Penobatan Kaisar Baru Dapat Libur 10 Hari, Orang Jepang Malah Bingung

JEPANG (RA) – Pada akhir April Jepang memberikan ekstra hari libur 10 hari kepada semua orang untuk merayakan penobatan kaisar barunya, tetapi justru banyak orang yang tidak senang dengan liburan tambahan itu.

Dilansir dari Business Insider pada Rabu (3/4), Kabinet Jepang November lalu menyetujui RUU untuk menciptakan hari libur nasional pada 30 April, 1 Mei, dan 2 Mei untuk merayakan kenaikan Putra Mahkota Naruhito menjadi Kaisar Jepang pada 1 Mei.

Ayah Naruhito, Kaisar Akihito akan turun tahta pada akhir bulan ini. Negara ini sudah memiliki tanggal 29 April, dan 3 Mei hingga 6 Mei yang dikenal sebagai ‘Golden Week’ sebagai hari libur nasional. Bila digabungkan, maka akan menjadi 10 hari berturut-turut.

Sejumlah warga Jepang merayakan liburan ekstra panjang dengan memesan liburan ke luar negeri. Namun banyak juga warga Jepang yang mengeluh tentang kurangnya layanan pengasuhan anak dan lainnya.

Agen travel telah melihat peningkatan dramatis dalam permintaan untuk layanan perjalanan. Jumlah pemesanan untuk perjalanan ke luar negeri telah meningkat tiga kali lipat dengan kebanyakan peminat memesan tiket untuk menikmati liburan kapal pesiar mewah.

Juru Bicara Nippon Travel Agency, Hideki Wakamatsu mengatakan, sebagian besar tur Golden Week-nya telah terjual habis dan banyak orang masuk daftar tunggu.

Sementara itu, anak-anak muda sering memulai konkatsu ‘berburu pasangan.’ Zwei Co, sebuah perusahaan perjodohan besar di Jepang mengatakan, mereka mengharapkan lebih banyak pelanggan dan mempertimbangkan diskon beberapa layanan mereka.

Tetapi ternyata tidak semua orang senang dengan liburan panjang. Menurut sebuah survei oleh surat kabar Jepang Asahi Shimbun, 45 persen responden mengatakan, mereka merasa tidak bahagia tentang liburan panjang. Sementara hanya 35 persen mengatakan, mereka senang dengan liburan panjang.

Banyak wanita mengatakan pada survei Expedia Oktober lalu, mereka takut melakukan pekerjaan rumah tangga tambahan karena suami dan anak-anak mereka berada di rumah, bukan di tempat kerja atau sekolah.

Pecandu kerja Jepang juga berjuang untuk mengatasinya. Jepang terkenal dengan budaya kerjanya yang tak henti-hentinya dan pasar tenaga kerja yang kaku. Ini telah menyebabkan ratusan orang meninggal karena kerja berlebihan setiap tahun selama dekade terakhir.

Seishu Sato, seorang pekerja keuangan, 31, mengatakan kepada AFP, “Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana menghabiskan waktu ketika kami tiba-tiba diberikan 10 hari libur,” katanya. (jawa pos)