KASUS IF8, DIBINA atau DIBINASAKAN?

ILUSTRASI : Petani Meuredu Pidie Jaya masih mengandalkan alat tradisonal untuk meratakan tanah sawah sebelum ditanami padi. Sabtu (10/12) pagi. DOKUMEN RAKYAT ACEH

Sejarah Singkat IF-8 di Aceh Utara

Oleh Khaidir, SP.*

Benih padi IF8 (IF-8) berasal dari AB2TI (Asosiasi Bank dan Benih Tani Indonesai) Pusat yang berkantor di Bogor. Pemulia benih tersebut adalah Prof. Dwi Andreas, seorang dosen pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Alam, Institut Pertanian Bogor (IPB). Benih IF8 datang ke Aceh melalui program bantuan Pemerintah Aceh untuk demplot padi di Nisam Aceh Utara. Batuan tersebut berlangsung pada tahun 2017, dan program tersebut berhasil, bahkan dilakukan panen perdana yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh.

Terkait kasus ini memang sudah ada perintah untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak taat aturan dalam hal perbenihan (memperbanyak benih untuk kebutuhan petani). Pri Menix Dey selaku Koordinator Nasional Indonesia Food Watch (IFW), sebagaimana saya baca di web Jppn.com meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat agar tidak sekedar mengeluarkan surat pelarangan peredaran benih padi IF8 yang belum bersertifikat dan berlabel, tetapi juga usut dan diproses hukum. Aparat penegak hukum, Polri perlu menelusuri secara mendalam seluruh dokumen dan juga berbagai kegiatan maupun aliran dana ke AB2TI (Asosiasi Bank dan Benih Tani Indonesai).

“Hal ini sangat penting untuk menindak secara tegas bagi oknum yang telah menipu dan merugikan petani. Sebab soal benih itu adalah tentang dasarnya kehidupan. Petani mau berhasil, faktor utama penentu keberhasilan adalah benih. Kesehatan manusia juga ditentukan oleh benih padi,” ujar Pri yang juga sebagai Peneliti di Pusat Studi Bencana Institut Pertanaian Bogor (IPB)

Asosiasi Bank dan Benih Tani Indonesai (AB2TI)

Undang-Undang nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman

Introduksi (memasukkan materi/bahan  hidup/induk) dari luar negeri dilakukan dalam bentuk benih atau materi induk untuk pemuliaan tanaman, dilakukan oleh Pemerintah dan dapat pula dilakukan oleh perorangan atau badan hukum (sesuai peraturan Pemerintah). Setiap orang atau badan hukum dapat melakukan pemuliaan tanaman untuk menemukan varietas unggul. Varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah. Varietas hasil pemuliaan atau introduksi yang belum dilepas dilarang diedarkan.

Benih dari varietas unggul yang telah dilepas merupakan benih bina. Peredaran benih bina harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh Pemerintah. Benih bina yang lulus sertifikasi apabila akan diedarkan wajib diberi label (sesuai peraturan yang telah ditetapkan Pemerintah). Sertifikasi benih bisa dilakukan oleh Pemerintah dan dapat juga dilakukan oleh perorangan atau badan hukum berdasarkan izin. Dalam hal ini Pemerintah melakukan pengawasan terhadap pengadaan dan peredaran benih bina. Kemudian Pemerintah punya hak atau dapat melarang pengadaan, peredaran, dan penanaman benih tanaman tertentu yang merugikan masyarakat, budidaya tanaman, sumberdaya alam lainnya, dan/atau lingkungan hidup.

Keunggulan Benih Padi IF8

Benih padi IF-8 (Indonesian Farmer no 8) memang cukup sulit ditemukan di pasaran karena tidak dijual bebas di pasaran. Tapi hanya di jual di toko -toko tertentu saja. sehingga petani sulit mendapatkannya langsung. Padahal benih padi ini memiliki potensi yang bagus. Bisa menghasilkan bibit yang tahan hama penyakit.

Varietas padi ini sudah melalui pengujian oleh Institut Pertanian Bogor, sehingga bisa menghasilkan padi unggul. Padi ini juga tidak disukai burung karena daun menghadap keatas, sehingga petani akan lebih tenang. Padi ini bisa tumbuh subur di ketinggian 100-500 mdpl. Usia padi IF-8 110 hari setelah sebar, potensi hasil mencapai  13 ton/ha, angka ini sangat jauh berbeda dengan angka rata-rata Nasional yaitu sekitar enam ton/hektar. Dalam web Databoks.katadata.co.id (produksi 2010-2014) dapat kita lihat, Indonesia berada pada titik 5,08 ton per hektar sedangkan Vietnam 5,57 ton per hektar. Kalau dibandingkan dengan angka rata-rata Dunia yang berada pada level  4,47 ton per hektar, maka Negara kita masih tergolong menang. Berat 1000 bulir adalah 28 gram, Jumlah bulir mencapai 250 bulir / malai, tinggi tanaman mencapai 120 cm, dan jumlah anakan: 20-25 / rumpun.

Seharusnya Belajar dari Presiden Jokowi

Saya teringat kasus Gojek, sebuah aplikasi online dengan konsep ride-sharing, saat itu juga dipermasalahkan, hingga Presiden Jokowi ikut berkomentar dan mendukung karya anak bangsa. “yang namanya Gojek ini kan hadir karena kebutuhan di masyarakat, oleh sebab itu, jangan karena adanya sebuah aturan malah ada yang dirugikan, ada yang menderita”. Ujar Jokowi di komplek Istana kepresidenan Bogor, dalam CNN Indonesia, Desember 2015 lalu.

Presiden Jokowi hingga menolak jika inovasi oleh anak bangsa tersebut malah dikekang oleh peraturan. “aturan itu kan yang buat kami (pemerintah), sepanjang itu dibutuhkan masyarakat, saya kira enggak masalah”. Tambahnya.

*Penulis : Penyuluh Pertanian Lapangan Dinas Pertanian Aceh Besar.