Dyah Erti Idawati Semangati Pasien TBC

Istri dari Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati menyapa salah satu pasien Tuberkulosis (TBC) di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin

Dalam kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, untuk mengunjungi pasien Tuberkulosis (TBC), Dyah Erti Idawati menyapa salah satu pasien, Rauzatul Jannah. Suasana haru menyelimuti pertemuan tersebut. Gadis berusia 15 tahun itu tampak lemas dalam dekapan kursi roda.

Kepada Dyah ia menyampaikan kondisinya yang mulai membaik. Saat pertama kali dirawat, remaja itu mengaku kesulitan mengonsumsi makanan. Penyakit TBC telah menyusutkan berat badannya.
Sembari memberikan buah tangan berupa bolu coklat dan buah-buahan, Dyah mengingatkan Rauzatul Jannah agar rutin mengonsumsi makanan.

“Makan yang banyak sayang ya. Buah dimakan juga, gizinya harus banyak. Harus sehat ya adek,” ujar Dyah.

Untuk meringankan beban keluarga pasien asal Lamteuba itu, Dyah meminta kepada ibu pasien untuk menyerahkan Kartu Tanda Penduduk agar dibantu pendanaan oleh pihak PKK Aceh. Dengan linangan air mata, Nurul Hayati, ibu pasien tersebut menyampaikan terimakasih kepada Dyah. Selain Rauzatul Jannah, saat ini RSUDZA juga tengah merawat 13 pasien TBC lainnya.

Dyah Erti Idawati merupakan istri dari Pelaksana Tugas Gubernur Aceh. Ia merupakan Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberculosis Indonesia (PPTI) Provinsi Aceh. Senin, (25/3) pada pekan terakhir di Maret kemarin, ia mengunjungi penderita pasien Tuberculosis (TBC) di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh.

Dyah mengatakan tujuan pihaknya bersama PPTI mengunjungi pasien TBC adalah untuk melihat langsung kondisi pasien pengindap penyakit menular itu serta mengetahui proses penanganannya. Dengan demikian PPTI dapat menyusun program kerja sesuai dengan data yang diperoleh.

Selain itu, PPTI nantinya juga akan melakukan penyuluhan tentang bahaya dan cara pencegahan tuberculosis. Sementara itu, kata Dyah, dalam beberapa kesempatan saat bertemu dengan kader PKK tiap daerah, ia menyempatkan untuk mensosialisasikan tentang gejala dan bahaya TBC. “Kita ingin mencari celah, dimana PPTI bisa mengambil peran dalam membantu menurunkan penyakit TBC,” kata Dia.

Sementara saat meninjau Rumah Singgah hibah Pemerintah Aceh untuk RSUZA, Dyah mengatakan bahwa fasilitas tersebut merupakan bagian dari JKA plus yang diprogramkan oleh Pemerintah Aceh. Menurut amatannya, kondisi rumah singgah sudah cukup memuaskan dan ia meminta pada pihak rumah sakit agar beberapa fasilitas yang belum terpenuhi untuk segera dilengkapi.

Dalam kesempatan itu, Dyah berpesan kepada pengelola rumah singgah agar mengingatkan pasien untuk patuh dalam merawat dan menjaga kebersihan tempat tersebut. Rumah singgah itu nantinya akan dimanfaatkan oleh pasien miskin yang daerahnya berada jauh dari Banda Aceh. Dengan demikian, kehadiran fasilitas tersebut dapat mengurangi beban pasien jauh yang sebelumnya harus mencari tempat tinggal selama berobat jalan di RSUDZA, Banda Aceh.

Rumah Singgah yang akan segera diresmikan itu menyediakan 128 kasur, 4 kamar mandi, 1 dapur dan satu gudang penyimpanan barang.

Sementara itu, Direktur RSUZA, Azharuddin, mengatakan banyaknyab kasus penyebaran penyakit TBC disebabkan keengganan pasien memeriksa kondisinya ke rumah sakit. Hal itu dikarenakan adanya stigma dalam masyarakat kalau penderita TBC harus dihindari.

Oleh karena itu, ia mengajak PPTI dan PKK Aceh untuk menjadi role model dalam memberikan sosialisasi pencegahan serta pendeteksian dini TBC di lingkungan masyarakat.
Tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Aceh, jumlah kasus TBC untuk tahun 2018 berjumlah 8.471 kasus, 240 di antaranya mengindap pada anak berusia 0-14 tahun. (ra)