Terimakasih Mahasiswa

Perwakilan mahasiswa yang berasal dari seluruh Universitas se-Aceh yang tergabung dalam Korps Barisan Pemuda Aceh (Korps BPA) berunjuk rasa menolak perusahan tambang PT Emas Mineral Murni (EMM) di halaman Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Aceh, Kamis (11/4).

BANDA ACEH (RA) – Aceh Institute (AI) mengapresiasi kerja keras mahasiswa Aceh yang tergabung dari berbagai universitas yang berunjuk rasa menuntut dicabutnya izin operasi PT EMM di Nagan Raya dan Aceh Tengah.

Dalam hal ini, Aceh Institute merasa gerakan demonstrasi ribuan mahasiswa dalam tiga hari terakhir check and balance atau pressure group mahasiswa, sudah mulai mendapatkan momentumnya kembali.

Dikatakan, khittah perjuangan mahasiswa yang selama ini tenggelam, dinilai telah kembali muncul dari tidur lamanya untuk menyampaikan aspirasi dan emosi bersama bahwa mahasiswa, rakyat dan semua elemen sipil yang ada di Aceh.

“Ketika yang lain absen, mahasiswa membangkitkan kembali semangat demokrasi bahwa para elit harus mempunyai kemampuan membaca keinginan rakyat, dan dalam hal ini diwakili oleh suara mahasiswa yang sudah berkali-kali berharap bisa didengar,” sebut Direktur Eksekutif Aceh Institute, Saiful Akmal, Kamis (11/4).

Namun demikian, pihaknya meminta kepada mahasiswa untuk senantiasa konsisten, mengedepankan intelektualisme, mengkaji dan berpikir jernih, serta santun dalam menyampaikan aspirasinya demi ketertiban dan keamananan bersama. Tidak ada sikap anarkis dan provokatif.

Mahasiswa diharapkan mampu mendialogkan poin-poin yang disampaikan, dengan argument yang kuat dan kajian ilmiah dan meyakinkan semua pihak pemangku kepentingan. Mahasiswa yang menjadi symbol heroik perjuangan intelektual sangat diyakini bisa bersikap rasional dan juga menjembatani kepentingan banyak pihak dalam setiap aksinya.

“Mahasiswa juga harus senantiasa waspada atas pihak-pihak yang ingin memboncengi proses demontrasi ini dari anasir dan cuak-cuak perjuangan. Para provokator akan dengan jeli memanfaatkan isu ini atas kepentingan pribadi, kelompok, golongan dan afiliasi politiknya,” tuturnya.

Hal ini mengingat, hiruk pikuk momen menjelang perhelatan demokrasi Pilpres dan Pileg 2019, kehati-hatian terhadap kelompok yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, dinilai sangat diperlukan. Karena itu, Aceh Institute berharap upaya yang sejauh ini dijalankan bisa tepat sasaran, solutif dan tidak terdistorsi menjadi aksi-aksi kekerasan dengan sadar atau tanpa sadar.

“Mahasiswa bisa menjadi contoh bagi banyak pihak dalam menjaga kesatuan barisan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat. Mahasiswa perlu merapatkan barisan dan tidak boleh disusupi kelompok-kelompok yang ingin memprovokasi & membelokkan tujuan advokasi,” tutupnya. (icm/min)