Menuntut Ilmu Cara Mengenal Allah

Ustaz Masrul Aidi Lc MA

MENUNTUT ilmu merupakan kewajiban bagi umat Islam. Salah satu ilmu terpenting adalah bagaimana tata cara seorang hamba dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Ibadah seseorang tidak akan diterima Allah apabila dilaksanakan tidak sesuai dengan tata cara yang benar.

Demikian penyampaian Ustaz Masrul Aidi Lc MA dalam pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Warung Kupi Rumoh Aceh, Jeulingke, Banda Aceh, Selasa malam (15/10). “Metode mendidik seseorang dalam menuntut ilmu agama kemampuan orang tersebut dalam mengimplementasikan ilmunya.

Karena itu, harus digunakan metode yang tepat,” ungkapnya dalam pengajian yang dimoderatori Badaruddin, M.Si, Staf Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aceh.

Ia mencontohkan metode pengajaran Alquran dan belajar agama menggunakan kitab arab jawi. Zaman dulu Alquran diajarkan menggunakan metode Al-Baghdadi dengan pengajian huruf hijaiyah dan juz ama. Metode ini juga dikenal dengan metode alif, ba, ta. Sayangnya, pengajaran metode Al-Baghdadi dan pengunaan kitab arab jawi dalam pendidikan agama semakin pudar di Aceh. Padahal, metode tersebut merupakan warisan dan budaya.

Di sisi lain, keberkahan ilmu sangat bergantung kepada keikhlasan pendidiknya. Ulama pengarang kitab zaman dulu mengarang kitab penuh keikhlasan demi menyebarkan dakwah tanpa mengharapkan royalti dari kitab karangannya.

Bahkan ada di antara mereka tidak mencantumkan nama dalam kitabnya. “Ilmu itu sesuai keikhlasan gurunya. Mengapa di dayah berkah, karena keikhlasan gurunya,” paparnya.

Ia menambahkan, melalui ilmu juga seorang hamba bisa mengenal Allah serta mengimani sifat-sifatnya. Iman tersebut dibagikan menjadi dua yakni iman mujmal dan iman mufasal.

Iman mujmal dapat diasah salah satunya dengan mentadabburi ayat-ayat Alquran dan hadist. Rasulullah menyatakan bahwa umatnya tidak akan tersesat apabila berpegang kepada dua hal tersebut.

Namun demikian, seseorang memerlukan guru mempelajarinya karena membutuhkan ilmu pengetahuan lainnya agar bisa memahami makna dalam Alquran serta hadis.

Sementara iman mufasal maknanya lebih terperinci, yakni mentadabburi sifat-sifat Allah, mempelajari akhlak Rasulullah, mensyukuri nikmat Allah, berupaya menjadi pribadi yang ihsan dan lainnya. Ihsan bermakna apabila seseorang beribadah maka seolah-olah ia melihat Allah, jika tidak mampu, maka ia meyakini bahwa Allah melihatnya.

Rukun iman mujmal terbagi dua. Pertama, mempercayai Allah dan firman-Nya. Kedua, mempercayai Rasulullah dengan sabdanya. Sementara iman mufasal terdiri atas enam rukun, yaitu percaya kepada Allah, percaya kepada malaikat, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qada dan qadar.

Dijelaskan, tingkat keimanan seseorang bersifat dinamis. Ada empat tingkat iman yakni imannya para nabi yang terus naik, iman seseorang yang naik turun, iman para malaikat yang stabil, dan iman orang munafik yang terus turun.

Iamenuturkan, darihadis yang diriwatkan Muslim,” Dari Umar bin Al-Khattab r.a., ia berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah saw.

tiba-tiba muncullah seorang laki-laki berpakaian putih dan rambutnya hitam kelam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya.

Lalu duduklah ia di hadapan Nabi, lalu kedua lututnya disandarkan pada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah saw.

menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya.

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang iman, Nabi menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir Allah yang baik atau pun yang buruk.” Orang itu berkata, “Engkau benar.”

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang ihsan.” Nabi menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang hari Kiamat.” Nabi menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari pada yang bertanya.”

Orang itu pun berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya, Nabi menjawab, “Jika budak perempuan telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang-orang yang tak beralas kaki, tanpa memakai baju, miskin, dan pekerjaannya menggembala kambing, telah berlomba-lomba mendirikan bangunan yang megah.”

Kemudian orang itu pergi, aku pun terdiam. Beberapa saat kemudian Nabi berkata kepadaku “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya tadi?.” Aku menjawab, “Allah dan Rasul Nya yang lebih mengetahui.” Nabi berkata, “Dia adalah malaikat Jibril. Ia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.”