Pelajar Singapura Dilarang ke Hongkong

Ilustrasi National University of Singapore (NUS). Sebanyak 56 pelajar NUS dan universitas serta sekolah lain di Singapura harus mengurungkan niat untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Hongkong (Facebook)

Ratusan pelajar asal Singapura harus mengurungkan niat untuk mengikuti program pertukaran pelajar di Hongkong. Enam universitas negeri memutuskan kerja sama mereka dengan rekanan di Hongkong setelah mendapat imbauan dari Kementerian Pendidikan Singapura.

South China Morning Post mengabarkan jumlah peserta pertukaran pelajar dari empat universitas saja mencapai 100 mahasiswa. Mereka terdiri atas 56 pelajar National University of Singapore (NUS), 41 pelajar Nanyang Technological University (NTU), 17 pelajar Singapore Management University (SMU), dan 8 pelajar Singapore University of Technology and Design (SUTD). Dua universitas lainnya, Singapore Institute of Technology dan Singapore University of Social Sciences, belum menyebut jumlah peserta pertukaran pelajar ke Hongkong.

Selama dua bulan terakhir, banyak peserta pertukaran pelajar yang membatalkan rencana mereka. Namun, baru kali ini pembatalan itu dilakukan serentak atas imbauan pemerintah. Hal tersebut disayangkan pengajar Education University Hongkong Woo Jun-jie. Woo menyatakan, krisis politik yang terjadi tak sampai memengaruhi kegiatan belajar mengajar di Hongkong.

Padahal, pelajar di Hongkong mengumumkan boikot pelajaran selama dua minggu sejak awal semester. Upaya tersebut dilakukan untuk mempertahankan jumlah demonstran di jalanan.

“Kami harap dua minggu bisa membuat pemerintah berpikir dan merespons tuntutan kami,” ujar Davin Wong, presiden sementara Serikat Mahasiswa Hong Kong University, kepada Agence France-Presse.

Sementara itu, pemerintah Tiongkok terus berusaha untuk menekan pihak-pihak yang dianggap membela pengunjuk rasa di Hongkong. Cara terbaru adalah menyurati media asing. Departemen Informasi Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengirim surat kepada 30 media yang dianggap mengabarkan berita palsu atau tidak berimbang tentang Hongkong.

Surat beserta kliping berita setebal 41 halaman itu dikirim ke media Barat BBC, NBC, Bloomberg, Wall Street Journal, dan media Jepang seperti NHK. (jawa pos)