Polemik STAIN Meulaboh Masih Panas, Ini Saran Aliansi Mahasiswa

Ketua Aliansi Mahasiswa Barsela, Fathur Rizqi

MEULABOH (RA) – Polemik Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tengku Dirundeng Meulaboh masih terus bergulir. Jika kemarin, Pengurus DEMA desak pimpinan kampus mundur, kini, giliran Aliansi Mahasiswa Barsela (ALMBSA) menolak desakkan tersebut.

Ketua Aliansi Mahasiswa Barsela, Fathur Rizqi, Senin (2/9), dalam rilisnya, menyatakan statement Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, perlu dikaji ulang dengan melihat secara cerdas tahapan yang sedang berlangsung ditempuh pemerintah untuk penyelesaian sengketa lahan, di pengadilan Negeri Meulaboh.

Poin menjadi tuntutan, sambung Fathur, DEMA menolakan wacana gedung sewaan dari Pemda Aceh Barat dan juga desakan mundur bagi Ketua STAIN Meulaboh, bila masih tak mampu membawa mahasiswa berkuliah di kampus baru.

Terkait saran dan solusi yang diberikan oleh Pemda Aceh Barat, dengan tawaran memfasilitasi gedung sewaan bagi STAIN Meulaboh. “Jika saya cermati, bantuan itu semata demi kelancaran perkuliahan dan peningkatan pendidikan yang ada di Aceh Barat. Tapi malah menjadi penolakan dari DEMA STAIN Meulaboh juga,” jelasnya.

Jika DEMA STAIN Meulaboh menolak bantuan tersebut, Fathur sebagai Ketua Aliansi Mahasiswa Barsela, malah mendukung dan mengucapkan terima kasih atas bantuan itu, bahkan sampai memberikan apresiasi bagi Pemda Aceh Barat yang telah menawarkan solusi bagi masalah sedang dihadapi mahasiswa STAIN. “Pemda memberi dana untuk penyewaan gedung sementara, ini bagian upaya menyelesaikan permasalahan,” tutur Fathur.

Namun ia tetap mengaku akan lebih senang jika pada Kamis 12 September 2019 mendatang, mahasiswa STAIN Meulaboh berhasil menempati gedung baru di Alpen, Kecamatan Meureubo.

Menariknya, kata Fathur, ada tuntutan Ketua DEMA STAIN Meulaboh yang mendesak mundur “Ketua STAIN Meulaboh” jika tidak mampu membawa mahasiswa belajar dikampus baru. “Kami dari aliansi mahasiswa Barsela mendukung pernyataan Ketua DEMA itu. Tapi jika telah diganti dengan ketua baru, apakah ada jaminan tanggal 12 September 2019 ini, mahasiswa berhasil dibawa ke kampus baru,” tantanganya.

Khawatir Fathur, jika Ketua STAIN Meulaboh pengganti (cadangan) tetap tidak mampu juga, apakah dapat siap dengan konsekuensi serupa, yakni diturunkan kembali dari jabatannya?

Perlu diketahui, argumen Fatur, bahwa STAIN Meulaboh hanya menerima hibah dari Pemda Aceh Barat, lantaran lahan gedung baru masih dalam sengketa. “Mohon kita harus memahami situasi yang sedang di tempuh oleh pemerintah untuk penyelesaian perkara tersebut di pengadilan Negeri Meulaboh,” pintanya.

Ketua STAIN Meulaboh, sambung Fatur, belum dapat pengambil kebijakan dan keputusan tentang lahan tersebut. Karena masih harus menunggu keputusan inkrah dari PN Meulaboh. “Usai diputuskan oleh pengadilan, baru Ketua STAIN Meulaboh dapat mengambil sikap,” katanya.

Dalam masalah ini, pandangan Fatur, ada terjadi sengketa lahan dengan warga sehingga kampus belum dapat digunakan. Sehingga harus digarisbawahi, bukan terjadi masalah atau sengketa jabatan Ketua STAIN Meulaboh. “Jadi, siapapun yang menjadi Ketua STAIN Meulaboh tetap harus menunggu proses hukum yang sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Meulaboh,” ucapnya.

Saran Aliansi Mahasiswa BARSELA bagi DEMA STAIN Meulaboh, agar dalam menyampaikan pendapat, harus menghindari ide-ide yang dapat mengiring opini buruk bagi kondisi kampus tidak kondusif. “Tapi jika ingin mencari solusi terbaik bagi kampus, mari kita bersama-sama beraudiensi dengan pihak eksekutif, legislative dan yudikatif, sehingga dapat menyaring keputusan yang jernih serta terbaik,” tutup Fathur.(den)