Cuaca Ekstrim Gelombang Laut 6 Meter Tranportasi Laut Simeulue Lumpuh

Seorang bocah laki-laki memandang kapal feri KMP Labuhan Haji, yang mangkal di Teluk Sinabang. Cuaca ekstrim melanda kawasan laut di Provinsi Aceh, berpotensi gelombang laut setinggi 6 meter mengganggu tranportasi laut antar pulau. (ahmadi/rakyat aceh)

SIMEULUE (RA) – Cuaca ekstrim melanda kawasan laut di Provinsi Aceh, yang memicu dan berpotensi terjadinya gelombang laut setinggi 6 meter, mengakibatkan tranportasi laut antar pulau Simeulue dan Sumatera lumpuh total.

Berhenti total tranportasi penghubung utama via laut antar kedua pulau tersebut, terjadi sejak Sabtu (22/6) dan diperkirakan kembali beroperasi pada Rabu (26/6). Apabila kondisi cuaca masih ekstrim, maka akan kembali diperpanjang penundaan operasi KMP Labuhan Haji dan KMP Teluk Sinabang.

Hal itu dijelaskan Mulyawan Rohas Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (24/6). “Cuaca masih ekstrim yang menimbulkan gelombang laut setinggi 6 meter, dan membahayakan pelayaran maka dua kapal feri kita tidak beroperasi sejak Sabtu hingga Rabu, dan kondisi ini bisa diperpanjang apabila juga cuaca tidak bersahabat”, katanya.

Masih menurut dia, KMP Labuhan Haji yang saat ini sedang mangkal di Pulau Simeulue, dan KMP Teluk Sinabang yang mengalami kerusakan pada bagian Ramp Door (pintu rampa) atau jembatan penghubung antara kapal dan dermaga pelabuhan.

Selain kedua kapal feri tersebut, satu unit Kapal Perintis Sabuk Nusantara 110, rute Pulau Simeulue, Calang Kabupaten Aceh Jaya dan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan, dengan kapasitas 550 penumpang dan kenderaan roda dua sebanyak 85 unit, juga memilih tidak berlayar dan diperkirakan akan kembali beroperasi pada Rabu (26/6).

“Selain dua kapal feri yang tidak berlayar, juga yang tidak berlayar ada satu unit kapal perintis Sabuk Nusantara 110, yang diperkirakan akan berlayar hari rabu ini, itupun apabila kondisi cuaca membaik”, imbuhnya.

Kondisi lumpuh totalnya tranportasi laut tersebut, menimbulkan kecemasan warga terhadap bahan kebutuhan sehari-hari dan bahan kebutuhan lainnya di Kabupaten Simeulue.

“Ya Allah, apabila kapal feri makin lama tidak berlayar, maka otomatis akan langka semua kebutuhan sehari-hari kita”, kata Suryani, ibu rumah tangga di Kota Sinabang, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin ((24/6).

Sementara Ibnu Abas Kadisperindagkop dan UKM Kabupaten Simeulue, yang dihubungi Harian Rakyat Aceh, Senin ((24/6), tidak mendapat tanggapan meskipun telepon seluler yang bersangkutan aktif.

Pada kesempatan terpisah ahli prakiraan cauca dari stasiun meteorologi BMKG Aceh, Nasyitah, menyebutkan wilayah Barat Selatan masih ada daerah pusaran angin yang membuat daerah tumbuh awan hujan ataupun awan konvektif.

Ini mengakibatkan hujan sedang ataupun hujan lebat beserta angin kencang.
Dijelaskan, untuk wilayah Aceh ada tarikan massa udara dari wilayah selatan ke utara dan ada terlihat kumpulan awan.

Saat ini Aceh lebih banyak pertumbuhan awannya di wilayah barat dan selatan jadi kemungkinan di wilayah ini ada hujan sedang hingga lebat.

“Kami mengimbau masyarakat dan nelayan khususnya mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan cuaca buruk yang terjasi. Tinggi gelombang saat ini mencapai tiga meter ataupun lebih, terutama untuk wilayah barat selatan maupun utara timur,” imbau Nasyitah. (ahi/min)