Ramadhan dan Penguatan Keluarga

Oleh: Harri Santoso dan Cut Almira Meutia

Harta yang berharga
Adalah keluarga
Istana yang paling indah
Adalah keluarga”
“Puisi yang paling bermakna
Adalah keluarga
Mutiara tiada tara
Adalah keluarga”

Lagu diatas adalah soundtrack film yang cukup popular di masa remaja penulis sekitar tahun 1990-an film yang berjudul “Keluarga Cemara”. Film yang bercerita tentang keluarga sederhana yang tinggal di sebuah desa kecil dianggap merupakan sebuah film yang banyak memberikan pengajaran tentang hidup dan kehidupan. Setelah kurang lebih 20 tahunan, rasanya apa yang menjadi bait-bait dalam lagu tersebut masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat yang ada di zaman ini.

Ditambah lagi dalam suasana ramadhan 1440 Hijriah. Keluarga adalah sebuah tempat yang sangat indah dimana seluruh anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Keluarga adalah sebuah tempat dimana seluruh anggota keluarga saling menghargai satu sama lain sehingga ianya dapat menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan saling menghargai.

Merujuk pada fungsi keluarga menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Nasional (BKKBN) tahun (2019) disebutkan untuk dapat mewujudkan Indonesia sejahtera dengan dasar keluarga yang bahagia dan sehat, setiap individu dalam keluarga harus mampu menjalankan 8 fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pelestarian lingkungan. Tentunya membandingkan suasana 20 tahun yang lalu dengan saat ini sangat tidak relevan namun perubahan zaman dan waktu tidak mampu merubah tujuan dan fungsi keluarga bagi individu sebagai tempat tertanamnya cinta, agama, rasa kasih dan sayang sehingga sebuah keluarga harmonis akan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang optimis, percaya diri dan seluruh nilai-nilai positif seorang manusia.

Jika kita melihat bagaimana profil kehidupan keluarga khususnya keluarga yang tinggal diwilayah perkotaan saat ini, kesibukan kehidupan seperti bekerja atau mencari nafkah dan belajar telah merengangkan tali komunikasi antar anggota keluarga sehingga tidak jarang kita temui fenomena keluarga hari ini, sebuah keluarga duduk bersama namun masing-masing disibukkan dengan smart-phone mereka, secara fisik bersama namun pikiran berada di dunia ketiga yaitu dunia media sosial. Kondisi ini jika terjadi secara terus menurus jika tidak di sikapi secara bijak tentunya akan menghilangkan fungsi sebuah keluarga dalam kehidupan manusia. Lihatlah bagaimana contoh-contoh kasus yang disebabkan oleh kurangnya komunikasi antara anggota keluarga.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Rimporok P.B (2015) yang disampaikan dalam Jurnal Acta Diurna menyebutkan bahwa intensitas komunikasi dalam keluarga dapat menjadi faktor yang meminimalisir terjadinya kenakalan remaja di Desa Kabupaten Minahasa Utara.

Selanjutnya Tokoh Nasional yang peduli terhadap anak Kak Seto (2012) menyebutkan bahwa kasus Bullying terjadi akibat kurangnya komunikasi antara anak dan keluarga. 2 masalah yang penulis sebutkan diatas menunjukan pentingnya keberadaan keluarga dalam munculnya masalah dalam kehidupan manusia. Sebuah keluarga inti yang terdiri dari seorang ibu, bapak dan anak-anak jika ianya mampu menjadi sebuah situasi dan tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang mereka baik biologis dan psikologis, maka keluarga ini akan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang tangguh dan hebat yang akan mengisi kelompok masyarakat yang lebih besar.

Dalam skala yang lebih besar, ternyata komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga juga dapat mengurangi resiko terjadinya tawuran antar pelajar sebuah permasalahan yang kerap kali muncul di dalam masyarakat kita hari ini.
Bagi keluarga muslim, hadirnya bulan Ramadhan hendaknya mampu menjadi moment penting bagi penguatan keluarga. Waktu selama 30 hari dimana ada banyak moment yang “menuntut” para anggota keluarga untuk dapat berjumpa dan berinteraksi secara lebih intens.

Interaksi yang intens acapkali tidak dapat terjadi meskipun mereka tinggal dalam rumah yang sama karena masing-masing anggota keluarga memiliki waktu dan kegiatan yang berbeda di bulan di luar bulan Ramadhan. Melalui moment Ramadhan mulai dari makan sahur, buka puasa, shalat tarawih hingga membaca Al-quran bersama-sama adalah waktu yang sangat efektif untuk membangun komunikasi sesama anggota keluarga.

Melaksanakan kegiatan ibadah bersama-sama tidak saja menyehatkan fisik namun juga dapat menyehatkan psikologis secara bersama-sama dalam sebuah keluarga. Ibadah puasa Ramadhan juga mampu memberikan waktu kepada orang tua untuk dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya seperti penanaman nilai-nilai kejujuran, kepedulian sosial dan peduli terhadap sesama.

Selain itu, pembiasaan membaca Al-quran kepada anggota keluarga di malam-malam Ramadhan juga mampu mengajarkan kepada anggota keluarga untuk membangun budaya membaca, sebuah budaya yang sangat penting dalam peradaban manusia dan yang terakhir suasana Ramadhan tidak saja mampu menguatkan nilai keluarga inti namun juga dapat membangun nilai-nilai keluarga yang lebih besar seperti kampong, kecamatan, kota bahkan Negara.

Semoga Ibadah Suci Ramadhan 1440 H tahun ini mampu menguatkan nilai-nilai jutaan keluarga muslim Indonesia selanjutnya jutaan keluarga ini akan menjadikan negeri Indonesia menjadi negeri yang Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri yang subur dan makmur serta masyarakatnya tidak lupa bersyukur atas seluruh anugerah dan kenikmatan dari Allah SWT. Wallahu a’lam bissawab.

Harri Santoso, S.Psi., M.Ed dan Cut Almira Meutia.,S.Psi adalah pasangan suami isteri dengan 4 orang anak berdomisili di Dusun Teratai Kecamatan Jayabaru Kota Banda Aceh.