Kisah Nabi Isa dan Babi yang Melintas

Dalam kitab al-Shumt wa Âdâb al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya memasukkan riwayat dari Imam Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Berikut riwayatnya: حدثني الحسين بن علي بن يزيد أنبأنا عبد الله مسلمة، حدثنا مالك بن أنس رضي الله عنه قال: مرّ بعيسي ابن مريم عليه السلام خنزير، فقال: مُرَّ بسَلام، فقيل: يا روح الله، لهذا الخنزير تقول؟ قال: أَكْرَهُ أنْ أُعَوِّدَ لِسانِي علي الشَّرِّ Al-Husein bin Ali bin Yazid bercerita, Abdullah Maslamah bercerita, Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu bercerita kepada kami, ia berkata: Isa bin Maryam ‘alaihissalam berpapasan dengan seekor babi, ia berkata: “Melintaslah dengan selamat (hati-hati).” Kemudian ia ditanya: “Wahai ruh Allah, untuk babi ini kau berucap (seperti itu)?” Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku (mengucapkan hal-hal) buruk.” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shamt wa Âdâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1990, h. 176-177) **** Dari sudut pandang “terapan”, ucapan Nabi Isa ‘alaihissalam adalah pelatihan yang harus dibiasakan. Dari mulai yang paling sederhana, sampai yang paling rumit. Pembiasaan itu ia tampilkan dalam sikapnya pada seekor babi. Ia menganjurkan agar babi yang berpapasan dengannya untuk berhati-hati. Ucapannya tersebut tidak dipahami oleh orang-orang yang mendampinginya, mereka bertanya (terjemah bebas): “Kenapa kau berucap seperti itu untuk seekor babi?” Nabi Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku mengucapkan hal-hal buruk.” Dalam riwayat lain, Nabi Isa menjawab: إِنّي أخافُ أَنْ أُعَوِّد لِسَاني النطقَ بالسُوء “Sesungguhnya aku takut membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘alâ Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Dar al-Fikr, 2018, juz 4, h. 470) Pembiasaan itu penting karena dapat menjadi norma “rasa” dan “tubuh”, yaitu kebiasaan yang telah mendarah-daging sehingga terasa asing ketika tidak melakukannya. Contohnya orang yang terbiasa shalat, di titik tertentu ia akan merasa tidak tenang ketika tidak melakukannya, karena rasa dan tubuhnya telah ternormakan oleh “pembiasaan” itu tadi. Namun, kita harus tetap hati-hati agar shalat kita tidak menjadi aktivitas yang kering spiritualitas. Jangan sampai shalat kita termasuk dalam shalatnya orang-orang yang celaka. Allah berfirman (QS. Al-Ma’un: 4-7): فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ “Maka kecelakaan untuk orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” Perumpamaan lainnya adalah praktisi beladiri. Mereka memiliki kelenturan dan respon yang sangat cepat. Tubuh mereka seperti detektor yang bisa mendeteksi setiap gerakan yang hendak menyerang mereka. Oleh sebab itu, pembiasaan dalam berkata baik, sebagai bagian dari akhlak yang baik (min khusnil adab), sangat dianjurkan untuk dilatih. Agar lisan kita terjaga dari ucapan-ucapan buruk yang menyinggung perasaan. Dengan latihan, kita bisa mengontrol lisan kita di saat marah, meski kita sangat ingin meluapkannya dengan kata-kata, kita bisa menahannya. Seorang penyair mengatakan: تَعَوَّد الْخَيْرَ فَخَيْرُ عَادَةٍ # تَدْعو إلي الغِبْطَةِ وَالسَّعادَة “Biasakanlah kebaikan. Sebaik-baik kebiasaan adalah, yang mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.” (Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, Kairo: Dar al-Wa’yi, 1993, juz 27, h. 311) Syair tersebut merupakan lanjutan dari penjelasan Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar tentang riwayat yang menceritakan Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Sebelumnya Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar (368-463 H) berkomentar: إنّما قيل ذلك لعيسي لأن الخنزير كثير الأذَي لبَنِي آدم في أموالهم من زروعهم وكرومهم, وكذلك نقول لعيسي: تقول لخنزير خيرًا؟ فقال: أكْرَهُ أن أُعَوِّدَ لِسانِي النُّطْقَ بِالسّوء “Nabi Isa ditanya seperti itu karena sesungguhnya babi itu memberi banyak kerugian kepada bani Adam (manusia) dalam hal harta benda, yaitu (dalam) pertanian dan perkebunan mereka. Karena itu (seakan-akan) kita bertanya pada Isa: ‘Kau berucap baik kepada babi (yang sering merugikan kami)?’ Ia menjawab: ‘Aku tak ingin membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, 1993, juz 27, h. 311) Ini artinya kita harus menyingkirkan keburukan dari lidah kita. Dimulai dari berucap baik kepada makhluk Allah selain manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan dilanjutkan dengan berucap baik kepada sesama manusia. Meski binatang atau manusia tersebut sering menyakiti kita. Karena latihan terbaik dalam menjaga hati adalah bersabar dan berbuat baik kepada orang yang paling kita benci, termasuk kepada binatang. Maka, pantas saja kita sering mendengar kiai-kiai kita terdahulu sangat berhati-hati memperlakukan binatang. Mereka tidak berani melintasi ayam atau binatang apapun yang sedang makan, bahkan rela mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Jika dengan binatang saja mereka bisa sedemikian santun, apalagi dengan manusia. Karena itu, di hari yang fitri ini, kita harus meluaskan maaf kita, mengujarkan kebaikan dan