Jangan Sentuh Monyet

Nyet

Saran WHO untuk Masyarakat Aceh

MEULABOH (RA) – Organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), menganjurkan masyarakat Aceh membatasi interaksi langsung dengan berbagai jenis monyet atau kera. Alasannya, bakteri plasmodium knowlesi mulai menjangkit sel tubuh binatang tersebut.

“Itu pesan organisasi kesehatan dunia atau WHO saat berkunjung ke Kabupaten Aceh Barat,” Kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, TR Ridwan M.Kes, Meulaboh, Minggu (13/1).

Hasil kajian WHO, sambung Ridwan, organisasi kesehatan dunia ini merekomendasikan kepada instansi kesehatan setempat, supaya menganjurkan masyarakat di Aceh untuk dapat membatasi ruang interaksi dengan berbagai jenis monyet, lantaran bakteri (kuman) ini, dapat berpotensi menjangkit seluruh jenis binatang kera se-Aceh.

Salah satu anjuran pihak WHO, kata Ridwan, ketika melihat tingginya interaksi manusia dan kera di lintasan jalan gunung Geurute, Kabupaten Aceh Jaya.

“Dia mengungkapkan tidak boleh ada bentuk bersentuhan langsung fisik antara manusia dan monyet, sebagai contoh di gunung Geurute itu,” detilnya.

Meskipun penemuan kasus infeksi kuman kera (plasmodium knowlesi) menyerang masyarakat Kabupaten Aceh Barat. WHO mengkaji, tidak tertutup kemungkinan bakteri tersebut dapat berpeluang besar menyerang seluruh jenis monyet se-Aceh.

“Jadi waspada terhadap binatang kera ini berlaku seluruh masyarakat di Aceh,” ungkap Ridwan menyambung saran dari WHO.

Kunjungan WHO ke Aceh Barat bersama tim Kementerian RI Pusat, langsung melakukan diognosa kasus malaria monyet yang menyerang sepasang suami-istri di Desa Meutulang, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat, akhir tahun 2018.

“Tim yang berkunjung ke Aceh Barat kemarin ini, WHO Perwakilan Jakarta dr. Herdiana, Unicef Aceh dr. Dita, Kemenkes RI dr. Franti, dan perwakilan Tim Komisi Ahli Pusat Prof. Inge,” detil Ridwan.

Atensi tinggi WHO terhadap kasus malaria monyet menyerang warga setempat, kata Ridwan, lataran potensi kematian yang disebabkan oleh serangan bakteri plasmodium knowlesi sangat tinggi, karena gejala keluhan yang diderita pasien akan lebih parah dari keluhan penyakit malaria pada umumnya.

Kata Ridwan, gejala malaria biasanya mulai bereaksi hebat pasca pasien menerima gigitan nyamuk pengantar parasit tersebut. Tanda gejala penyakit yang menyerang, mirip dengan keluhan pilek, flu, sakit kepala, kelelahan, dan pegal-pegal.”Terutama meriang badan panas-dingin,” ungkapnya.

Selanjutnya disertai muntah, diare, kulit menguning lantaran kehilangan sel darah merah, bahkan berpotensi terjadinya gagal ginjal. “Jika malaria biasa, serangan gejala ini ada jedanya (istirahatnya).

Tapi khusus malaria monyet tidak ada jedanya, pasien akan sakit terus-terusan tanpa henti. Makanya malaria monyet ini lebih tinggi potensi kematiannya,” urai Kadis Kesahatan Aceh Barat ini.

Penanganan dan pencegahan yang dilakukan instansi kesehatan setempat, kata Ridwan dengan menganjurkan pasien dan warga tempat penderita berdomisili untuk dapat tidur menggunakan kelambu.

“Makanya kemarin ini ada kami bagi kelambu ke dua kampung di kecamatan Panton Reu. dilanjutkan juga dengan penyemprotan atau fogging,” jawabnya.

Khusus penangan pasien maria monyet pasangan suami-istri, warga Desa Meutulang, Kecamatan Panton Reu, yakni M. Ibrahim (70) dan Putri (65).

Petugas memberikan perawatan dengan pengawasan intensif. Memvonis keduanya positif terserang maria monyet, pasca menerima laporan hasil laboratorium daerah.

“Hasil uji Lab kesehatan daerah, menyimpulkan keduanya positif malaria monyet. Makanya kami berikan obat yang khusus dapat membunuh perkembangan bakteri plasmodium knowlesi dari tubuh pasien,” bebernya.

Kini, baik M. Ibrahim (70) dan Putri (65) dan warga sekitar desa tempat dirinya berdomisili terus dalam pantauan petugas khusus, sebagai bentuk mencegah perkembangan wabah ini.

Merespon kasus malaria monyet ekor panjang di Aceh Barat, Sambung Ridwan, observasi pihak WHO dalam kunjungan Rabu 9 Januari 2019 kemarin, terlihat sangat yang fokus. Karena jenis serangan penyakit ini tergolong masih sangat langka.

“Bahkan WHO berencana akan memberikan nama jenis penyakit ini. Kalau sekarang belum ada namanya, masih disebutkan ‘malaria monyet,” ungkapnya. (den/mai)