Keluhan Pelanggan Terhadap PLN Berkurang

Jajaran manajemen PLN (Persero) UIW Aceh dan UP3 Banda Aceh menemui ketua Yapka, Fahmiwati, dalam rangka peringatan Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2019.

BANDA ACEH (RA) – Jumlah pengaduan masyarakat tentang kondisi kelistrikan di Provinsi Aceh pada 2019 menurun drastis dibandingkan tahun lalu. Data ini berdasarkan laporan disampaikan Ombudsman Perwakilan Aceh dan Yayasan Perlindungan Konsumen Aceh (Yapka).

“Pada tahun ini hanya dua laporan yang masuk ke Ombudsman ,” kata Plh Kepala Ombudsman Perwakilan Aceh, Ayu Parmawati Putri saat menerima kunjungan silaturahmi jajaran manajemen PT. PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Aceh dan UP3 Banda Aceh dalam rangka Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2019, Rabu (4/9).

Pada tahun lalu, kata Ayu, lembaganya menerima sekitar tujuh pengaduan. Sementara pada tahun ini, hanya ada saja yang masuk, pertama soal pemadaman saat bulan Ramadan dan kedua, soal pembangunan menara Saluran Udara Tegangan Ekstra (Sutet) di Kabupaten Nagan Raya. Artinya, kata Ayu, jumlah pengaduan tentang kondisi kelistrikan sudah semakin menurun.

Terkait dengan dua pengaduan diterima Ombudsman, satu sudah ditindaklanjuti yaitu soal pemadaman pada bulan puasa lalu. Sementara untuk menara sutet masih dalam proses mediasi.

Menurutnya, kehadiran Unit Layanan Konsumen (ULP) menjadi salah satu faktor menurunnya pengaduan. Karena diakuinya PLN sudah semakin quick response dalam menanggapi pengaduan pelanggan.

“Kalau ada masyarakat melapor, kita arahkan terlebih dahulu ke sana (ULP). Karena-kan responnya lebih cepat. Kalau belum ada tindaklanjut baru kita mediasi,” terang Ayu yang juga Koordinator Asisten Bidang Pencegahan.

Kedepan, dirinya berharap agar pelayanan diberikan PLN di Aceh semakin baik dan berkualitas. Tentunya semakin quick respon seperti sekarang. Kemudian harus juga mengupayakan agar pada saat dilakukan pemeliharaan tidak ada pemadaman.

Sementara Ketua Yapka Aceh Fahmiwati saat dikunjungi tim manajemen PLN juga mengaku jumlah pengaduan yang masuk kepada lembaga yang ia pimpin juga semakin berkurang.

“Keluhan pastinya ada, namun pengaduan sejak 2017, trennya sudah semakin turun. Saya tidak tahu apakah memang masyarakat tidak mau melapor atau memang kinerja PLN sudah semakin baik. Semoga memang pelayanan semakin baik,” ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan pesan khusus kepada PLN untuk menempatkan pelanggan sebagai asset berharga. Tanpa adanya pelanggan maka pelayanan diberikan tidak ada artinya. Maka itulah, setiap laporan dan pengaduan, sebaiknya dapat direspon dengan baik dan cepat.

Sementara Senior Manager Niaga, Pelayanan Pelanggan PLN UIW Aceh, Muhammad Munir , menyampaikan dalam rangka HPN, PLN kembali menyapa pelanggan dan stakeholders yang tersebar di seluruh Indonesia.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga hubungan baik sekaligus mengapresiasi para pelanggan serta mendengar suara dan aspirasi mereka demi meningkatkan pelayanan PLN yang lebih baik.

Adapun tema diusung pada HPN 2019 adalah ‘Senyum Pelanggan Indonesia Benderang’ kegiatan Sapa Pelanggan PLN dilaksanakan secara serentak di 12 (dua belas) lokasi oleh jajaran direksi PLN.

Termasuk pelanggan dan masyarakat yang ada di Provinsi Aceh.

Acara sapa pelanggan berlangsung hangat, selain mendengarkan suara dan keinginan para pelanggan, PLN juga memberikan tips pemanfaatan listrik yang aman. Serta penyerahan plakat dan cinderamata.

Sejumlah jajaran PLN UIW Aceh yang hadir diantaranya Senior manager SDM dan administrasi, Yoserianto, Senior Manager Distribusi, Didik Wicaksono. Manager Komunikasi T. Bahrul Halid dan Kepala UP3 Banda Aceh Eddi Saputra beserta jajaran.

Muhammad Munir menyampaikan, pada peringatan HPN 2019, PLN sengaja turun ke lapangan untuk mendengar langsung keluhan dan masukan dari pelanggan.

Termasuk dari Ombudsman dan Yapka. Karena kedua lembaga menjadi perwakilan pelanggan.

Diakuinya, PLN terus berbenah untuk memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat Aceh. Termasuk meminimalisir adanya gangguan, konduktor di Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM), seperti yang tadinya menggunakan kabel telanjang serakanbg diganti dengan kabel berbungkus.

Bahkan saat ini, PLN juga sudah punya Tim Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB). Pemeliharaan dilakukan tanpa pemadaman, mungkin kedepan jumlah tim akan ditambah. Pemeliharaan dilakukan karena memang jaringan PLN sudah tua dan harus dipelihara, pohon yang mendekati jaringan juga harus dipngkas.

“Pemeliharaan sekarang waktunya lebih singkat, yaitu 3 jam untuk pemeliharaan terencana. Kedepan kita juga sedang mengupayakan untuk membeli alat yang bisa digunakan saat kondisi menyala. Tapi alatnya cukup mahal.” Demikian ujarnya. (slm)