Sidang CND Vienna Austria Heru Winarko Pimpin Delegasi RI

Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia kembali mengikuti Sidang Sesi ke 62 Commission on Narcotic Drugs (CND) 2019, di Vienna Austria. Ist/Rakyat Aceh

BANDA ACEH (RA) – Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia kembali mengikuti Sidang Sesi ke 62 Commission on Narcotic Drugs (CND) 2019, di Vienna Austria.

CND sendiri merupakan organ utama PBB yang menangani masalah penyalahgunaan dan perdagangan/peredaran gelap narkoba dan obat-obatan terlarang, CND bertanggungjawab menetapkan program-program PBB terkait penanggulangan narkoba yang implementasinya dilakukan oleh UN Office on Drugs and Crimes (UNODC).

CND juga memiliki mandat untuk memutuskan usulan dan rekomendasi dari negara anggota dan World Health Organization (WHO) mengenai daftar zat-zat yang dikontrol atau dilarang peredarannya berdasarkan tiga konvensi internasional tentang obat-obatan.

Pada sidang sesi ke 62 CND ini, Pemerintah Republik Indonesia melalui Delegasi RI yang dipimpin oleh Kepala BNN RI Komjen Pol Heru Winarko, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) juga melakukan pertemuan kerjasama bilateral kepada pihak Badan Narkotika Jepang.

Kepala BNN RI, Komjen Pol Heru Winarko menyampaikan rasa terima kasihnya atas kesediaan Jepang menerima undangan pertemuan bilateral di sela-sela Sidang CND ke 62 tersebut.

Menurutnya, dalam rangka menanggulangi masalah narkotika, BNN perlu meningkatkan kerjasama dengan Narcotics Control Department Jepang.

Dalam pertemuan itu, BNN RI mengusulkan kerjasama yang dapat dilakukan oleh kedua negara ini seperti pertukaran informasi Intelijen, riset atau penelitian.

Kemudian, kerjasama pengembangan sistem laboratorium di Jepang untuk mengidentifikasi NPS serta kerangka kerjasama lain yang lebih luas seperti rehabilitasi atau kombinasi kerjasama lain yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Selain itu, diharapkan adanya kerjasama berupa penempatan LO untuk membantu BNN dalam mengidentifikasi NPS dan mendukung Program Capacity Building BNN yaitu pelatihan baik sebagai peserta maupun instruksi,” kata Heru.

Director Administrative and General Affairs Division, Tatsuo UEDA menyampaikan, narkotika merupakan masalah besar baik di Indonesia maupun Jepang. Diakui, 80 persen penyalahguna narkoba di Jepang mengkonsumsi methampethamine yang diselundupkan dari Malaysia, Amerika Selatan, Amerika Utara dan Afrika.

“Kerja sama dengan Indonesia sangat diperlukan dan usulan BNN untuk menyelenggarakan kerjasama seperti yang disebutkan disetujui,” kata Tatsuo.

Tatsuo berharap, pertukaran informasi Intelijen berjalan apabila ada methampetamin yang diselundupkan ke Jepang. Pihaknya pun setuju atas usulan Indonesia untuk menempatkan LO untuk meningkatkan kerjasama, kiranya usulan tersebut dapat dajukan ke JICA.

“Jepang akan mendukung program BNN, tidak hanya pelatihan tapi BNN juga dapat mengunjungi laboratorium narkotika di Tokyo agar dapat meninjau lebih dekat bagaimana Tokyo mengidentifikasi NPS, sehingga Jepang dapat meregulasi 2000 jenis NPS,” tambahnya.

Selain melakukan pertemuan dengan Delegasi Jepang, Pemerintah Indonesia melalui Delegasi Indonesia di CND juga melakukan pertemuan bilateral dengan China, Malaysia dan beberapa negara lainnya.

Pada sidang kali ini, BNN menggelar pameran mengenai hasil dari upaya yang telah dilakukan oleh BNN di Indonesia terkait Program Alternative Development (AD) yang dijalankan di Indonesia, khususnya Program AD di Aceh.

Pameran tersebut dibuka oleh Kepala BNN RI Drs. Heru Winarko, SH yang turut di hadiri oleh salah satu Pimpinan UNODC, Deputi Pencegahan dan Deputi Pemberdayaan Masyarakat serta Para Pejabat Utama BNN lainnya dan dihadiri Kepala BNNP Aceh.

Pada pameran tersebut, BNN menghadirkan Kopi Gayo (Aceh), Bubuk Kunyit Aslam, Handycraf dan lainnya yang merupakan hasil dari Upaya P4GN melalui Program Alternative Development di Indonesia khususnya Aceh selama ini.

Pameran tersebut belangsung di Outside Plenary Room, Gedung M Building, Vienna International Center, Vienna, Austria. (ril/bai)