Kisah Lawas Delissa

Delisa memperlihatkan kaki palsunya

14 tahun silam, gelombang raya menyapu tanah kelahirannya.
Smong, memisahkan dirinya dan keluarga. Kisah duka itu, masih berjejak di kaki kirinya. Ia diamputasi.

HENDRI – Banda Aceh TAK lekang dalam ingatan Delissa Fitri Rahmadani, smong yang datang usai gempa akbar. Bencana itu, merenggut nyawa ibu dan juga tiga saudara kandungnya.

Ayah Delisa waktu kejadian tsunami tengah berada di Jakarta. Ia tiba di Banda Aceh, tiga hari setelah tsunami melanda. Kini Delisa menjalani harinya dengan bantuan tongkat dan kaki palsunya. Saat bencana ia masih berumur tujuh tahun.

Ia menceritakan, usai gempa kembali ke rumah untuk mengumpulkan surat penting dan berkas lainnya untuk diselamatkan.

“Yang Delisa ingat, sempat sadar ngapung dipermukaan air, tidak ada
orang satu pun di samping ada balita yang lehernya kesayat, Delisa hanyut ikut arus di cuaca yang panas,” sebutnya. Di atas permukaan air, sebut Delisa, ia ditarik ke dalam air. Awalnya ia mengira ular, sebab tarikannya semakin kuat.

Ternyata saat ia berusaha menyelamdan melepaskan tarikan itu, talikapal nyangkut di kakinya. Apalagi saat itu badannya penuh luka.

“Mulai dari situ enggak sadar sampai hari kedua sore, dan aku ditemukan sama warga tersangkut di atas kayu,” ucapnya. Warga mengira Delisa mayat, warga tersebut terkejut ternyata masih ada denyut nadi.

Ia juga merintih kesakitan. Warga itu mencari air mineral untuk membasuh luka. Akhirnya, ia dibawa ke rumah sakit Fakinah Banda Aceh.

“Waktu itu kaki kondisi kaki saya sangat luka parah. Hanya ada betadine, dokter juga sudah memberi tahu bahwa kaki saya harus diamputasi, dan saya pun menyanggupi permintaan itu,” sebut perempuan yang hobi menulis itu.

Hari kelima, sebut Delisa, baru ada bantuan medis. Sehingga kakinya tak bisa diselamatkan, hingga terpaksa diamputasi. Usai amputasi, ia baru ketemu dengan ayahnya.

Rasa duka yang menyelimuti keduanya tak bisa tertahankan. Apalagi ibunya dan saudaranya masih belum ditemukan saat itu. Ulee Lheue memang daerah yang cukup parah terdampak.

Delisa yang telah dewasa, mulai paham kenapa Allah menurunkan bencana.
“Peringatan atau kiamat kecil yang Allah berikan.

Jauh sebelum generasi kita sudah diperingatkan bahwa akan nada kiamat kecil, kita tidak bisa bayangkan betapa besarnya itu,” sebut Delisa.
(mai)