Baluem Syedara Santuni Keluarga Bayi Hidrosefalus

SERAHKAN BANTUAN : Koordinator Baluem Syedara menyerahkan bantuan sembako kepada keluarga Bayi hidrosefalus, Minggu (1/9). BAHTIAR HUSIN

LANGSA (RA) – Baluem Syedara, sebuah komunitas pemuda Kota Langsa peduli sosial kemasyarakatan, menyantuni keluarga bayi pengidap penyakit hidrosefalus (penumpukan cairan pada kepala-red) di Gampong Alue Merbau, Kecamatan Langsa Timur, Minggu (1/9).

Koordinator Baluem Syedara, Agus Setiawan alias Agus Mandor kepada Rakyat Aceh mengatakan, santunan ini merupakan kepedulian komunitas pemuda Kota Langsa terhadap kondisi sosial masyarakat yang kurang mampu atau membutuhkan perhatian.

“Gerakan membantu dan menyantuni masyarakat kurang mampu atau yang membutuhkan ini murni gerakan sosial yang dibangun dari rasa kepekaan. Tidak ada unsur politik atau tujuan apapun dari gerakan ini, kami para pemuda Langsa hanya ingin beramal dengan harta pribadi untuk membantu saudraa-saudara kami yang membutuhkannya,” sebut Agus.

Dikatakan, bantuan terhadap keluarga bayi pengidap hidrosefalus ini berawal dari informasi yang diterimanya dari masyarakat. Bahwa di Gampong Alue Merbau ada seorang bayi dari keluarga kurang mampu mengidap hidrosefalus, atas laporan ini pihaknya langsung berinisiasi menyantuni keluarga pasien dengan sembako.

Sementara itu, Jelita Afrina (19) selaku ibu dari bayi pengidap Hidrosefalus, Muhammad Rifal yang masih berusia 4 bulan, kepada Rakyat Aceh saat dijumpai dikediamannya mengatakan, penyakit penumpukan cairan pada kepala anak pertamanya ini terjadi sejak dua bulan lalu.

“Awal kelahiran empat bulan lalu, Rifal (bayi hidrosefalus-red) normal dan sehat seperti anak-anak lainnya. Namun memasuki usia tiga bulan, mulai terjadi pembengkakan pada kepalanya, semakin hari membuat kepala Rifal membesar, akhirnya minggu lalu saya membawanya ke RS Cut Nyak Dhien dan dokter bilang Rifal mengidap hidrosefalus dan harus segera dirujuk ke RS Zainal Abidin Banda Aceh,” sebut Jelita.

Lanjutnya, menyikapi kondisi tersebut dirinya bersama suami Jani Khaidir (23), yang bekerja sebagai buruh bangunan belum bisa memenuhi rujukan tersebut. Karena tidak memiliki biaya keberangkatan dan biaya hidup selama masa pengobatan di Banda Aceh. (dai/slm)