Relokasi Murah, Warga Bertahan Hidup di Alam Debu

Meulaboh (Ra) – Mengakui gangguan debu batubara sangat  sesak dan tidak nyaman. Namun sejumlah warga Dusun Pertanian, Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meurebo, Kabupaten Aceh Barat, tetap menolak tawaran relokasi. Alasannya, ganti rugi terlalu murah!

“Tidak wajar jika masih dipatok nilai tanah dengan harga program relokasi Tahun 2017 lalu. Seharusnya, seiring berganti tahun, naik juga harga ganti rugi atau lebih ideal,” ungkap Baharuddin (49), satu dari sejumlah warga Dusun Pertanian, Desa Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meurebo, yang menolak menerima tawaran relokasi PT. Mifa Bersaudara, Rabu (22/5).

Padahal, penelusuran media ini, gelagat Baharuddin bersama istri dan empat anaknya terlihat sangat tak nyaman menetap di rumah yang berdekatan dengan lokasi penimbunan (stockpile) material batubara. Hanya berjarak beberapa puluhan meter dari kediamannya.

Langkah Baharuddin minimalisir dampak pencemaran debu batura masuk ke lingkungan rumah, selain menutup pintu rapat-rapat, juga menututup seluruh lubang angin atau jeruji secara rapat, demi menghindari debu halus hitam pekat masuk ke dalam rumahnya.

”Meskipun sudah saya tutup serapat mungkin, yang namanya debu halus tetap masuk juga diterbangkan angin,” katanya, sambil mengusap telapak tangan di atas meja kaca ruang tamu.

Sederhananya, dengan sedikit sapuan tangan di atas meja ruang tamunya, ia telah mampu membuktikan kediamannya “tercemar udara debu batu bara” yang terpaparkan dari stockpile milik PT. Mifa Bersaudara.

Tapi ia tetap menolak mengikuti jejak 11 Kepala Keluarga (KK) yang telah menerima tawaran relokasi perusahaan tambang batubara, lantaran harga ganti rugi yang ditawarkan masih dengan harga lama, yakni Rp 500 ribu/meter. “Itu harga mulai tahun 2017-2018, kok tahun 2019 masih dengan harga itu. Tidak wajar saja,” sebut Baharudin.

Selain Baharuddin, masih terdapat belasan rumah lainnya yang belum menerima program relokasi dari PT, Mifa Bersaudara.

Jika ditanya pendapat beberapa warga lain, alasan serupa juga menjadi dasar penolakan mereka. Lantaran kalkulasi atau nilai ganti rugi yang ditawarkan perusahaan tambang tak bakalan mencukupi untuk membeli lahan dan membangun rumah baru.

Sebagai contoh, seorang ibu menetap di Dusun Pertanian, yang telah menerima ganti rugi pondok atau balai mengaji senilai Rp 40 juta lebih. Namun saat ia membangun balai pengajian di lokasi lain, malah uang senilai Rp 40 juta, tidak mencukupi untuk membiayai segala biaya pembangunan. “Harus nombok lagi,” keluh ibu yang menolak namanya dicatut media ini.

Dengan penuh harapan, warga Dusun Pertanian, sangat memohon kepada PT. Mifa Bersaudara agar dapat memikirkan langkah antisipasi pencemaran lingkungan debu batubara yang berasal dari stockpile.

”Harus benar-benar memikirkan langkah minimalisir dampak paparan debu batu bara. Mohon jangan anggap remeh, karena ini terkait kesehatan warga yang berdomisili di Dusun Pertanian, desa Peunaga Cut Ujong,” pinta warga.

Terpisah, Kuasa Hukum PT. Mifa Bersaudara, Sophan Sosila Tumanggor, menjawab melalui pesan singkatnya, jika penerimaan atau tidak program relokasi dari perusahaan, tergantung dari warga Dusun Pertanian.

“Oh itu kita serahkan ke masyarakat aja, kalau memang masyarakat tidak mau. Terkait harga ganti rugi tetap nilainya sesuai harga lama,” jawabnya.(den)