Prinsip Pegadaian Syariah Adalah Tolong Menolong

Tgk Erwinsyah saat mengisi pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Perumnas Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (7/8/2019).

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara tempo dan ia menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi itu. ( HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadist di atas merupakan salah satu hadist yang menjelaskan tentang gadai. Rasulullah SAW memperbolehkan seseorang menggadaikan sesuatu dan barang miliknya dijadikan jaminan terhadap utang utangnya. Bahkan mempratekkannya secara langsung agar tidak ada kebimbangan di tengah umat.

Namun pegadaian yang seperti apa yang dibolehkan? Apalagi perkembangan produk lembaga keuangan semakin marak pada masa sekarang. Tentu yang sesuai dengan syariat Islam atau sering disebut dengan pegadaian Syariah (Ar Rahn).

Demikian antara lain disampaikan Tgk Erwinsyah saat mengisi pengajian Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Perumnas Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (7/8/2019).

Adapun tema diangkat dalam pengajian rutin tersebut adalah seputar Fiqih Muamalah Perniagaan Pengadaian antara Haq dan Bathil.

Guru Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan menyampaikan, meski Nabi Muhammad SAW selaku pembawa syariat telah mencontohkan dan mempratekkan secara langsung soal pegadaian syariat. Namun sangat ironi, masyarakat masih memilih pegadaian konvensional.

Padahal sudah sangat jelas dampaknya, sangat merugikan. Baik secara dunia maupun akhirat. Gadai konvensional jelas ada borok yang harus diberikan, tentu sangat memberatkan, belum lagi beban denda yang harus ditanggung.

Maka alangkah baiknya untuk memilih sesuai dengan syariah. Merupakan hukum yang diajarkan langsung oleh Nabi bahkan Beliau pernah memraktekkannya secara langsung. Jadi soal praktek muamalah yang dicontohkan Nabi tersebut saat ini telah diadopsi oleh lembaga keuangan syariah, khususnya yang bergerak pada pegadaian.

Disebutkan bahwa dalil utama yang menjelaskan disyariatkannya penggadaian adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُواْ كَاتِباً فَرِهَانٌ مَّقْبُوضَةٌ

“Jika kalian berada dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sedangkan kalian tidak menemui seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh orang yang memberi piutang). ” (QS. Al-Baqarah: 283)

Adapun defenisi gadai dalam syariah adalah benda yang bernilai ekonomis dijadikan sebagai jaminan untuk hutang. Hutang akan dilunasi dengan benda yang bernilai ekonomis.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pada praktinya, sangat besar perbedaan antara gadai syariah dan konvensional. Dengan Ar Rahn seorang pemberi utang akan merasa tenang dan tidak khawatir hartanya akan lenyap begitu saja disebabkan peminjam tidak membayar utang.

Selain itu, pergadaian merupakan bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa jika memang dibutuhkan. Gadai juga merupakan solusi di dalam ekonomi umat sedang dalam kondisi tidak baik. Serta daoat mempererat rasa sosial dan interaksi sesama manusia.

“Dalam pegadaian syariah, prinsipnya adalah taawun, tolong menolong. Maka itulah barang yang digadaikan nilainya tidak harus sama dengan hutang, boleh sama atau lebih mahal.” Demikian ujar Tgk Erwinsyah. (slm)