Mereka yang Jadi ‘Pejuang Kesehatan Mental’

ILUSTRASI: Orang dalam depresi atau gangguan kesehatan mental. (Learning Mind)

Jangan Ada Lagi yang Alami Salah Diagnosis

Mereka mengalami sendiri pahitnya salah diagnosis dan minimnya dukungan keluarga. Kini mereka membentuk forum berbagi, wadah dukungan, dan mengadakan festival untuk menggugah kesadaran orang tentang pentingnya kesehatan mental.

SEKARING RATRI, Jakarta, Jawa Pos

TIAP kali serangan itu datang, bicara Ade Binarko langsung ngelantur. Detak jantungnya bertambah cepat dan napasnya menjadi pendek. Bahkan bisa sampai pingsan.

Kalau sudah begitu, rumah sakit yang langsung jadi jujukan. Puluhan kali dia bolak-bolak rumah sakit. Diagnosisnya selalu sama: tak ada yang salah dengan jantungnya.

”Biasanya diagnosis saya adalah menderita gerd (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung,” kenang Ade.

Baru pada kesempatan ke-30 ke RS-lah pria yang kini berusia 40 tahun itu tahu bahwa dirinya mengalami panic disorder alias serangan panik, salah satu jenis mental illness.

Persisnya setelah dia bertemu dr Rama Giovani SpKJ, seorang psikiater yang saat itu tengah menempuh pendidikan co-assistant di salah satu rumah sakit di Jakarta. ”Dia (Rama) yang advis saya untuk konseling di psikiater,” katanya.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorong Ade membentuk komunitas SehatMental.id pada 2015. Untuk memberikan ruang dan informasi yang berkaitan dengan kesehatan mental. Maklum, bagi banyak orang, mental illness itu masih samar-samar. Sering kali disalahtanggapi sebagai penyakit fisik, seperti yang dialami Ade.

Maya Asmara juga awalnya tak sadar ketika semasa SMA dulu sudah masuk tahap depresi. Yang bermula sejak masa kecil saat dia tumbuh dalam keluarga broken home akibat perceraian kedua orang tua.

Sang mama, tutur dia, selalu bilang, jangan bikin malu ya. ”Sebagai anak kecil, ya kita berpikirnya oh emang kita malu-maluin, ya. Tanpa sadar kebahagiaan orang tua itu digantungkan ke kita,” katanya.

Baca Juga...  Ilham Permana Kukuhkan PD I AMPG Aceh

Berhasil bangkit dari genggaman depresi yang hampir membuat seluruh hidupnya hancur, pada 2018 Maya pun membuat komunitas Depression Warriors Indonesia (DWI). Melalui komunitas itu, dia ingin memberikan wadah yang dapat membantu penderita depresi agar tidak sampai jatuh terpuruk seperti dirinya.

Melalui DWI, dia membentuk support group untuk berbagi pengalaman. Juga, saling memberikan dukungan emosional bagi sesama penderita depresi.

Komunitas rutin menggelar acara Mental Health Festival setiap tahun, sejak 2016. Dalam acara tersebut, Ade berupaya menyebarkan kesadaran terkait kesehatan mental dengan cara yang menyenangkan dan bisa diterima banyak pihak.

Acaranya pun tidak sekadar bincang-bincang. Tapi, juga stand-up comedy sampai musik akustik.

Pembicaranya pun biasanya berasal dari kalangan figur publik. Mental Health Festival 2019 yang berlangsung kemarin, misalnya, menghadirkan stand-up comedian Panji Pragiwaksono, DJ Winky Wiryawan, dan influencer Ayla Dimitri.

Selain itu, selalu ada mental checkup gratis dalam festival itu. Menurut advisor Sehat Mental.id dr Zulfia Syarif, pemeriksaan kesehatan mental itu sama pentingnya dengan cek kesehatan secara rutin. ”Modelnya mengisi kuesioner pakai isian tertentu dan wawancara.

Jadi, semacam konseling sekaligus sharing,” katanya.
Dokter 40 tahun itu melanjutkan, jika ternyata terbukti membutuhkan bantuan tenaga profesional, yang bersangkutan akan disarankan untuk menemui psikolog atau psikiater. Dari kegiatan tersebut, banyak ditemukan kasus depresi yang sudah mengarah pada tindakan bunuh diri.

”Jadi, ada peserta free mental checkup ini, dia usianya 24 tahun. Dia bahkan sudah survei dari mal ke mal mana yang rooftop-nya paling sepi sehingga kalau dia ke sana gak akan ada yang perhatikan,” katanya. (jpg/min)