Foto arial suasana kota Banda Aceh yang di selimuti kabut asap, Senin (23/9). FOTO/ABDUL HADI

BANDA ACEH (RA) – Kabut asap kiriman akibat pembakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah di Sumatera mulai menyelimuti provinsi Aceh.

Berdasarkan pantauan wartawan Rakyat Aceh di sejumlah daerah, kabut asap Senin (23/9) pagi cukup tebal. Bahkan sudah sampai ke Kota Banda Aceh. Mata hari pagi juga tidak terlihat.

Asap kiriman tersebut sangat menganggu aktivitas masyarakat karena jarak pandang menjadi terbatas hanya 1-4 kilometer.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh Zakaria Ahmad di Aceh Besar, memastikan kabut asap yang menyelimuti provinsi Aceh merupakan imbas dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di luar provinsi Aceh.

“Seluruh Aceh berdampak kabut asap. Sudah sampai ke Banda Aceh dan Sabang. Bahkan asap sudah sampai ke Simeulue,” kata Zakaria kepada Rakyat Aceh, Senin (23/9).
Zakaria memastikan kabut asap yang menyelimuti udara Aceh merupakan kiriman dari sejumlah wilayah di Sumatera yang sedang mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Sementara di Provinsi Aceh, kata Zakaria, BMKG tidak mendeteksi adanya titik panas atau hot spot.

Terakhir, pada 11 September 2019 satelit hanya mendeteksi satu titik panas. Sementara sebelumnya pada 4 September ada 11 titik panas.

Maka itulah, BMKG menyimpulkan bahwa tidak ada titik panas di Aceh. Asap menyelimuti udara adalah asap kiriman berasal dari luar Aceh. Untuk itulah, dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk mengenakan masker saat keluar ruangan. Begitu juga saat mengendarai sepeda motor dan kendaraan terbuka seperti bus dan truk.

Lebih lanjut Zakaria menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini memang tidak menentu karena dalam masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. BMKG memperkirakan bahwa musim hujan akan datang beberapa hari lagi. Dia minta masyarakat mewaspadai banjir dan tanah longsor di saat musim penghujan tiba.

Kabut Asap Makin Pekat
Kabut asap semakin pekat melanda kabupaten Aceh Timur akibat karhutla. Udara yang tidak sehat ini sangat berdampak pada kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur mengimbau masyarakat tidak memperbanyak aktivitas diluar rumah, hal ini dilakukakn untuk mencegah terkena infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat tebalnya Kabut asap menyelimuti wilayah kabupaten Aceh Timur dalam beberapa hari ini.

Selain itu, untuk memperkuat daya tahan tubuh. Sahminan turut menyarankan memperbanyak komsumsi makanan bergizi, buah-buahan dan minum air putih.

“ISPA biasanya ditandai dengan sejumlah gejala, meliputi sakit kepala, demam, hidung berair atau tersumbat, batuk, sakit pada tenggorokan, badan terasa pegal atau nyeri sendi, dan sesak napas. Maka disini kita sangat butuh makanan yang bergizi dan jangan lupa memperbanyak minum air putih,” imbuh Sahminan.

Dinkes Aceh Timur bekerjasama dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) turut membagi-bagikan ribuan masker untuk masyarakat yang beraktifitas di luar rumah. Bahkan seluruh pengendara sepedamotor ikut dibagikan masker secara gratis.

Mual dan Pusing
Ditempat terpisah, beberapa warga Lhokseumawe, mengaku sudah mulai terasa pusing dan mual. “Apakah karena asap ini sehingga agak pusing kepala,” kata Fajar seorang warga yang sedang menikmati kopi dan sesekali memegang keningnya.
Pantauan Rakyat Aceh, pukul 10.30 WIB sejumlah anak sekolah pun sudah mengenakan masker . Karena asap kian terlihat dengan nyata. Hanya saja sebagian masyarakat saat diabadikan masih belum memakai masker. Padahal di sepanjang kawasan sekolah yang ada di jalan Samudera kabut asap cukup tebal.
Ditengarai, masyarakat masih menilai cuaca mendung. Sebab, dalam beberapa hari terakhir kawasan Lhokseumawe, memang turun hujan.
“Kami kira ini cuaca mendung. Apalagi, Lhokseumawe dalam beberapa hari ini kan ada hujan,” kata Ismail warga Lancang Garam sembari menyebutkan aroma asap memang belum tercium jelas.
Masyarakat Lhokseumawe berharap hujan kembali turun guna meminimalisir asap. “Kita berharap hujan akan turun lagi. Sehingga asap bisa menipis bahkan hilang sama sekali,” tambah Suardi menimpali.

