Biogas Rp 1,5 Miliar Tak Berfungsi

Mardiani Hasan dan Damisra warga Gampong Rhieng Blang, Kecamatan Meureudu, Kamis (4/7), memperlihatkan kondisi bangunan instalasi biogas bantuan Dinas ESDM Aceh, yang tidak berfungsi sejak selesai dibangun. IHSAN/RAKYAT ACEH.

Warga Minta Bongkar

MEUREUDU (RA) – Sebanyak 40 unit biogas bantuan pemerintah Provinsi Aceh di Kabupaten Pidie Jaya tidak berfungsi sama sekali. Warga meminta bangunan seharga Rp 1,3 miliar tahun yang dibangun dengan anggaran 2018 tersebar di 40 rumah warga dibongkar saja karena tak bermamfaat serta meganggu dan merugikan lahan warga.

Data yang diperoleh Rakyat Aceh, proyek pembangunan instalasi biogas skala rumah tangga pada Dinas Energi Sumber Daya Minera (ESDM) Propinsi Aceh itu dilaksanakan oleh Cv Karya Tama.

Instalasi biogas yang dibangun dan dipasang di rumah warga terdapat di dua kecamatan dalam Kabupaten Pidie Jaya, yaitu Kecamatan Meureudu sebanyak 24 unit dan Kecamatan Bandar Dua 16 unit.

Di Kecamatan Meureudu instalasi biogas itu terdapat di Gampong Rhieng Blang sebanyak 12 unit, Rhieng Mancang 6 unit, Beurawang 4 unit, Pohroh 1 unit dan Rungkom 1 unit. Kecamatan Bandar dua seluruhnua terdapat di Gampong Paya Pisang Klat.

Mardiani Hasan (54) salah seorang warga Rhieng Blang yang merupakan penerima bantuan pembangunan instalasi biogas di Kabupaten Pidie Jaya, kepada Rakyat Aceh, Kamis (4/7) menuturkan, sejak selesai dibangun biogas tersebut di rumahnya akhir 2018 lalu, hanya 20 hari yang keluar gas, itupun tidak cukup untuk memasak air satu liter saja.

Setelah itu, lanjutnya hingga kini biogas tersebut tak pernah dapat difungsikan untuk keperluan sehari-hari. Bahkan tiap hari dirinya memasukkan kotoran lembu ke dalam tabung yang dibangun tersebut, tapi gas yang di hasilkan juga nihil. Mardiani menduga, pihak-pihak yang mengerjakan biogas itu, hanya mencari keuntungan saja dengan dalih membantu masyarakat.

“Biogas ini sampai sekarang tidak dapat difungsikan lagi. Tidak ada mamfaatnya sama sekali, yang ada hanya mengganggu dan rugi lahan. Mereka cuma cari untung saja,” sebutnya dengan kesal yang diamini warga penerima bantuan lainya, Darmisra.

Menurut warga tersebut keberadaan bangunan instalasi biogas di pekarangan rumah itu, lebih praktis dan murah gas yang dijaul dipasaran jika dibandingkan dengan biogas tersebut. Karena walaupun biogas tersebut tanpa mengeluarkan biaya, tapi gas yang dihasilkan nihil dan yang ada hanya menguras tenaga dan bau menyengat yang dihasilkan.

“Sekarang kami di isi lagi kotoran lembunya, karena tidak keluar gasnya. Yang ada hanya capek dan bau saja. Kami minta bangunan biogas ini dibongkar saja, karena tidak bermamfaat sama sekali. Bahkan lebih gampang beli gas di pasar dibandingkan ini,” timpal Darmisra lagi.

Sementar Kepala Bagian Ekonomi Sekdakab Pidie Jaya, Cut Bahraini menyebutkan bahwa dirinya belum mengetahui persoalan tidak berfungsinya bantuan pembangunan instalasi biogas di rumah-rumah warga tersebut. Dirinya akan berkoordinasi dengan Dinas ESDM Aceh selaku pihak yang membangun proyek tersebut di Pidie Jaya.

Bahkan menurut Cut Bahrain, rekanan maupun dari Dinas ESDM Aceh, tidak pernah berkoordinasi dengan pihaknya saat pembangunan bangunan instalasi biogas tersebut dilaksanakan. ” Saya belum instalasi biogas di rumah-rumah warga itu tidak berfungsi. Nanti saya koordinasikan dengan provinsi jika memang tak berfungsi,” imbuhnya. (san/slm)