Menulis Harus jadi Ruh Kampus

Akademisi STAIN TDM berfoto bersama Budayawan nasional, Marhalim Zaini usai mengisi kuliah tamu. Ichsan Maulana/RAKYATACEH

BANDA ACEH (RA) – Budayawan Melayu asal Riau, Marhalim Zaini, sekaligus sastrawan nasional, yang pernah diundang ke Ubud Write and Reader Festival Bali tahun 2005, sebuah ajang bergengsi bagi penulis se-Indonesia mengisi kuliah tamu di STAIN Teuku Dirundeng Meulaboh (TDM) Meulaboh.

Kegiatan ini difasilitasi oleh lembaga Pusat Pengembangan, Penelitian dan Pengabdian (P3M). Marhalim, sengaja dihadirkan karena pengalaman dan diharapkan dapat merangsang akademisi kampus tersebut untuk menulis di media nasional.

“Kuliah tamu dan kegiatan literasi lain akan menjadi kegiatan prioritas lembaga yang diketuainya ke depan untuk meningkatkan publikasi para dosen,” Sebut dosen setempat, Ade Kurniawan, Rabu (21/8).

Di hadapan puluhan dosen STAIN, Marhalim menceritakan perjalanan panjangnya menjadi seorang penulis dan budayawan dari sejak di Jogjakarta. Bukan hanya menulis menjadi dunia-nya, kini ia juga berkecimpung dalam ranah seni sastra dan budaya yang telah lama menjadi bagian perjalanan karirnya.

Untuk mewujudkan cita-citanya, kini Marhalim mendirikan komunitas teater SuKuk di Pekanbaru untuk mempromosikan budaya Melayu di Indonesia lewat seni teater.

Ini merupakan kali ketiga Marhalim ke Aceh, setelah sebelumnya ia beberapa kali terlibat melatih seni di salah satu UKM Mahasiswa UIN Ar-Raniry dan komunitas Tikar Pandan Aceh sebagai salah satu komunitas yang konsen pada bidang kebudayaan.

Pria kelahiran Bengkalis-Kepri ini datang ke Aceh kali ini dalam rangka mendokumentasi salah satu seni tradisional khas Aceh Barat bernama Dalupa, sebuah seni lokal dan tertua yang kini mulai tenggelam di Aceh Barat.

Marhalim menuturkan, ia diutus oleh Kemendikbud untuk membantu seni ini dikenal secara luas, dimana nantinya akan pentas di festival tarian nasional yang akan diadakan di Kalimantan Timur pada 20 September 2019. “Kesenian ini dipilih dari serangkaian seni untuk mewakili Aceh di festival tersebut,” jelas Marhalim.

Di penghujung orasinya, ia berpesan kiranya menulis menjadi ruh dari kampus STAIN, tidak hanya literasi, kepedulian pada seni budaya lokal di Pantai Barat Selatan juga harus menjadi perhatian kampus PTKIN ini ke depan dalam rangka menyelamatkan identitas lokal.

Ketua STAIN, Dr Inayatillah turut mendukung secara prinsip setiap kegiatan yang dapat memajukan lembaga ini. Menurutnya, STAIN Meulaboh harus menjadi pusat literasi turats termasuk khazanah seni dan budaya lokal yang harus diselamatkan dalam bentuk tulisan dan dokumentasi di era disrupsi ini. (icm/bai)