Kejam, DEMA Tuntut Ketua STAIN Mundur Teratur

MEULABOH (RA) – Sengketa lahan antara warga dan STAIN Meulaboh belum kelar. Pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Dema STAIN), malah desak Pimpinan Kampus mundur teratur.

Ternyata, kasus ini menjadi perhatian serius mahasiswa. Sampai-sampai, Sabtu (31/8) petang menggelar diskusi publik dengan sejumlah tokoh Aceh Barat mencari solusi terkait masalah tersebut.

Lahan menjadi lokasi pembangunan kampus STAIN Tengku Dirundeng Meulaboh, merupakan tanah hibah Pemda Aceh Barat, yang terakhir mengudang sengketa dari beberapa warga mengaku pemilik lahan.

Dalam diskusi tersebut, salah satu tokoh Aceh Barat yang mengaku paham benar terkait masalah tanah tersebut, menceritakan sejarah panjang tentang keberadaan Yayasan Teuku Umar Johan Pahlawan yang di dalamnya terdapat dua perguruan tinggi besar di pantai barat selatan Aceh, yaitu UTU Meulaboh dan STAIN Meulaboh terletak di Alpen Kecamatan Meureubo.

Hasil dengar pendapat dari seluruh stakeholder yang hadir, Pengurus DEMA STAIN Meulaboh melakukan kajian secara konprehensif untuk mengambil sikap dan tetap menuntut proses belajar mengajar harus di laksanakan di gedung baru di Alpen. “Keinginan mahasiswa STAIN Meulaboh harus belajar di kampus baru dan kita (STAIN) sudah mempunyai sertifikat sebagai pemilik sah tanah,” ucap Muktaruddin Pakeh, Ketua Dema STAIN Meulaboh dalam rilisnya.

Ia juga merespon itikad baik dari Bupati Aceh Barat H. Ramli MS yang beberapa hari lalu, bersedia mengeluarkan dana sewa gedung untuk proses belajar mahasiswa STAIN Meulaboh. “Saya sangat apresiasi atas niat baik Pak Ramli MS (Bupati Aceh Barat) bersedia subsidi anggaran untuk sewa gedung,” katanya.

Sementara gedung baru STAIN Meulaboh telah kelar pembangunan di Aplen, namun faktanya masih gagal dapat dimanfaatkan lantaran masih dalam proses sengketa lahan antara pihak kampus dan warga.

Namun, sambung Muktaruddin, Pengurus DEMA STAIN Meulaboh menolak mentah-mentah bantuan dari Bupati Aceh Barat. “Kami tidak butuh gedung lain, apalagi yang mau di sewakan oleh pak Bupati Aceh Barat,” tolaknya.

Mahasiswa mengaku bersikeras tetap ingin melanjutkan proses belajar mengajar semester ganjil di Gedung kampus baru Alpen, Meureubo, karena telah selesai pembangunannya.

Muktaruddin, mendesak Ketua STAIN Meulaboh untuk segera mengambil keputusan konkrit dan membawa mahasiswa menuju kampus baru di Alpen. “Kalau Ketua STAIN Meulaboh tidak mampu membawa kami ke gedung baru, lebih baik mundur saja, karena ini menyangkut dengan hajat hidup orang banyak,” desakannya.(den)