WAWANCARA: Pelatih Baru Persiraja, Hendri Susilo Bicara Persaingan Liga 2 Musim ini

Pelatih Persiraja, Hendri Susilo. FOTO: ARIFUL USMAN/RAKYAT ACEH

Harianrakyataceh.com – Diantara banyak pelatih, baik berkebangsaan Indonesia maupun luar negeri yang coba dipantau Persiraja, akhirnya tim seleksi pelatih memutuskan satu nama, yaitu Hendri Susilo. Ia dipercaya menahkodai tim berjuluk Laskar Rencong musim kompetisi 2019 Liga 2.

Oleh banyak orang meanggap Hendri merupakan pelatih Sumatera Barat, Padang tulen. Namun, dalam penuturannya kepada jurnalis Rakyat Aceh, Ichsan Maulana saat wawancara, bahwa kedua orang tuanya berasal dari Jawa, Kutoharjo.

Ayahnya yang berprofesi sebagai TNI, di masa pemerintahan Soeharto dengan program transmigrasi diminta hijrah ke Bukittinggi. Di sanalah Hendri Susilo lahir. Ia menghabiskan masa pendidikan sampai jenjang SMA di sana.

Sepakbola adalah pilihan hidupnya, usai menjadi pemain dan bermain untuk sejumlah klub, ia mengepakkan sayap menjadi juru latih. Saat ini, ia dikenal sebagai salah yang mampu membangun tim dengan baik. Jika diperhatikan, formasi 4-4-2 seakan menjadi kegemarannya, sekalipun tergantung situasi dan lawan yang dihadapi.

Hendri Susilo mengaku dirinya dari awal sudah berminat ke Persiraja. “Ya alhamdulillah direspon sama manajemen. Singkat cerita akhirnya saya ke sini (Persiraja).

Klub apa saja yang coba berkerjasama dengan anda?

Sebelum saya memutuskan ke Persiraja, ada banyak ya tim yang ingin kerjasama, bukan sombong. Ada Mitra Kukar, Tuban, Madura FC, Ciamis juga ada.

Alasan memilih Persiraja?

Saya lihat di Aceh ini Pak Aminullah dan Pak Nazaruddin Dek Gam sangat serius. Dia orang yang gila bola dan serius untuk mengembangkan sepakbola. Kelihatan dari orangnya.

Apakah akan banyak melakukan perubahan di Persiraja?

Saya tidak akan banyak merubah, mungkin hanya ada satu dua pos.
Pada prinsipnya saya tidak akan merubah apa yang telah coach Akhyar lakukan. Alasannya; persiapan gak ada. Singkat sekali kalau mainnya jadi tanggal 16. Dan Akhyar lebih tahu karakter pemain yang musim lalu dia pegang, yang 80 persen (pemain) tetap di situ. Ditambah lagi dengan pemain Aceh United yang notabene pemain Persiraja. Ya kayak Ferry Komul.

Bagaimana peta persaingan untuk tahun ini?

Kita gak bisa bicara tahun lalu, itu masa lalu. Proyeksi kita ke depan (tahun ini). Saya pikir di grup kita ini berat. Ada PSMS hidup kembali, Persita Tangerang yang bertarget, yang TC-nya sudah lama termasuk Sriwijaya dan Persis Solo. Saya pikir kita tidak boleh bermain-main untuk grup ini untuk mencapai (katakanlah) delapan besar. Jadi start-nya harus bagus.

Salah satu kekurangan Persiraja musim lalu adalah minimnya kemenangan di partai tandang, bagaimana anda membenahi ini?

Yang akan saya lakukan melakukan perubahan di mentality. Saya akan masuk ke individual pemain, artinya main di kandang maupun tandang sama saja. Main di luar anggap kandang sendiri, main di kandang apalagi. Jadi kita hilangkan, nanti begini begitu, enggak. Kita tetap harus menang, minimal dapat poin (imbang). Itu yang akan kita terapkan untuk memotivasi pemain dan meningkatkan kepercayaan diri pemain.

Berkaca dari sengkarut skandal sepakbola Indonesia, terutama Liga 2 tahun lalu, apa tanggapan anda?

Itulah mas, saya sedih ya. Kita mau menyalahkan siapa, kita gak tahu. Tapi kenyataannya memang ada dan seperti itu. Saya pikir itu rusak sekali, sebagai bagian dari sepakbola saya sedih. Itu tragedi sepakbola yang sangat meyakitkan, beritanya sampai ke luar negeri.

Saya berharap selaku pribadi, atau selaku pelaku sepakbola, dengan kasus-kasus kemarin, ada perubahan lah. Jangan ada lagi settingan, itu artinya kita mengibuli/membohongi rakyat, berjuta-juta penggemar bola ditipu. Yah, sekalipun itu sudah terjadi.
Mudah-mudahan dari kejadian itu, apa yang sedang dilakukan aparat, ada efek jera lah buat pelaku-pelaku seperti itu. Biar Sepakbola kita maju, sepakbola kita saat ini terpuruk. 10 tahun kemarin kita terpuruk sangat. Mudah-mudahan ada langkah-langkah baru ke depannya.

Seperti apa Akhyar Ilyas di mata Hendri Susilo?

Saya pikir selama kinerja Akhyar di Persiraja, saya lihat bagus ya. Pelatih muda seperti Akhyar bisa meminej Persiraja, mampu bersaing di Liga 2, saya pikir dia sukses. Dan Akhyar mau belajar. Artinya, pelatih itu memang harus banyak belajar dari pelatih-pelatih lainnya. Saya pikir ini strategi juga (dari manajemen) dengan adanya saya, Akhyar belajar dari saya, dan saya banyak belajar dari dia. Saya pikir Akhyar adalah salah satu pelatih potensial dari Aceh.

Pesan untuk Akhyar?

Pesan saya untuknya, Akhyar harus banyak melihat, mendengar, bertanya, banyak mengevaluasi diri, bahwa menjadi pelatih itu tidak gampang, apalagi di Indonesia. Tetap rendah hati. Banyak belajar, banyak baca, karena sepakbola itu perkembangannya sangat cepat. Maka saya anjurkan, kalau ada waktu, selesaikan segera diploma (lisensi) yang A itu.
Itu penting. Karena walau kita mantan pemain, sekarang yang ditanya orang-orang diploma (Lisensi). Dan memang aturannya seperti itu.

Di Indonesia, Sumatera Barat banyak melahirkan pelatih bagus, apa rahasianya?

Kalau pelatih Padang, termasuk saya, Indra Sjafri, Jafril Sastra, Nil Maizar, saya pikir orang-orang ini berani sekolah, berani keluar, mas. Mereka juga mau belajar. Karena kemauan kami kuat untuk jadi pelatih, ya pengorbanan. Sekolah pelatih itu juga gak gampang, gak murah. Ambil lisensi sepakbola itu sama aja seperti jadi dokter, ambil spesialis. Susah dan mahal. (icm/rif)