Warga Bangun Jembatan Gunakan Batang Kelapa

Warga membangun jembatan Ulee Raket, penghubung Kecamatan Kaway XVI – Kecamatan Pante Cermen, Aceh Barat dengan material batang kelapa, Kamis (7/2).

MEULABOH (RA) – Meski pun ada larangan ‘tegas’ dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Barat. Tapi warga tetap teguh hati bahkan nekat membangun jembatan Ulee Raket, penghubung Kecamatan Kaway XVI–Kecamatan Pante Cermen, dengan material batang kelapa.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Aceh Barat, Bukhari, Kamis (7/2) kemarin, mengaku tak habis fikir dengan sikap keras, sebagian masyarakat Kecamatan Pante Cermen dan Kecamatan Kaway XVI, yang tetap memaksakan kehendak untuk kembali membangun ruas jembatan Ulee Raket dengan mengandalkan bahan batang kelapa.

“Jangankan batang kelapa, kontruksi baja saja roboh. Apalagi pohon kepala,” keluh Bukhari.

Pembangunan ulang badan jembatan Ulee Raket dilakukan warga mulai, Senin (4/2) lalu. Dengan mengandalkan bantuan alat berat berupa beko dan batang kelapa, mereka kembali merangka badan ruas jalan supaya dapat dilalui masyarakat. ”Itu tidak benar. Rawan ambruk lagi,” ucap Bukhari.

Larangan pembangunan ulang badan jembatan Ulee Raket, mulai dilayangkan Bukhari sejak Senin (4/2) lalu, kepada Camat Kecamatan Pante Cermen dan Kecamatan Kaway XVI. Namun peringatan secara lisan dan tertulis tersebut, tetap tidak dindahkan masyarakat. ”Sudah jadi jembatannya.

Memang tidak dilalui kendaraan roda dua, tapi tetap berisiko ambruk juga,” cemasnya.
Secara resmi dan pribadi, Bukhari, telah jauh hari melarang masyarakat untuk kembali membangun ruas badan jalan jembatan penghubung tersebut, karena berdasarkan kajian teknis, sangat tinggi resiko terjadinya ambruk lanjutan.

Sebelumnya, sambung Bukhari, sekitar sepuluh orang perwakilan masyarakat Kaway XVI dan Pante Cermen telah memaksa dirinya untuk memberikan dukungan terhapat rencana pembangunan tersebut, namun tetap tegas ditolak. “Saya jelaskan, kajian teknis tidak benar itu. Tapi tetap tidak didengar,” urainya.

Sebenarnya, kisah Bukhari, masyarakat telah sepakat dengan jembatan penghubung di Babah Krung Tek Lep, lantaran lokasi pembangunan tergolong lurus dan tidak bakalan mengalami gerusan air saat banjir melanda.

“Kalau tetap diposisi semula, tetap ambruk lagi karena lokasinya tepat dibelokan sungai yang rawan terjadi tekanan gerusan air,” ujarnya.

Tiba-tiba, sambung Bukhari, masyarakat malah tetap memaksakan diri untuk tetap membangun jembatan Ulee Raket dengan hanya mengandalkan material batang kelapa. Sebagai informasi, jembatan Ulee Raket ambruk pada November 2018 lalu, saat banjir luapan terjadi di ruas Daerah Aliran Sungai (DAS) Krung Meureubo. (den/han)