Nasib Frustrasi Petani Diteror Limbah Batu Bara

Meulaboh (RA) – Mimik wajah terkesan kecewa, ketat, diam, dan begitu menegangkan. Pandangan saksama memperhatikan pertumbuhan tanaman padi berusia belasan hari, sambil terduduk lesu di pondok kecil pematangan sawah. Kesuburan menjadi awal harapan ekonomi M. Areh S (50) warga Desa Balle, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, untuk menafkahi keluarganya. Minggu (9/6) petang.

Keluhannya, tanaman padi kisaran tinggi 8 – 10 Centimeter (Cm) miliknya, tiba-tiba mendadak layu dan mati. Ia mengaku sempat frustrasi. Namun tak berlangsung lama, setelah menerima bantuan bibit segar dari seorang tetangga yang merasa iba dengan nasib sial, dialami M. Areh.

“Untung ada bibit padi bantuan dari Mak Bayani. Jadi mulai saya ganti bibit mati dengan bibit baru yang masih segar,” ujar Areh.

Pengakuannya, dari empat petak tanaman padi mengalami masalah pertumbuhan, hanya dua petak yang hampir keseluruhan bibit mengalami layu dan mati, secara mendadak. Dugaan Areh, imbas dari air kontaminasi limbah batu bara. “Kemarin ini saya naikan air sungai untuk mencukupi asupan pertumbuhan padi di sawah. Setelah itulah bibit padi mulai terlihat layu dan mati,” jelasnya.

Melihat keadaan demikian, Areh mengaku hanya bisa pasrah dan hanya mengeluhkan nasib sialnya, dengan sesama teman kelompok tani Desa Balle. Tanpa ada inisiatif memprotes dugaan pencemaran limbah kepada perusahaan tambang yang beroperasi di sekitar area persawahan mereka.

Berdasarkan informasi petani setempat, selain M. Areh, kondisi bibit padi mati pada musim tanam gadu tahun 2019 ini, juga sempat dialami M. Yusuf, K. Namun petani ini, terus berupaya mengganti tanaman mati dengan bibit yang masih baru dan segar.

CSR dan Corporate Communication Manager PT. Mifa Bersaudara, Azizon Nurza,  beberapa waktu lalu, melalui sejumlah wartawan, mengeluarkan statement ‘mempersilahkan’ warga atau petani melaporkan keluhan dugaan limbah batu bara kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Aceh Barat. “Lapor ke DLHK dulu, biar di cek pada laboratorium,” tuturnya.

Jika kajian laboratorium, menyimpulkan hasil positif atau benar adanya pencemaran limbah batu bara, maka manajemen perusahaan akan melakukan tindak lanjut penanganan limbah sesuai aturan yang berlaku.

Tgk. Khardawi, petani kelompok Tani Ingin Maju Desa Balle, malah menolak mentah-mentah tawaran Azizon Nurza untuk membuat laporan resmi kepada instansi terkait. “Untuk apa lapor ke DLHK? Tidak ada hasil juga. Pengalaman Tahun 2017 lalu, ketika hampir seluruh tanaman padi mati usai tergenang air limbah batu bara. Hasil lab DLHK malah menyatakan penyebab kematian bukan karena limbah,” bantahnya, ekspresi pesimis.

Khardawi melihat penyebab terlalu sering mengalir air keruh diduga tercemar limbah batu bara, di persawahan petani, lantaran sistem pengelolaan limbah tidak ditangani secara serius. Sebagai contoh, tidak ada terlihat bantuan alat berat yang dapat mengangkat atau membuang kerak limbah yang memenuhi kolam penampungan.

”Kerak limbah yang mengendap itu, harus dibuang. Makanya tetap saja meluap dan tumpah ke (sungai) Krung Pungga dan pencemaran sampai meleber sampai ke krung tujoh,” penilaiannya.

Kondisi dugaan pencemaran limbah batu bara ini, sambung Khardawi, sering diproteskan warga kepada pihak PT. Mifa Bersaudara. Respon perusahaan, hanya sebatas jawaban klasik menenangkan petani, yakni “Iya! Dan berjanji akan memperbaikinya.”

Namun faktanya, air keruh limbah batu bara tetap saja sering mencemar sawah dan sangat merepotkan petani. “Kalau dari PT. Mifa Bersaudara itu, Pak Azizon Nurza, Pak Khadafi, dan seorang Humas lagi, terlalu sering saya jumpai. Hanya janji-janji saja untuk memperbaiki. Tiap tahun petani pasti ada layangkan protes mengenai gangguan limbah batu bara,” ucapnya.

Khardawi mengaku tak asing lagi terkait penanganan limbah batu bara di area tambang, lantaran ia ditunjuk menjadi perwakilan petani Desa Balle untuk serius mengecek dan membicarakan penanganan limbah, sampai melihat kekurangan sistem pengelolaan kolam limbah milik PT. Mifa Bersaudara.

Malahan Khardawi, lebih sependapat dengan ancaman Ketua Kelompok Tani Ingin Maju Yusuf (60), yang berencana akan ‘menghentikan’ segala aktivitas bercocok tanam padi, jika dalam dua tahun terakhir, PT. Mifa Bersaudara, tetap tidak mampu mengatasi masalah dugaan pencemaran limbah batu bara di sawah mereka.

Terpisah, Danrem 012 Teuku Umar, Kolonel Inf. Aswardi, meminta petani jangan sampai menghentikan rutinitas bercocok tanam padi, karena malah akan merugikan diri sendiri. “Jangan sampai berhenti menanam padi. Kalau berhenti yang rugi petani sendiri,” ucapnya, saat berada di Makorem, Aleu Peuyareng, Meureubo, Aceh Barat.

Ia langsung memerintahkan Dandim 0105 Aceh Barat untuk melakukan pengecekan di area sawah petani Desa Balle, demi mencari penyebab air keruh yang diduga tercemar limbah batu bara. “Pak Dandim langsung cek lapangan untuk mencari penyebabnya. Jika perlu ajak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk memastikan penyebab air sungai keruh,” pintanya.(den)