Petani Gelar Khanduri Blang

Sejumlah petani dari Kemukiman Beuracan dan Kemukiman Beuriweuh, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya menggelar doa bersama sebelum turun ke sawah pada musim tanam rendengan di irigasi Beuracan, Senin, (2/9).

MEUREUDU (RA) – Masyarakat Kemukiman Beuracan dan Kemukiman Beuriweuh, Kecamatan Meureudu menggelar acara khanduri blang atau kenduri turun sawah. Acara berlangsung di irigasi Beuracan, Gampong Mulieng, Kecamatan Meureudu, Senin, (2/9).

Turut dihadiri Sekda Pidie Jaya, A.Rahman Puteh, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Saiful Rasyid,M.Pd, Kabid Kebudayaan, Kabid Pengairan PU, Orizal, Camat Meureudu, Danramil Meureudu, Kapolsek Meureudu, sejumlah penyuluh pertanian, dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Untuk diketahui, adat budaya khanduri blang merupakan sebuah tradisi turun temurun dilakukan sebelum turun ke sawah dan sesudah panen. Bisa dikatakan suatu ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Aceh sebelum terjun ke sawah untuk bercocok tanam.

Tradisi ini masih tetap dipertahan oleh seluruh masyarakat Pidie Jaya, khususnya Kemukiman Beuracan. Dalam melestarikannya tradisi tersebut semua pemangku jabatan dalam gampong bahkan jecamatan ikut dilibatkan dalam pelaksanaan acara khanduri dimaksud.

Ketua panitia acara, M.Yunus, kepada Rakyat Aceh mengatakan, salah satu kearifan lokal aceh, khusus Pidie Jaya yang masih eksis adalah pelaksanaan khanduri blang.

“Agar kegiatan berlangsung khidmat dan mendapatkan keberkahan, terlebih dahulu dimulai dengan berdoa bersama untuk meminta kepada Allah agar diberikan keberkahan, dijauhkan dari segala serangan hama dan penyakit lainnya”, ungkap M.Yunus.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Gapoktan Jeumpa Keumiru, Miswar, menyebutkan acara kenduri blang dilakukan pihaknya setiap hendak turun ke sawah, pihaknya bersama-sama menggelar do’a agar tanaman padi terhindar dari serangan hama dan nantinya memperoleh hasil yang melimpah, seusai berdoa pihaknya melakukan makan bersama dengan memotong satu ekor kerbau jantan dengan harga Rp32 juta.

“Khanduri tersebut juga memiliki nilai religius selain mengikat silaturrahmi sesama warga petani. Dan khanduri itu juga mengharap ridha Allah untuk melimpahkan rezeki kepada masyarakat di Kecamatan Meureudu Khususnya, umumnya masyarakat petani di aceh,”, ungkap Miswar sembari menyebutkan sejumlah petani juga ikut membahas jadwal turun ke sawah, serta beberapa hal lain menyangkut persiapan turun ke sawah.

Sementara Imum Mukim Beuracan, Tgk Syamsuddin mengatakan perlu dilakukan pelestarian terhadap kearifan lokal yang menjadi kekayaan budaya Aceh.

Terkait bidang pertanian, Imum Mukim akan terus memberikan pendampingan kepada petani sehingga tujuan dapat tercapai target tanam dan hasilnya juga nanti maksimal.

“Kita terus memberikan pendampingan kepada petani, apalagi Beuracan termasuk salah satu tempat penghasil padi yang banyak di kabupaten Pidie Jaya.” Demikian ujar Tgk Syamsuddin. (amz/slm)