Asap Hingga ke Pulau Terujung Sumatera
Kabut asap kiriman ternyata sampai ke pulau paling barat Sumatera, Sabang. Dampaknya menimbulkan kekhawatiran warga, terutama terhadap perubahan kondisi udara dan jarak pandang yang kian berkabut.
Kepala BMKG Kota Sabang, Siswanto dalam realisenya diterima awak media, menyebutkan, dapat dipastikan kabut yang menyelimuti Pulau Sabang merupakan kabut asap kiriman.
“Untuk asal kabut asap kami memperkirakan masih merupakan asap kiriman dari musibah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi beberapa propinsi lain di Sumatera,” ujarnya.
Dikatannya, berdasarkan data pengamatan kelembaban udara secara dominan untuk saat di bawah 60 persen atau relatif kering. Jika kondisi cuaca berupa kabut, maka diindikasikan dengan kondisi kelembapan udara di atas 80 persen atau relatif basah.

Pemko Langsa Keluarkan Instruksi
Menyikapi asap kiriman yang menyelimuti ini, pemerintahan daerah setempat segera mengambil kebijakan seperti Pemko Langsa. Wakil Walikota Langsa Dr. H. Marzuki Hamid, MM menggelar rapat koordinasi guna menanggulangi hal tersebut, Senin, (23/9) di Aula Rapat Walikota Langsa. Rapat menghasilkan beberapa keputusan dituangkan menjadi instruksi Walikota Langsa, nomor : 800/2844/2019.
Instruksi Pemko Langsa yakni warga tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi bencana kabut asap, menggunakan pelidung/masker jika kegiatan di luar ruangan.
Sebagai tindak lanjut penanganan kabut asap, Pemko Langsa melalui Dinas Kesehatan Kota Langsa pada waktu yang sama membagikan masker kepada pengendara sepeda motor yang berlokasi di jalan A. yani tepat di simpang lapangan merdeka Kota Langsa.

Tunda Penerbangan
Kabut asap juga melanda Kabupaten Bener Meriah, akibatnya, Penerbangan pesawat Wings Air dari Bandara Kuala Namu medan menuju Bandara Rembele dibatalkan Senin (23/7).
“Dampak dari kabut asap ini, sangat menganggu penerbangan dan Kabut asap mengakibatkan pembatalan jadwal penerbangan di Bandara Rembele,” ungkap Iwan Mulya Humas Bandara Rembele Ketika dikonfirmasi Rakyat Aceh.
Menurutnya, jarak pandang kabut asap berdsarkan informasi dari BMKG Bener Meriah hanya sekitar 800 meter, sehingga demi keselamatan dan keamanan penumpang pihak maskapai membatalkan penerbangan.
“Jarak pandang 800 meter sangat tidak ideal untuk pesawat mendarat dan dibutukan jarak pandang 5000 meter untuk pesawat bisa mendarat” ungkap Iwan.
Sementara itu pihak maskapai Wings Air Wanda kepada Rakyat Aceh menyampaikan, jumlah penumpang yang gagal terbang hari ini dari bandara Kualanamu medan menuju bener meriah sebanyak 43 orang sedangkan penumpang dari Bandara Rembele Bener Meriah sebanyak 28 orang.
Disebutkanya, pihaknya saat ini akan mengembalikan seluruh uang tiket penumpang yang sebelumnya diseteorkan dan melakuka pemotongan sebesar 10 persen.
“Kita tidak memindahkan penumpang ke penerbangan selajutnya sebab kita tidak mengetahui sampaikapan kabut asap ini melanda,” ujarnya.
Maskapai penerbangan Wings Air juga terpaksa menunda penerbangan dari Bandar Udara Kualanamu Sumut dan bandar udara Lasikin Kabupaten Simeulue, dengan jarak pandang hanya sekitar 2.000 meter.
“Sebelum jam 12:00 WIB tadi siang, kita diberitahukan pihak pesawat Wings Air tidak terbang ke bandara Lasikin, karena gangguan asap dengan jarak pandang hanya sekitar 2.000 meter, dan status saat ini bandara Lasikin tidak close, tetap beroperasi dari pukul 07:00 WIB hingga sore hari, namun dengan kondisi ini kita tetap siaga dan waspada menunggu intruksi selanjutnya”, kata Bona Tulus F Simamora, Kepala Bandar Udara Lasikin, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (23/9).

Berbahaya, Sekolah Diliburkan
Walau kabut asap telah mengepung, namun aktivitas pendidikan di Simelue belum berkurang. Namun Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue menyebutkan akan meliburkan aktifitas sekolah apabila asap semakin parah dan mengancam kesehatan pelajar.
“Karena kondisi belum parah dan masih normal, belum kita keluarkan pengumuman libur sekolah, namun telah kita intruksikan kepada para kepala sekolah, yang meminta muridnya supaya tetap berada dirumah, setelah pulang sekolah”, kata Rasmidin, Kadisdik Kabupaten Simeulue, kepada Harian Rakyat Aceh, Senin (23/9). (tim)