – Dua kampung padat penduduk di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, alami kegelapan dan lumpuh total roda pemerintahan desanya. Ini imbas rubuh jembatan gantung dan terputus arus kabel jaringan menengah menuju permukiman tersebut.

Desa yang terdampak Desa Babah Leung (60 KK atau 260 jiwa) dan Desa Aleu Keumang (60 KK atau 315 jiwa). Jembatan gantung yang menjadi akses utama menghubungkan permukiman dengan lintasan jalan utama, mengalami rubuh total, pasca terkikis derasnya sungai Krueng Meureubo sekitar pukul 20.00 WIB, Selasa (11/12).

“Lampu ikutan padam juga, karena kabel distribusi arus listrik turut diikat pada tiang jembatan gantung itu,” kata Kepala Desa Aleu Keumang, Zulkifli (37), Rabu (12/12).

Efek dari rusaknya infrastruktur jembatan ini, sambung Zulkifli, turut mengganggu seluruh rutinitas masyarakat Desa Babah Leung dan Desa Aleu Keumang, lantaran jembatan gantung ini merupakan akses utama keluar-masuk penduduk menuju Meulaboh, Aceh Barat. “Yang sayang keluar-masuk anak sekolah, karena jembatan yang biasa dilalui telah roboh,” ungkapnya.

Dari dua desa seberang sungai Krung Meureubo ini, terdapat satu unit Sekolah Dasar Negeri (SDN) terletak di Desa Aleu Keumang. Tentu telah menyebabkan keletihan ektsra tenaga didik (guru) untuk dapat menuju sekolah binaanya.

Sementara SDN Aleu Keumang, hanya dua orang guru yang berdomisili dari kampung setempat, selebihnya berasal dari luar desa.

Memang, tambah Zulfifli, selain akses lintasan utama jembatan gantung tersebut, juga terdapat jalan alternative lainnya, yang menghubung Desa Babah Leung-Desa Cemara.

Namun menjadi keluhan warga, jarak tempuh jalur alternatif ini tergolong sangat jauh, mencapai 3 kilometer perjalanan melintasi badan jalan berbatu dan sepi.

“Kalau melintasi jembatan gantung roboh itu, menghubung Desa Aleu Keumang-Desa Menuang Kincau. Jarak tempuhnya sangat dekat, cuma 1,5 km saja. Makanya akses jembatan ini menjadi jalur utama atau terfavorit penduduk,” detilnya.

Dari seluruh dampak, yang paling membuat Zulkifli sampai kesulitan, adalah padamnya arus listrik di kantor desa, karena ia tidak mampu menerbitkan surat keterangan miskin yang dibutuhkan segera oleh warganya.

“Ada anak kami yang sekolah di Banda Aceh, jadi butuh surat keterangan kurang mampu untuk meringankan beban biaya pendidikan anaknya. Bagaimana ini? lampu mati. Seluruh layanan surat-menyurat membutuhkan energi listrik,” keluhnya.

Mengeluhkan kondisi yang dihadapi ini, Zulkifli telah melaporkan secara resmi kepada Pimpinan di tingkat Kecamatan dan Pemerintahan Kabupaten. “Harapan kami, jembatan ini segera dibangun.

Karena jembatan yang roboh itu merupakan akses utama yang paling dekat jarak tempuh keluar-masuk warga menuju Meulaboh,” permohonannnya, saat bersama Kepala Desa Babah Leung, Mukthar.

Informasi sekitar, terhimpun data kontruksi jembatan gantung menghubung Desa Aleu Keumang-Desa Menuang Kincau dibangun sejak Tahun 2015 silam.

Dengan panjang 150 meter dan lebar mencapai satu meter. Kontruksi jembatan gantung rangka besi dan berlantai papan ini dibangun oleh pihak Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Namun kondisi kerap menerima kikisan deras arus Krung Meureubo, telah menyebab jembatan rubuh di usia tiga tahun pemakaian infrastruktur dasar ini. (den/bai)