Minim Biaya Bayi Tanpa Lubang Anus Gunakan Kantong Plastik

Darwani (37) Ibu kandung bayi tanpa lubang anus sedang memasang plastik untuk pengganti Colostomy Bag, sebagai penampung sementara tinja Fatma Rizqia, Selasa (20/8). Ahmadi/Rakyat Aceh. ?

SIMEULUE (RA) – Fatma Rizqia berusia 6 bulan, tanpa lubang anus anak pasangan suami isteri, Armadi (38) dan Darwani (37), terpaksa gunakan kantong plastik biasa untuk menampung tinja, hasil pencernaan dari lubang anus buatan pada bagian perut sebelah kanan.

Selain mengandalkan kantong plastik yang banyak dijual pedagang, untuk menggantikan Colostomy Bag, juga kedua orang tua Fatma Rizqia warga Desa Maudil, Kecamatan Teupah Barat, gunakan lakban untuk perekat antara kantong plastik dan kulit perut pada lubang anus buatan tersebut.

“Terpaksa gunakan plastik dan lakban untuk menggantikan Colostomy Bag ini, untuk menampung air besar anak saya dari lubang anus buatan, sebab anak saya tidak memiliki anus sejak lahir,” kata Armadi orang tua Fatma Rizqia kepada Harian Rakyat Aceh, Selasa (20/8).

Ibu kandung Fatma Rizqia, dengan cekatan meramu kantong pada anus buatan buah hatinya, dengan bermodalkan kantong plastik bening, lakban, gunting dan korek api, hanya butuh sekitar 15 menit, telah terpasang colostomy buatan untuk menampung tinja anaknya.

“Terpaksa gunakan plastik untuk menampung tinja anak saya, sebab kami tidak mampu membeli Colostomy Bag, harganya mahal Rp100.000 satu buah dan hanya dapat digunakan selama tiga hari dan itupun tidak ada yang dijual di Simeulue”, kata Darwani, ibu Fatma Rizqia kelahiran 31 Maret 2019.

Orang tua Fatma Rizqia membeberkan, anaknya lahir prematur disebabkan Darwani mengalami riwayat penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang dapat membahayakan nyawanya, sehingga pihak RSUD Simeulue yang menangani proses persalinan, memutuskan untuk dipercepat kelahiran bayi tanpa anus itu.

Setelah tiga hari pasca kelahiran dengan selamat bayinya, piha tim medis memberitahukan bahwa Fatma Rizqia tidak memiliki anus, kemudian dirujuk ke RSUZA Banda Aceh untuk dilakukan operasi anus buatan.

Selama menjalani perawatan tim medis di RSUZA Banda Aceh yang menumpang dirumah salah seorang kerabatnya dan biaya hasil sumbangan menipis, lalu memboyong anaknya ke Simeulue, sebelum memasuki lebaran Idul Fitri, Juni 2019 lalu dengan membawa 5 unit Colostomy Bag yang diberikan tim medis RSUZA Abidin.

Selama berada di Simeulue, bayi tanpa anus itu hanya satu kali dibawa ke RSUD Simeulue untuk dilakukan pemeriksaan medis dan kedua orang tua Fatma Rizqia mengaku kecewa terhadap terhadap petugas kesehatan yang ada didesanya, yang tidak pernah melakukan pemantuan perkembangan bayi tanpa anus itu, dengan alasan takut melihat kondisinya.

“Sepulang dari Banda Aceh, anak saya tidak pernah dipantau atau dikunjungi petugas kesehatan yang ada di desa kita, alasan mereka takut melihat kondisi anak saya dan saya kalau berobat mungkin gratis, tetapi biaya hidup untuk mendampingi anak di sana (RSUZA) yang tidak cukup.

Saya sangat berharap ada bantuan dari siapa pun, agar kami bisa segera membawa kembali Fatma ke Banda Aceh,” pinta Armadi.

Terkait bayi tanpa lubang anus itu yang perna ditangani pihak RSUD Simeulue, telah pernah control sepulang dari RSUZA Banda Aceh.

“Al?hamdulillah, kondisi si anak telah sehat sepulang dari Banda Aceh, kemudian kontrol ke RSUD Simeulue terakhir masuk tanggal 3 Agustus 2019 dan pulang tanggal 5 Agustus 2019 lalu, sudah terpasangnya Colin Bagde sebagai alat tampungan sementara BAB nya,” kata drg Farhan, direktur RSUD Simeulue, melalui pesan pendek Watshapp, Selasa (20/8).

Masih menurut dia, bahkan ibu kandung bayi tanpa lubang anus itu telah mahir untuk pemasangan alat tampungan sementara tinja anaknya itu dan pihak keluarga bayi tanpa lubang anus itu sangat kooperatif dan bakal kembali dirujuk setelah umur Fatma Rizqia telah layak untuk menjalani operasi di RSUZA Banda Aceh. (ahi/han)