Inilah kebahagiaan Santuni Anak Yatim Piatu Penghafal Alquran

Meulaboh (RA) – Mencari keberkahan di Bulan Suci Ramadhan 1440 Hijriah ini. Persatuan Istri Karyawan PT. Karya Tanah Subur (Persika – KTS), tertarik menghabiskan waktu bersama anak-anak yatim piatu, santriwati (penghafal Alquran) di Dayah Tahfiz Quran Annisa, Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.

Begitu mulianya, program ini. Tak hanya memberikan motivasi semata, Persika – KTS juga turut berbuka puasa bersama santriwati secara akrab dan kekeluargaan.

Empatinya, mereka turut menyiapkan paket santunan demi meringankan kebutuhan sehari-hari anak yang telah ditinggalkan kedua orang tuanya, ini.

Dana santunan, berasal dari patungan karyawan PT. KTS Aceh Barat. “Biar jangan perusahaan saja berpahala, kami juga mencari pahala dan keberkahan. Membantu anak yatim piatu inilah yang paling tepat dan mulia,” ungkap Administratur PT Karya Tanah Subur (KTS) Aceh Barat, Maratuah Nasution didampingi Humas Suhaimi, Sabtu (11/5) malam.

Selama ini, puluhan satriwati yang berada di Dayah Tahfiz Quran Annisa Meulaboh, hanya fokus menyempurnakan hafalan Quran, demi mengejar cita-cita menjadi hafis. Sehingga terlalu jarang bergaul dengan dunia luar.

“Memang kunjungan ini bertujuan meningkatkan tali silaturahmi antara perusahaan dengan masyarakat luar, seperti santri. Tapi berdekatan dengan anak yatim piatu itu, lebih mampu membikin hati bahagia dan meneduhkan,” kata Maratuah.

Manajemen PT. KTS Aceh Barat, tanpa mencari pujian, memang kerap aktif mendukung program meramaikan masjid di daerahnya. Sebagai contoh, mendukung program kegiatan di masjid desa sekitar perusahaan.

“Apa saja lah, yang penting untuk meramaikan masjid dan beribadah. Apa itu safari Jum’at dan lain-lainya. Kayak kunjungi Dayah Tahfiz Quran Annisa, ini rencana ibu-ibu. Saya tetap akan mendukung selama tujuan itu mulia!” tuturnya.

Beberapa jam berada di Dayah Tahfiz Quran Annisa, Maratuah yang telah terbiasa memimpin manajemen sebuah perusahaan, tak hanya berdiskusi metode santri belajar semata.

Namun ia juga memperhatikan kesiapan (terampil) pihak pengelola dayah dalam menghadapi berbagai masalah, yang umum terjadi di tengah kehidupan ini.

Seperti; anak sakit, potensi bencana kebakaran, dan sampai langkah mengatasinya. “Ini untuk sebuah dayah, kotak pertolongan pertama kecelakaan (P3K) harus lebih besar dan lengkap obatnya, biar dapat mengatasi masalah gangguan kesehatan ringan, yang setiap saat dapat menyerang anak. Ini kotak terlalu kecil, nanti ada yang lebih layak,” tunjuknya, ke P3K di dinding.

Demikian juga dengan kerberadaan tabung pemadam kebakaran di dayah. Ini wajib ada, karena bagian dari perlindungan atau mencegah terjadikan potensi kebakaran.

“Nanti segala perlengkapan yang kurang akan dipersiapkan. Juga akan saya bawa tim dokter kesehatan (stok obat) beserta tim pencegahan bencana, biar langsung mendemontrasikan kepada pengelola dayah, agar paham,” rencana Maratuah Nasution.

Melihat respon Manajemen PT. KTS Aceh Barat, Ustazd Safrizal yang menjadi penanggungjawab Dayah Tahfiz Quran Annisa Meulaboh, terlihat senang dan terharu. Ia mengucap syukur atas kehadiran manajemen perusahaan di tengah mereka.

“Ini suatu kebahagian bagi kami dan santri, karena selama ini sangat jarang pihak luar melihat kami. Ini adalah keberkahan Ramadhan serta kebahagiaan bagi santri yang merupakan anak yatim dan piatu, karena ada yang menghibur mereka,” tuturnya.

Dengan adanya kunjungan dan dukungan dari PT. KTS, diharapkan Ustazd Safrizal, dapat menumbuhkan semangat, menjadi memotivasi santriwati lebih fokus menghafal Quran.

Menjadi seorang hafiz Al-Quran merupakan sangat mulia serta tercatat sebagai berprestasi yang menakjubkan. Lantaran mampu menjadi inspirasi bagi orang lain.

Ustazd Safrizal, juga melihat raut wajah santriwati begitu bahagia menerima kehadiran ibu-ibu Persika – KTS. “Ibarat menerima kunjungan orang tua mereka.”

Apalagi, selama ini mereka sangat jarang berhubungan dengan dunia luar. “Disini tidak ada hand phone dan televisi. Jadi rutinitas hanya belajar dan menghafal Quran semata,” jelasnya.

Santriwati yang berada di Dayah Tahfiz Quran Annisa hanya berjumlah 19 orang. Keseluruhannya merupakan anak yatim piatu berasal dari keluarga yang kondisi ekonominya, sangat kekurangan.

“Di tahun ajaran baru ini (2019), ada puluhan anak yang mendaftar. Tapi karena syarat sangat selektif, lebih mengutamakan yatim piatu yang dhuafa lagi. Mungkin yang pantas di terima hanya 10 orang,” tutupnya.(den)