Aliansi Buruh Aceh Tolak Tenaga Kerja Asing

Puluhan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Aceh (ABA) menggelar aksi di Banda Aceh, Kamis (6/2). ICHSAN MAULANA/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Puluhan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Aceh (ABA) menggelar demonstrasi disejumlah tempat. Dimulai di Simpang Lima, halaman gedung DPRA, Disnaker, hingga BPJS Aceh, Banda Aceh, Rabu (6/2).

Mereka menolak kehadiran Tenaga Kerja Asing (TKA) di Aceh yang unskill. Pihaknya merasa prihatin, Aceh yang notabene sebagi provinsi dengan tingkat pengangguran tinggi di Indonesia, justru lapangan pekerjaan terbuka untuk TKA.

“Ini yang namanya seperti falsafah Aceh ‘buya krung teudong-dong, buya tameng meuraseki.’ Di saat pengangguran terjadi di Aceh, TKA ilegal bisa masuk ke Aceh, dimana letak keadilan pemerintah,” ujar Ketua ABA, Syaiful Mar dalam orasinya.

Dalam hal ini, pihaknya menegaskan bukan anti TKA. Hanya saja, menolak tenaga kerja dari luar yang tidak memiliki skill.

Berkaca pada temuan pihaknya dengan Disnaker, sebanyak 51 TKA asal Tiongkok yang bekerja di pabrik semen Lhoknga, mereka adalah tenaga kerja biasa. Pihaknya menyayangkan mengapa otoritas terkait bisa kecolongan izin.

“Seharusnya tenaga kerja asing tidak boleh bekerja di sini kalau pekerjaan tersebut masih bisa dikerjakan oleh tenaga kerja lokal,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya mengaku kejadian serupa tidak hanya terjadi di perusahaan semen. Temuan lain, disebutkannya ada di Krueng Cut, serta pernah juga mendapat di Akun Jeumpet. Bahkan, saat digeledah menunjukkan KTP palsu.

Ada 12 tuntutan ABA, selain menolak TKA unskill dan unprosedural, beberapa tuntutan lain diantaranya adalah, menolak Permenkes No 51 Tahun 2018 tentang penggunaan urun biaya dan selisih biaya dalam program jaminan kesehatan.

Cabut PP No 78 tahun 2015 tentang pengupahan. Selain itu, meminta dibukanya lapangan pekerjaan dan menolak ancaman PHK, serta diberikan jaminan kebebasan untuk berserikat baki pekerja/buruh di Aceh.

Hal itu dilakukan semata-mata demi kepentingan orang banyak. Bila tidak diindahkan, pihaknya mengancam akan melakukan aksi lanjutan.

“Kalau tidak direspon, kita akan lakukan aksi lanjutan sampai kapanpun. Karena menyangkut hidup hajat orang banyak. Karena tidak hanya menyangkut pribadi ABA saja, seluruh buruh dan pekerja di Aceh menuntut keadilan,” tutupnya. (icm/mai)