menjauhkan keburukan dari lisan kita. Kita harus memulai pembersihan lidah kita dari meminta maaf pada orang yang kita kenal dan mengenal kita, karena tidak mungkin selama bergaul tidak ada salah terbuat dan singgung terucap. Kita juga harus meminta maaf kepada orang yang mengenal kita tapi kita tidak mengenal mereka, karena bisa jadi kita tidak membalas sapaan mereka dan memberi senyum sebagai hak mereka. Kita pun harus meminta maaf kepada orang yang kita kenal tapi mereka tak mengenal kita, bisa jadi kita pernah menggunjing mereka, membicarakan keburukan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan lupa, kita juga harus meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal dan mereka pun tidak mengenal kita, bisa jadi kita pernah bermuka masam kepada mereka, menginjak kaki mereka tanpa sengaja, menyerobot antrean mereka dan lain sebagainya. Ya, memang sukar menemui mereka satu persatu, apalagi orang yang tidak kita kenal. Paling tidak kita berdoa kepada Allah agar diampuni segala kesalahan, dan memohon kepada Allah untuk meluaskan pintu maaf mereka. Tentu saja, sebelum itu, kita harus memaafkan mereka terlebih dahulu, baik orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal. Dengan begitu, kita tidak terlalu malu untuk berdoa: “Ya Allah, luaskanlah pintu maaf bagi orang-orang yang pernah kusalahi, kusinggingi, dan kusakiti, terkhusus untuk orang-orang yang tak kukenali dan tak mengenalku. Karena aku tak berdaya memikirkan cara lain selain memohon kepada-Mu.” Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf atas segala salah, baik kesalahan yang tersengaja maupun tidak, dan kesalahan yang tertampak maupun tersembunyi. Wallahu a’lam bish shawwab... Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
Dalam kitab al-Shumt wa Âdâb al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya memasukkan riwayat dari Imam Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu tentang Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Berikut riwayatnya:
حدثني الحسين بن علي بن يزيد أنبأنا عبد الله مسلمة، حدثنا مالك بن أنس رضي الله عنه قال: مرّ بعيسي ابن مريم عليه السلام خنزير، فقال: مُرَّ بسَلام، فقيل: يا روح الله، لهذا الخنزير تقول؟ قال: أَكْرَهُ أنْ أُعَوِّدَ لِسانِي علي الشَّرِّ
Al-Husein bin Ali bin Yazid bercerita, Abdullah Maslamah bercerita, Malik bin Anas radliyallahu ‘anhu bercerita kepada kami, ia berkata:
Isa bin Maryam ‘alaihissalam berpapasan dengan seekor babi, ia berkata: “Melintaslah dengan selamat (hati-hati).”
Kemudian ia ditanya: “Wahai ruh Allah, untuk babi ini kau berucap (seperti itu)?”
Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku (mengucapkan hal-hal) buruk.” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shamt wa Âdâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1990, h. 176-177)
****
Dari sudut pandang “terapan”, ucapan Nabi Isa ‘alaihissalam adalah pelatihan yang harus dibiasakan. Dari mulai yang paling sederhana, sampai yang paling rumit. Pembiasaan itu ia tampilkan dalam sikapnya pada seekor babi. Ia menganjurkan agar babi yang berpapasan dengannya untuk berhati-hati. Ucapannya tersebut tidak dipahami oleh orang-orang yang mendampinginya, mereka bertanya (terjemah bebas): “Kenapa kau berucap seperti itu untuk seekor babi?” Nabi Isa menjawab: “Aku tak ingin membiasakan lidahku mengucapkan hal-hal buruk.” Dalam riwayat lain, Nabi Isa menjawab:
إِنّي أخافُ أَنْ أُعَوِّد لِسَاني النطقَ بالسُوء
“Sesungguhnya aku takut membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘alâ Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Dar al-Fikr, 2018, juz 4, h. 470)
Pembiasaan itu penting karena dapat menjadi norma “rasa” dan “tubuh”, yaitu kebiasaan yang telah mendarah-daging sehingga terasa asing ketika tidak melakukannya. Contohnya orang yang terbiasa shalat, di titik tertentu ia akan merasa tidak tenang ketika tidak melakukannya, karena rasa dan tubuhnya telah ternormakan oleh “pembiasaan” itu tadi. Namun, kita harus tetap hati-hati agar shalat kita tidak menjadi aktivitas yang kering spiritualitas. Jangan sampai shalat kita termasuk dalam shalatnya orang-orang yang celaka. Allah berfirman (QS. Al-Ma’un: 4-7):
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ، وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Maka kecelakaan untuk orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
Perumpamaan lainnya adalah praktisi beladiri. Mereka memiliki kelenturan dan respon yang sangat cepat. Tubuh mereka seperti detektor yang bisa mendeteksi setiap gerakan yang hendak menyerang mereka. Oleh sebab itu, pembiasaan dalam berkata baik, sebagai bagian dari akhlak yang baik (min khusnil adab), sangat dianjurkan untuk dilatih. Agar lisan kita terjaga dari ucapan-ucapan buruk yang menyinggung perasaan. Dengan latihan, kita bisa mengontrol lisan kita di saat marah, meski kita sangat ingin meluapkannya dengan kata-kata, kita bisa menahannya. Seorang penyair mengatakan:
تَعَوَّد الْخَيْرَ فَخَيْرُ عَادَةٍ # تَدْعو إلي الغِبْطَةِ وَالسَّعادَة
“Biasakanlah kebaikan. Sebaik-baik kebiasaan adalah,
yang mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan.”
(Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, Kairo: Dar al-Wa’yi, 1993, juz 27, h. 311)
Syair tersebut merupakan lanjutan dari penjelasan Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar tentang riwayat yang menceritakan Nabi Isa ‘alaihissalam dan seekor babi. Sebelumnya Imam Ibnu ‘Abdi al-Bar (368-463 H) berkomentar:
إنّما قيل ذلك لعيسي لأن الخنزير كثير الأذَي لبَنِي آدم في أموالهم من زروعهم وكرومهم, وكذلك نقول لعيسي: تقول لخنزير خيرًا؟ فقال: أكْرَهُ أن أُعَوِّدَ لِسانِي النُّطْقَ بِالسّوء
“Nabi Isa ditanya seperti itu karena sesungguhnya babi itu memberi banyak kerugian kepada bani Adam (manusia) dalam hal harta benda, yaitu (dalam) pertanian dan perkebunan mereka. Karena itu (seakan-akan) kita bertanya pada Isa: ‘Kau berucap baik kepada babi (yang sering merugikan kami)?’ Ia menjawab: ‘Aku tak ingin membiasakan lidahku berkata-kata dengan keburukan.” (Imam Abu Umar Ibnu ‘Abdi al-Bar, al-Istidzkâr, 1993, juz 27, h. 311)
Ini artinya kita harus menyingkirkan keburukan dari lidah kita. Dimulai dari berucap baik kepada makhluk Allah selain manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang, dan dilanjutkan dengan berucap baik kepada sesama manusia.
Meski binatang atau manusia tersebut sering menyakiti kita. Karena latihan terbaik dalam menjaga hati adalah bersabar dan berbuat baik kepada orang yang paling kita benci, termasuk kepada binatang.
Maka, pantas saja kita sering mendengar kiai-kiai kita terdahulu sangat berhati-hati memperlakukan binatang.
Mereka tidak berani melintasi ayam atau binatang apapun yang sedang makan, bahkan rela mengambil jalan memutar yang lebih jauh. Jika dengan binatang saja mereka bisa sedemikian santun, apalagi dengan manusia.
Karena itu, di hari yang fitri ini, kita harus meluaskan maaf kita, mengujarkan kebaikan dan menjauhkan keburukan dari lisan kita.
Kita harus memulai pembersihan lidah kita dari meminta maaf pada orang yang kita kenal dan mengenal kita, karena tidak mungkin selama bergaul tidak ada salah terbuat dan singgung terucap. Kita juga harus meminta maaf kepada orang yang mengenal kita tapi kita tidak mengenal mereka, karena bisa jadi kita tidak membalas sapaan mereka dan memberi senyum sebagai hak mereka.
Kita pun harus meminta maaf kepada orang yang kita kenal tapi mereka tak mengenal kita, bisa jadi kita pernah menggunjing mereka, membicarakan keburukan mereka tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan jangan lupa, kita juga harus meminta maaf kepada orang yang tidak kita kenal dan mereka pun tidak mengenal kita, bisa jadi kita pernah bermuka masam kepada mereka, menginjak kaki mereka tanpa sengaja, menyerobot antrean mereka dan lain sebagainya.
Ya, memang sukar menemui mereka satu persatu, apalagi orang yang tidak kita kenal. Paling tidak kita berdoa kepada Allah agar diampuni segala kesalahan, dan memohon kepada Allah untuk meluaskan pintu maaf mereka.
Tentu saja, sebelum itu, kita harus memaafkan mereka terlebih dahulu, baik orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal.
Dengan begitu, kita tidak terlalu malu untuk berdoa: “Ya Allah, luaskanlah pintu maaf bagi orang-orang yang pernah kusalahi, kusinggingi, dan kusakiti, terkhusus untuk orang-orang yang tak kukenali dan tak mengenalku. Karena aku tak berdaya memikirkan cara lain selain memohon kepada-Mu.”
Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf atas segala salah, baik kesalahan yang tersengaja maupun tidak, dan kesalahan yang tertampak maupun tersembunyi. Wallahu a’lam bish shawwab…
Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen