Harga Kopi Bener Meriah Anjlok

Net

REDELONG (RA) – Antisipasi harga kopi yang anjlok, Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah berencana akan mengoptimalkan sistem resi gudang dan meningkatkan pasar domistik, pengunaan serta Corporate Social Responsibility ( CSR ) dengan sistem yang baik.

Kebijakan ini merupakan kesimpulan dari Rapat Kordinasi yang digelar Pemkab Bener Meriah terkait keresahan masyarakat petani kopi atas anjloknya harga hasil perkebunan mereka selama sebulan ini. Gelar rapat kordinasi mengumpulkan Para Ekspotir Kopi di di ruang offroom Setdakab setempat Selasa (21/5 ).

Rapat koordinasi langsung dipimpin Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi didampingi Kepala Dinas Perdagangan Bener Meriah Miharbi Metro, S. Sos membahas persoalan-persoalan yang mengakibatkan turunnya harga kopi di kabupaten bener meriah sejak sebulan terakhir.

Dalam kesempatan tersebut, Sarkawi, meminta para eksportir ataupun koperasi yang hadir, menjelaskan penyebab anjloknya harga jual kopi di tingkat masyarakat,serta meminta solusi apa yang harus diupayakan pemerintah agar harga kopi dapat segera setabil.

Sarkawi juga menegaskan, perlu penjelasan yang logis dan dapat dipercaya masyarakat dari pihak pengusaha kopi. Masyarakat saat ini membutuhkan penjelasan yang dapat diterima akal mereka.

Menanggapi hal itu salah satu perwakilan eksportir kopi Armia, mengatakan, ada beberapa faktor mempengaruhi harga kopi turun dan biasanya disaat-saat kopi panen raya.
Menurutnya, turunnya harga kopi saat ini bukan hanya terjadi di daerah, namun saat ini probelema turunya harga sudah menyeluruh dan menjadi persoalan global seiring meningkatnya produksi kopi diseluruh dunia.

“Dalam hukum dagang turun naiknya suatu harga itu hal yang lumrah sebab, ketika suatu produksi barang itu sedikit sementara permintaan pasar meningkat maka harga akan naik, sebaliknya bila mana produksi suatu barang melimpah sementara permintaan pasar menurun maka sudah pasti harga akan turun,” terang Armia.

Sejauh ini katanya harga kopi Arabika Gayo masih tertinggi di pasaran New York dibandingkan kopi dari daerah lainnya sehingga kopi gelondongan masih bisa dibeli dari masyarakat dengan harga 9.500hingga 10.000 per bambu.

Dijelaskanya, turunya harga di pasaran global mengakibatkan harga kopi di daerah juga menurun. “Mau tidak mau kita harus mengikuti pasar global, karena turun naiknya harga kopi itu menjadi wewenang pasaran global” katanya.

Sementara itu Burhanuddin, salah satu perwakilan Koperasi di Bener Meriah meminta Pemerintah daerah untuk memanfaatkan resi gudang dan mengupayakan dana talangan disaat terjadinya haraga anjlok.

“Pemerintah harus memaksimalkan sistem resi gudang ( SRG ), untuk menahan barang pada saat terjadinya turun harga dan kalau bisa pemerintah menyediakan dana talangan khusu untuk kopi,” tegasnya.

Menurutnya, cara ini sudah pernah ditawarkan pemerintahan sebelumnya tahun 2013lalu yang harga jual gelondong mencapai 4000 perbambu. “Saat itu belum terealisasi dan apa yang saya usulkan untuk mempertahan kestabilan harga terbukti kala itu dan 2 bulan kedepannya harga kopi melonjak naik kembali,” ungkapnya.

Selain itu salah seorang pengusaha kopi lainya mengatakan, hal yang perlu dilakukan pemerintah daerah, adalah memanfaatkan objek-objek wisata dan promosi serta membuat festival kopi yang pernah dilakukan seperti di kabupaten tetangga Takengon.

Sementara itu kepala dinas perdagangan, Miharbi menyebutkan selama ini resi gudang dikelola pihak ketiga namun pengelola gudang tersebut tidak memaksimalkan keberadaan resi gudang itu sendiri.

Kedepan ia juga berharap yang mengelola resi gudang tersebut dapat maksimal keberadaannya, sehingga dapat mengatasi persoalan ketika harga kopi menurun seperti saat ini. (uri/min)