Sekda Aceh: Bidan Desa Tak Nginap di Pustu Konyol

BLANGPIDIE (RA) – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah, menyebutkan bahwa, jika para bidan desa tak tinggal atau nginap di Pustu tempat ia bertugas maka sangat konyol. Oleh sebab itu, Sekda Aceh menuntut para bidan desa wajib tinggal di pustu masing-masing.

Hal tersebut diucapkan Sekda Aceh dalam pertemuan Rapat Kerja Lanjutan Percepatan Pogram Nersih, Rapi, Estetis dan Hijau (Bereh), Stunting dan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) bersama para Bidan Desa, Kapus, pihak rumah sakit dan Dinkes.

Kegiatan yang berlangsung di ruang paripurna Gedung DPRK Abdya, Sabtu (12/10) pagi juga dihadiri Bupati Akmal, Sekda Abdya para Asisten dan sejumlah SKPK setempat.

Dalam pertemuan itu, Sekda Aceh menyebutkan, petugas kesehatan bersentuhan langsung dengan manusia yang memiliki cita dan rasa. Petugas kesehatan merupakan insan-insan pilihan yang harus memiliki cita-rasa. Dokter ahli, perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya dituntut sabar, komunikatif dan memiliki cita rasa dalam menangani manusia.

“Petugas kesehatan harus selalu sabar, komunikatif dan memiliki cita rasa. Jangan gundah jika mendapat kritikan saat bertugas. Tetap bersabar, komunikasikan dengan baik dan berikanlah penjelasan dan pemahaman dengan penuh cita rasa,” katanya.

Sekda mengimbau para petugas kesehatan untuk bertugas dengan penuh simpati dan selalu melakukan identifikasi. “Oleh sebab itu, bidan desa wajib tinggal dan nginap di pustu, jika tidak maka sangat konyol. Karena bertugas di tengah masyarakat, seperti merawat kebun kelapa.

“Ada ratusan pohon berbeda yang harus dirawat dan ditangani dengan cara yang berbeda pula. Sama seperti karakter masyarakat atau pasien, penanganannya tentu harus berbeda antara satu dengan yang lain,” tuturnya.

Sekda menginstruksikan agar pegugas kesehatan terus berinovasi saat bertugas, cari dan terus cari metode termudah dalam menangani pasien. “Jangan sia-siakan pasien. Jika ada pasien darurat yang datang dan tidak membawa surat rujukan, terima saja. Bukankah lebih bahagia menyelamatkan nyawa pasien darurat, dari pada menelantarkannya dengan penuh rasa sakit, hanya karena selembar surat,” ujar Sekda.

Kemudian bagian kehamilan harus mendapat pelayanan yang super dari bidan desa. “Hanya bidan desa yang mambantunya. Oleh sebab itu jangan main-main dengan ibu hamil, jika ibu hamil meninggal maka pemimpin, Gubernur, Bupati, Camat dan Kechik akan di panggil,”tegasnya. (mag-80).

Foto: Sekda Aceh sedang kampanyekan Program Bereh, Stunting dan JKA saat berkunjung ke Abdya, Sabtu (12/10) (rahmat)