Mahasiswa Tuntut Pelanggar HAM Dihukum

Mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat menggelar unjukrasa tuntut pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Papua, Simpang Pelor Meulaboh, Selasa (27/8).

MEULABOH (RA) – Mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat menggelar unjukrasa tuntut pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Papua. Simpang Pelor Meulaboh, Selasa (27/8) sekitar pukul 10.00 WIB.

Dalam orasinya, mereka meneriakkan yel-yel desakan agar pihak berwenang mengusut tuntas, potensi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di Papua baru-baru ini.
Koordinator Aksi, Ilmiadin mengatakan, aksi yang dilakukan ini merupakan bentuk solidaritas dan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah karena tidak bisa melindungi mahasiswa Papua yang berada dalam asramanya di Surabaya.

Mahasiswa Papua, sebutnya, juga merupakan putra bangsa Indonesia yang seharusnya diperlakukan dengan baik, namun malah sebaliknya mahasiswa tersebut mendapat perlakuan dari sekelompok orang yang menyebabkan rasis dan refresitas yang dilakukan oleh oknum tertentu.

“Kami sangat menyayangkan dan sangat mengecam keras tindakan represif dan rasis, yang dilakukan oleh sekelompok oknum dan militer kepada mahasiswa. Hingga dampaknya berujung rusuh di Manokwari,” kata Ilmiadin.

Dalam aksinya, mahasiswa menyampaikan beberapa poin tuntutan yang harus dipenuhi pemerintah pusat. Antara lain, pemerintah harus memberikan hak dan kebebasan untuk rakyat Papua dalam mengelola sumber alamnya. “Terutama fokus mengusut tuntas perlanggaran HAM yang terhadi di Papua,” pintanya.

Lainnya, meminta dihentikan segala bentuk tindakan refresif yang dilakuka aparat militer sebagaimana sudah terjadi di Papua. Mahasiswa dalam hal ini juga meminta agar menarik kembali aparat militer organik dan non organik dari daerah setempat itu.

“Pelaku rasisme terhadap rakyat Papua yang terjadi Surabaya, agar segera ditangkap. Kami juga meminta pemerintah supaya segera membuka akses internet disana, juga memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi mahasiswa dan rakyat Papua,” tuntutan orasi. (den/han)