Ribuan warga Aceh Jaya mengikuti tablig akbar. Hendra Sayeng/Rakyat Aceh

CALANG (RA) – Komunitas Peduli Islam Pantai Barat melaksanakan tablig akbar denga tema meneladani kepemimpinan Rasullulah dihadiri 2500 peserta dalam momentum isra mi’araj Rasullulah, di Gedung Olah Raga Meulaboh Aceh Barat.

Sebagaimana yang diunggkapkan Ketua Pelaksana Ustad Abbas Abdullah, kegiatan tersebut bertujuan untuk kembali mensyiarkan ajaran Islam sebagai motivasi agar sesama kaum muslimin tidak bercerai berai, dalam mementum Isra Mi’raj Rasullulah saat hijrah pertama ke habsyah serta hijrahnya rasul ke yatsrib (Madinah) dalam menegakkan kalimat Allah serta menerapkan Islam diberbagai sendi kehidupan.

Dalam memperingati momentum persatuan dan kesatuan untuk membela Islam keberadaan Daulah Islamiyah yang berlangsung hingga 3 Maret 1924 di Turki Utsmani. Jika kaum muslimin berada dalam naungan Daulah Islamiyah maka berbagai peristiwa yang menyakitkan tak akan pernah terjadi kembali.

Dirinya juga menambahkan selai, mengangkat peristiwa Isra’ Mi’raj juga mengajak segenap elemen umat Islam untuk bersatu kembali sebagaimana saat Rasulullah Saw mempersatukan umat manusia dibawah Panji Rasulullah yaitu dengan menegakkan Khilafah Islam diatas muka bumi ini.

Dihadapan ribuan peserta orasi pertama disampaikan tokoh ulama Aceh Jaya, Tgk Ibnu Hajar mengungkapkan, adanya rasa kasih sayang Rasulullah untuk meminta kepada Allah agar ibadah kaum muslimin menjadi ringan dalam melaksanakan ibadah.

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj menjadikan salat lima waktu untuk ibadah wajib kepada kaum muslimin. Nilai yang diambil, yang pertama kemauan seorang pemimpin Islam.
“Bagaimana kaum muslimin mendapat keringanan dalam beribadah.

Yang kedua, seorang pemimpin mau menerima gagasan dan ide. Namun, hancurnya negara karena ditinggalkannya salat. Hancurnya negara karena meninggalkan kewajiban-kewajiban dari Allah,” pungkas Ibnu Hajar.

Kegiatan tersebut juga dilaksanakan Rateb Seribe, yang turut di hadiri tokoh ulama Pantai Barat Selatan diantaranya para pembicara Ibnu Hajar, Muhammad Munawar, Hasanuddin Husin dan Yusrizal. (mag-67/bai)