Reuni Tokoh Perdamaian Aceh

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah (tiga kiri), Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla (dua kiri) dan Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Rizal (tiga kanan) berjalan sebelum meresmikan meresmikan gedung 7 in 1, proyek pembangunan yang didukung Kerajaan Arab Saudi lewat Yayasan Saudi untuk Pembangunan atau The Saudi Fond for Development, Senin (2/9). FOTO HUMAS ACEH

Kunjungan JK di HUT Unsyiah ke 58
BANDA ACEH (RA) – Wakil Presiden Republik Indonesia, Muhammad Jusuf Kalla, hadir memberikan orasi ilmiah dalam Sidang Terbuka Milad Universitas Syiah Kuala Ke-58, di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Senin (2/9).

Momen tersebut sekaligus menjadi ajang reuni bagi tokoh-tokoh perdamaian Aceh. Turut hadir, Hamid Awaluddin dan Wali Nanggroe, Malik Mahmud. Keduanya adalah orang yang menandatangani MoU Helsinki, 14 tahun lalu di Firlandia. Hamid mewakili RI sebagai Menkumham, sedangkan Malik perwakilan GAM.

Pada Milad Unsyiah tersebut, salah seorang tokoh perdamaian Aceh lainnya yang hadir adalah Zaini Abdullah. Sebagai salah seorang yang berpengaruh besar dalam perdamaian Aceh, Wapres yang akrab disapa JK itu, turut mengenang momen bersejarah. Bahkan, sambil tersenyum ia bercanda.

“Pak Hamid ini saat jadi menteri suka mengeluh, katanya gaji menteri itu sedikit. Saya bilang, anda ini luar biasa, foto bapak akan dikenang bertahun-tahun lamanya. Sedangkan saya tidak ada dalam foto tersebut (proses penandatanganan MoU Helsinki),” kenang JK.

Tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah merintis, dan merawat perdamaian Aceh. Dalam orasi ilmiahnya yang mengangkat tema Pendidikan Tinggi di Era Distrupsi Teknologi, JK menyinggung bagaimana semua pihak, terutama Aceh, mengisi perdamaian demi kemajuan lewat pendidikan.

“Ke depan, kita berbicara tentang pendidikan (universitas). Saya selalu bilang apa perbedaan museum dan universitas. Museum selalu melihat ke belakang, dan universitas melihat ke depan. Karena itulah universitas harus berbicara ke depan.

Apa tujuan kita? Tujuannya berbangsa. Ujungnya, sebagaimana dalam Undang-undang; mencerdaskan bangsa, membina perdamaian dunia,” urainya.

Lelaki yang telah menerima doktor honoris causa sebanyak 14 kali, salah satunya dari Unsyiah sebagai tokoh perdamaian, melihat masyarakat Aceh sangat dinamis. Dalam catatan sejarah, dikatakannya, ada raja atau sultan Aceh yang berdarah bugis.

Hal ini menandakan keterbukaan orang Aceh yang luar biasa. Ia juga menjelaskan bagaimana perdamaian, pendidikan bisa mencapai suatu kemakmuran.

Untuk makmur, kata JK, banyak syarat yang harus dilakukan. Salah satunya, mendapatkan pendapatan yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini bisa diperoleh apabila ada produk yang lebih baik, yang mendatangkan nilai tambah. Caranya bisa dicapai dengan adanya Inovasi dan enterpreneur.

“Kita juga tidak bisa hanya mengandalkan IT. Apapun yang dihasilkan IT, tetap juga dibutuhkan usaha kecil. Ada yang kehilangan pekerjaan, tapi juga ada pekerjaan baru,” sebutnya.

Selain memberikan orasi ilmiah, Wapres juga turut meresmikan tiga fakultas proyek 7 in 1, yang didanai oleh Saudi Fund Development (SFD). Tiga fakultas tersebut adalah Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), dan Fakultas Kelautan Perikanan (FKP).

Dalam lawatan ke Serambi Mekkah, turut didampingi oleh salah seorang putra Aceh yang menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan Djalil. (icm/min)